Posted in Rupa-rupa

Anak-anak Sejuta Bintang

“..Hayo, coba tiga kali lima berapa? Kalian kelas berapa sih sekarang?”

“Kelas tiga! ..Ehm..(berpikir sejenak)… dua puluh?”

“Dua puluh?! Coba dihitung lagi, tiga kali empat kan dua belas, kalau tiga kali lima berarti dua belas ditambah tiga kan..? Nah, dua belas ditambah tiga berapa?”

“Hm.. enam belas ya, Miss?”

“…..”

Perkenalkan, inilah les-lesan Sejuta Bintang milik kakak sepupu saya, dilengkapi guru-guru perempuan yang biasa dipanggil Miss. Murid-murid Sejuta Bintang berasal dari sekolah-sekolah pinggiran daerah sekitar Dadaprejo dan Dau dengan berbagai tingkat kelas dari SD hingga SMP. Jam belajar di Sejuta Bintang dimulai dari pukul 4 sore hingga maghrib. Dan inilah saya, terserah bagaimana kalian memanggil saya, freshgraduate yang baru saja dipanggil Miss oleh anak-anak.

Disclaimer: Saya tidak tahu nama les-lesannya apa, jadi saya namakan sendiri Sejuta Bintang sesuai kisah di dalamnya.

Continue reading “Anak-anak Sejuta Bintang”

Posted in Hujan-Panas, Nippon

Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ

Jika Allah sudah berkehendak, sesulit apapun jalan di depan kita pasti bisa terlewati. Lalu, apakah kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk melewatinya? #ntms

Tulisan ini masih lanjutan dari sini.

Saya nggak pernah menyangka saya lolos dalam semua tahap seleksi beasiswa ILA empat tahun lalu dengan izin Allah. Beberapa waktu setelah  dinyatakan lolos tahap wawancara dengan pemberi beasiswa, kami langsung diminta mempersiapkan seluruh dokumen untuk melakukan pendaftaran ke universitas yang telah ditentukan. Jadilah, di tengah-tengah persiapan SBMPTN saya nyambi ngurus-ngurus dokumen beserta buntutnya. Continue reading “Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ”

Posted in Hujan-Panas

Kilas Balik: dari Tangsel ke Nagoya #1

Mumpung saya belum pulang, siapa tahu saya masih bisa ingat-ingat bagaimana saya bisa ke Jepang 😀

~~

Di sekolah SMA kami, MAN Insan Cendekia, pengenalan jurusan dan perguruan tinggi sejak awal kelas 3 atau bahkan sebelumnya itu hal yang biasa. Biasanya setiap hari Sabtu (terkadang juga hari lain) siswa kelas 3 dikumpulkan dalam aula untuk mendengarkan presentasi dari satu universitas tertentu atau lembaga penyedia beasiswa.

Waktu itu, sekitar tahun 2011 Lembaga Nan-Unggul Indonesia dari Surya Institute datang ke kampus kami mengenalkan program beasiswa Indonesia Leadership Award. Saya agak lupa bagaimana detailnya, tapi mungkin di saat yang bersamaan atau berdekatan ada juga presentasi tentang Global 30 Program (selanjutnya disebut G30) dari beberapa universitas di Jepang termasuk Nagoya University, Kyoto University, dan Tohoku University. Program ini adalah program perkuliahan dari undergraduate hingga graduate di Jepang dalam bahasa Inggris, di mana semua pelajaran juga akan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Tentu saja ini menjadi angin segar bagi para pelajar yang ingin melanjutkan studi di Jepang karena biasanya untuk bisa berkuliah jenjang sarjana di Jepang calon mahasiswa harus memiliki kemampuan bahasa Jepang yang sangat bagus.

Nah, titik temunya adalah: dengan beasiswa ILA para mahasiswa akan diberangkatkan menuju universitas-universitas penyelenggara G30. Harapan akhir dari program ini, akan ada makin banyak anak Indonesia yang bisa menempuh pendidikan yang bagus di luar negeri dan kelak membangun Indonesia dengan ilmunya.

Bagi saya yang saat itu sedang berada di kelas 3, berita ini menjadi angin segar untuk kelanjutan studi saya. Orang tua saya sendiri sangat menyarankan saya untuk mendaftar beasiswa jika ingin lanjut hingga jenjang sarjana karena keadaan finansial keluarga yang belum memungkinkan. Segera setelah mendapatkan informasi tersebut, saya segera mengabarkan kedua orang tua untuk meminta restu. Awalnya, ibuk ragu-ragu terutama karena beasiswa tersebut bertujuan ke luar negeri. Saya ingat sekali, hampir setiap akhir pekan dalam sesi telepon kami ibuk selalu menanyakan keseriusan saya. Hingga akhirnya beberapa pekan setelahnya orang tua memberikan restu, alhamdulillah.

