Posted in Hujan-Panas

Jangan Jauhi Kami

Bagaimana sih rasanya ketika kamu merasa nggak salah apa-apa tapi tiba-tiba dijauhi? Atau tiba-tiba jadi bahan gosipan di belakang? Atau tanpa peringatan tiba-tiba ‘disembur’ kemarahan seseorang?

Rasanya tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. 

Kadang aku menggerutu, merasa orang-orang yang dianugerahi kepekaan dan kelembutan hati yang dengan mudahnya paham kalau tingkah lakunya tidak disukai orang itu amat beruntung. Beruntunglah mereka, yang segera paham dan ‘klik’ dengan perubahan sikap lingkungan sekitar ketika ia melakukan kesalahan. Dan apa aku, kami, harus mengatakan kalau kami kurang beruntung karena tidak sepeka itu? Sering tidak sadar kalau orang-orang sudah berubah kesal. Hmm.

Sayangnya, seringkali kutemui orang-orang yang malah menjauhi alih-alih menasihati kalau-kalau kami-kami ini salah. Atau yang tiba-tiba ngejudge dan berlaku sinis, bahkan ngegosip di belakang. Ujung-ujungnya, terasa menyakitkan karena kami mendengar kebencian mereka akan kesalahan kami lewat orang kesekian. 

Duh pleaseee, jangan jauhi kalau ada sikapku yang kamu nggak suka. Bisa jadi aku ini terlampau tidak peka dengan perubahan mimik mukamu. Jangan jauhi kami kalau kami berbuat dosa, nasihati kami, empat mata, barangkali kami sedang alpa. 

Kalau kita memang benar berteman, ya.


Allahumma shayyiban nafi’an, Jogja sedang diguyur hujan 🙂

Advertisements
Posted in Hujan-Panas

Hai Jogja.

​nggak salah memang, saya bisa belajar banyak (walaupun progressnya lambat) dari merantau. ketemu sama orang-orang baru dengan karakter beda-beda, saya jadi harus rajin latihan memberikan kalimat perkenalan, latihan mikir topik obrolan yang nggak mengarah ke kepo. saya yang pemalu (iya po?) jadi harus mupuk rasa percaya diri sering sering biar nggak kesasar, nggak jajan kemahalan, atau malah mati gaya karena gak tau harus ke mana sama siapa dan ngapain.

.
di perantauan yang entah berapa lama kali ini pun saya jadi belajar banyak hal lagi, jadi bisa merasakan macam-macam rasa lagi. nano-nano. ketemu teman lama yang lama nggak ketemu, menyenangkan meskipun aslinya canggung, aneh; tinggal di tempat yang belum terbayang sebelumnya; benar-benar jadi anak kosan yang antara pasrah dan kepikiran ntar makan atau gak makan; melihat dengan mata kepala sendiri sebagian wujud penelitian sains di negara sendiri; terjebak galau antara sungkan dan butuh..banyak lah. intinya, hidup saya jadi nggak statis. jadi lebih banyak diingetin buat sabar dan syukur juga (praktiknya sih..hemmm). alhamdulillah

.
dan soal tempat tinggal..walaupun saya agak rewel soal privasi dan lebih sering pengen punya space sendiri (kadang suka bad mood kalo kudu tinggal lama di tempat minim privasi) pada kenyataannya saya malah nggak terlalu happy dengan kosan yang super sepi ini.

 
alhamdulillah masih bisa gangguin orang rumah, nelpon-nelpon, mendengar mereka mengkhawatirkan yang sebenarnya gak perlu dikhawatirkan. walaupun, kalau kelamaan jadi bingung juga mau ngomong apa.

.
alhamdulillah masih ada temen-temen yang suka ngajak main, antar-jemput, walaupun jarang banget pake planning (dan saya harus beradaptasi dengan gaya begitu).

.
alhamdulillah masih ada lepi yang bisa dipakai nyetel murottal biar nggak sunyi-sunyi ngeri, bikin adem hati lagi.

.
mungkin ya yang perlu saya cari tahu sekarang – sebagaimana ketika ada di tempat rantauan yang dulu – kenapa Allah menempatkan saya di tempat kayak gini? 

.
semoga sih yang kali ini berapapun durasinya bisa jadi bagian dari kenangan stres-stres-ngangenin.

.

.

.

.
jogja, ternyata udah akhir tahun 2016.

.

.

.

.

.

*random yang kepanjangan

*rantau mengajarkanmu banyak hal

*sabtubersamannisa

*setahun lalu daurah tokyo

*mood swing membunuhmu

Posted in Tuna Wisma

Selalu Salah, Selalu Kurang

Mungkin, mungkin aja ya kalau ayam di belakang rumah bisa ngomong, kalau hape di tangan bisa protes, kalau laptop bisa nyindir, mereka bakal kompak bilang, “Kamu tuh maunya kok nggak habis-habis sih.”

Iya, nggak habis-habis. Banyak komplain sedikit syukurnya. Dikasih kuliah sarjana eh di tengah-tengah ngeluh lelah maunya nikah. 

Dikasih merantau yang kata orang “seru bangeet ya bisa..(you know lah)..” maunya pulang aja cuma gara-gara gak ada emak dan makanannya kurang enak. 

Dikasih pulang selamat penuh sambutan suka cita akhir-akhirnya masih ngerasa kurang juga, ngerasa salah lihat teman lain sudah S2, bahkan ada yang ke luar negeri pula sementara diri sendiri malah pilih pulang kampung yang belum jelas nasibnya.

Dikasih ketemu emak dan makanan enak setiap hari masih juga salah, entah apalagi salahnya kali ini.