Tahapan seleksi ILA sendiri ada waktu itu terdiri dari beberapa tahap:

1.Seleksi berkas

Meliputi rapor (saat itu rata-rata nilai minimal 75, sekarang sepertinya lebih ya), hasil tes kemampuan bahasa Inggris, dan formulir pendaftaran

2.Tes tulis berdasarkan pilihan jurusan

Waktu itu terdapat pilihan jurusan A dan B (saat ini ada beberapa pilihan lain termasuk sosial) yang terdiri dari golongan Kimia-Biologi atau Fisika-Matematika. Mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Inggris, kimia, matematika, biologi untuk golongan jurusan kimia-biologi sementara golongan jurusan Fisika-Matematika mapel biologi diganti dengan fisika.

Waktu itu seleksi tulis diadakan di kampus sekolah kami. Lucunya sebagian besar pesertanya ya teman-teman seangkatan kami di IC semata-mata sih karena sosialisasi program ini belum tersebar luas.

3.Wawancara dengan pihak LNI dan simulasi IELTS

Bahasa yang digunakan dalam sesi wawancara adalah bahasa Inggris. Saat itu yang saya ingat pertanyaannya meliputi: mengapa kamu memilih jurusan ini? bagaimana dirimu 10 tahun lagi?

Saya ingat banget waktu itu saya bilang ingin jadi ahli ekologi nomor 1 di Indonesia, sayangnya jurusan yang saya pilih sama sekali tidak mempelajari ekologi. 😅 Beberapa waktu setelah pengumuman seleksi, saya tahu dari pengalaman teman-teman saya sepertinya jawaban “Menjadi ibu rumah tangga” bukanlah jawaban yang tepat. Untung saja semasa itu saya masih tidak ada pikiran untuk berumah tangga di masa depan. 😄

4.Pendaftaran ke perguruan tinggi tujuan

Calon mahasiswa yang lolos seleksi wawancara dengan LNI selanjutnya memasuki tahap pendaftaran ke perguruan tinggi. Saat itu kami diberi pilihan tiga universitas tujuan di Jepang: Nagoya University, Tohoku University, dan Kyoto University. Meskipun di formulir pendaftaran saya menjadikan pilihan pertama saya jurusan AMB Tohoku University dan Nagoya University. Qadarullah, pihak pemberi beasiswa menghendaki saya mengambil pilihan ke dua. Inilah yang akhirnya mendasari saya untuk melanjutkan studi ke Nagoya University.

Saya kurang tahu apakah program ILA ini saat ini masih ada/tidak. Di tahun keberangkatan saya dan teman-teman, kami mendapatkan beasiswa dari Dikti. Jadi intinya sih LNI menjadi perantara bagi para sponsor (Dikti dan mungkin sponsor BUMN atau swasta lainnya). Di tahun-tahun selanjutnya, sponsor ILA tak mulu dari Dikti, beberapa tahun terakhir ini malah jatuh ke tangan Kemenag yang sedang gencar-gencarnya mempromosikan prestasi sekolah madrasah/Islam.

Meliputi apa aja beasiswa ILA? waktu itu ada 2 jenis: full dan partial. Full termasuk biaya hidup dan tuition fee, sedangkan partial hanya tuition fee. Living allowance-nya bervariasi tergantung kota tempat univ yang kita tuju.

Jujur saja, saya mengalami ups and downs dengan beasiswa ini. Jadi suka dukanya banyaak. Apakah direkomendasikan? kalau itu mah PM saya aja ya 😁

-Kansai Airport, 1 Oktober 2016 04:54 JST

Posted in Hujan-Panas

Sabtu Terakhir di Masjid Nagoya

Hari ini saya resmi bertukar.

.

.

.

Nggak deng.

Hari ini saya resmi mengenalkan adik kelas saya dari MAN Insan Cendekia, Farah Fairuz Zahirah kepada geng ibu-ibu masjid, sekalian saya resmi pamitan pada beliau-beliau. Meski sayang sekali ada yang tidak bisa bertemu, meski saya tetep mewek aja.

Ibu-ibu masjid menyebut momen hari ini pertukaran pelajar, pasalnya saya harus pulang dan Fai harus tinggal. Dengan memperkenalkan Fai kepada geng ibu-ibu dan kegiatan masjid Nagoya, saya merasa sedikit lega. Setidaknya, saya meninggalkan adik kelas saya dengan kenalan yang insyaa Allah bisa jadi perantara Allah menjaganya selama masa studi empat tahun ke depan.

Setelah merasakan kehidupan empat tahun di Nagoya, saya sendiri merasa ngeri seandainya saya ditempatkan seorang diri seperti Fai (tanpa teman muslimah dalam satu angkatan). Fai yang datang, saya juga yang deg-degan. Alhamdulillah, empat tahun lalu saya datang bersama beberapa teman lain, termasuk kak Icha sehingga masih ada yang mengingatkan saya soal jadwal sholat, tentang menjaga makan, pergaulan, mengajak diskusi soal permasalahan ibadah/ilmu agama, dll. Benar-benar tak terbayang, apa jadinya kalau saya terseret arus pergaulan? Apa jadinya kalau kak Ndari nggak mengenalkan saya pada komunitas muslimah di masjid?

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat.

.

.

Selamat berjuang, Fai. Kamu nggak perlu ‘bertukar’ menjadi aku, karena kamu adalah kamu. Selamat meneruskan perjuangan. Selamat menebar kebaikan, semoga penjagaan Allah senantiasa membersamaimu.

Posted in Hujan-Panas

Paspor yang Hilang

Seorang polisi tiba-tiba menghampiri adik kelas saya dan ibunya yang baru saja sampai di Nagoya. Polisi itu meminta paspor dan alien card mereka sembari mewawancarai. Saya yang saat itu bertugas menjemput mereka merasa kesal, pasalnya selama ini saya sering mendengar cerita tidak menyenangkan yang dialami kakak-kakak senior. Lagipula saat itu juga saya sedang buru-buru. Jadilah saya pasang muka jutek bin mangkel, kebiasaan saya yang sulit dihilangkan ketika tidak menyukai sesuatu.

Setelah beberapa menit bertanya tentang identitas adik kelas saya, polisi tersebut meminta saya menunjukkan alien card milik saya. Dengan pedenya saya bilang saya selalu bawa sembari mengeluarkan dompet. Weladalah setelah bongkar-bongkar isi dompet saya tidak menemukan kartu yang dimaksud. Qadarullah paspor saya pun tidak ada. Panik lah saya. Sambil mengeluarkan berbagai argumen, saya pun menunjukkan student ID saya. Saat itu saya sudah takut sekali akan dibawa ke kantor polisi. Untungnya pak polisi berbaik hati membiarkan saya dan hanya mengingatkan agar berhati-hati serta tidak lupa lagi, alhamdulillah. Tapi malunya itu loh, udah jutek nggak punya ID lagi 😣

Setelah pak polisi pergi, saya sama sekali nggak bisa tenang. Bagaimana bisa paspor dan alien card saya nggak ada di tas? Padahal selama ini saya selalu membawa dua barang keramat itu ketika bepergian. Bahkan teman-teman pun sering heran karena toh paspor tidak dibutuhkan jika sudah bawa alien card. Setelah mengantar adek kelas ke asrama, saya pulang dan mengacak-acak seisi rumah. Nggak ada juga! Rasanya shock, bingung, panik, gimana saya bisa keluar rumah kalo nggak bawa kartu identitas. Kan nggak lucu banget yah kalau saya dideportasi sekian minggu sebelum saya resmi pulang?! Sembari menenangkan diri, saya buka-buka lagi buku agenda saya, mengingat kembali di mana terakhir kali saya mengeluarkan mereka hingga saya teringat satu tempat, meski agak ragu-ragu karena sudah lebih dari seminggu sejak saya mengunjungi tempat itu.

Dengan terburu-buru, saya menuju tempat yang dimaksud. Udah kokoro junbi (persiapan hati) kalau-kalau di tempat itu nggak ada. Alhamdulillah ternyata masih ada, disimpan rapih oleh mas-masnya :”)

Dalam perjalanan pulang saya gembira bukan main sambil merutuk kebodohan diri sendiri. Gimana ceritanya saya meninggalkan paspor dan alien card di convenience store?! Inilah yang terjadi jika kamu adalah pelupa, terutama soal barang-barang bawaan.

Bukannya nggak berusaha ya, saya berusaha, Mak. Saking seringnya saya meninggalkan barang di mana-mana, saya sampai harus memberi label nama dan email pada hampir semua barang-barang saya yang sering dibawa bepergian/ke kampus. Harapan saya sih kalau tertinggal ada orang lain yang notice/berusaha memanggil nama saya. Macam anak SD saja kan? Sudah diberi label nama pun masih sering terlupa (terutama payung dan pena!!). Saya juga sudah berusaha selalu meletakkan semua barang pada posisi yang sama dalam tas ransel tercinta, misalnya payung dan/atau wifi pocket di kantong 1, dompet di kantong 2, agenda di kantong 3, dsb. Trik terakhir lumayan efektif, setidaknya saya bisa cepat sadar jika ada barang yang hilang. Tapi menjadi sangat bermasalah begitu saya menggunakan tas lain. Bubar, bubar!

Di akhir hari, saya merasa bersyukur banget dicegat pak polisi di bandara. Coba pagi harinya Allah nggak mempertemukan kami, saya pasti nggak akan pernah ingat kalau paspor saya ketinggalan mungkin sampai beberapa waktu sebelum saya mengurus administrasi sesuatu. Alhamdulillah alhamdulillah.. Rasanya pengen banget ketemu pak polisinya lagi dan nunjukkin kalo saya orang asing yang baik-baik dan punya dokumen keramat 😂

n-residentcard-a-20150326
Ilustrasi alien card Jepang. Source: dari sini

*alien card: sebutan lain residence card bagi orang asing di Jepang

Jangan Iri

Jangan iri, bisa jadi apa yang ia miliki itu ganti atas apa yang diambil darinya. Kamu tidak tahu ‘kan?

Dan bisa jadi, apa yang kamu miliki itu tidak dimilikinya. Kamu memiliki rezekimu, ia punya rezekinya. Semua sudah ada bagiannya. Tuhan itu adil. Meski mungkin terkadang adilnya tak sesimpel logika manusia. Kamu tak percaya?