Selalu aja kurang, selalu aja salah. Selalu aja, syukurnya kurang. Selalu aja ngerasa perlu mengalahkan si anu atau melebihi si itu. Sampai lupa, diri sendiri sedari kemarin atau kemarin kemarin belum dikalahkan juga. Hah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kamu pasti ngerti, bahwa waktu luang itu pedang. (Nggak nyambung sama tulisan utamanya ya)

Posted in Tuna Wisma

Mata yang Jelalatan

Nyatanya – semakin nyata ketika berkurang kesibukan – menundukkan pandangan itu nggak cuma terhadap lawan jenis yang berpotensi menebar ketertarikan di dada. 

Tapi juga, pada isi kresek punya tetangga, pada busana necis milik saudara, pada…feeds bertabur suasana musim dingin negara empat musim, makanan (kelihatan) enak yang dipotret a la bird eye view, atau semacamnya. 

Ternyata, tukang quote di media sosial nggak bohong. Teman duduk terbaik adalah buku. Bukan Instagram, Path, atau Facebook. Setidaknya, untuk pemilik hati-hati yang takut membawa angan panjang, iri, dan dengki ketika mati.

Mungkin terlalu lebay kalau judulnya jelalatan. tapi ya sudahlah 😀



Ternyata, saya belum bisa jadi peserta ODOP maupun ODO-ODO yang lain. Betapa bahagianya orang-orang yang konsisten dalam kebaikan :’)

Posted in Rupa-rupa

Anak-anak Sejuta Bintang

“..Hayo, coba tiga kali lima berapa? Kalian kelas berapa sih sekarang?”

“Kelas tiga! ..Ehm..(berpikir sejenak)… dua puluh?”

“Dua puluh?! Coba dihitung lagi, tiga kali empat kan dua belas, kalau tiga kali lima berarti dua belas ditambah tiga kan..? Nah, dua belas ditambah tiga berapa?”

“Hm.. enam belas ya, Miss?”

“…..”

Perkenalkan, inilah les-lesan Sejuta Bintang milik kakak sepupu saya, dilengkapi guru-guru perempuan yang biasa dipanggil Miss. Murid-murid Sejuta Bintang berasal dari sekolah-sekolah pinggiran daerah sekitar Dadaprejo dan Dau dengan berbagai tingkat kelas dari SD hingga SMP. Jam belajar di Sejuta Bintang dimulai dari pukul 4 sore hingga maghrib. Dan inilah saya, terserah bagaimana kalian memanggil saya, freshgraduate yang baru saja dipanggil Miss oleh anak-anak.

Disclaimer: Saya tidak tahu nama les-lesannya apa, jadi saya namakan sendiri Sejuta Bintang sesuai kisah di dalamnya.

Continue reading “Anak-anak Sejuta Bintang”

Posted in Hujan-Panas, Nippon

Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ

Jika Allah sudah berkehendak, sesulit apapun jalan di depan kita pasti bisa terlewati. Lalu, apakah kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk melewatinya? #ntms

Tulisan ini masih lanjutan dari sini.

Saya nggak pernah menyangka saya lolos dalam semua tahap seleksi beasiswa ILA empat tahun lalu dengan izin Allah. Beberapa waktu setelah  dinyatakan lolos tahap wawancara dengan pemberi beasiswa, kami langsung diminta mempersiapkan seluruh dokumen untuk melakukan pendaftaran ke universitas yang telah ditentukan. Jadilah, di tengah-tengah persiapan SBMPTN saya nyambi ngurus-ngurus dokumen beserta buntutnya. Continue reading “Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ”

Posted in Hujan-Panas

Kilas Balik: dari Tangsel ke Nagoya #1

Mumpung saya belum pulang, siapa tahu saya masih bisa ingat-ingat bagaimana saya bisa ke Jepang 😀

~~

Di sekolah SMA kami, MAN Insan Cendekia, pengenalan jurusan dan perguruan tinggi sejak awal kelas 3 atau bahkan sebelumnya itu hal yang biasa. Biasanya setiap hari Sabtu (terkadang juga hari lain) siswa kelas 3 dikumpulkan dalam aula untuk mendengarkan presentasi dari satu universitas tertentu atau lembaga penyedia beasiswa.

Waktu itu, sekitar tahun 2011 Lembaga Nan-Unggul Indonesia dari Surya Institute datang ke kampus kami mengenalkan program beasiswa Indonesia Leadership Award. Saya agak lupa bagaimana detailnya, tapi mungkin di saat yang bersamaan atau berdekatan ada juga presentasi tentang Global 30 Program (selanjutnya disebut G30) dari beberapa universitas di Jepang termasuk Nagoya University, Kyoto University, dan Tohoku University. Program ini adalah program perkuliahan dari undergraduate hingga graduate di Jepang dalam bahasa Inggris, di mana semua pelajaran juga akan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Tentu saja ini menjadi angin segar bagi para pelajar yang ingin melanjutkan studi di Jepang karena biasanya untuk bisa berkuliah jenjang sarjana di Jepang calon mahasiswa harus memiliki kemampuan bahasa Jepang yang sangat bagus.

Nah, titik temunya adalah: dengan beasiswa ILA para mahasiswa akan diberangkatkan menuju universitas-universitas penyelenggara G30. Harapan akhir dari program ini, akan ada makin banyak anak Indonesia yang bisa menempuh pendidikan yang bagus di luar negeri dan kelak membangun Indonesia dengan ilmunya.

Bagi saya yang saat itu sedang berada di kelas 3, berita ini menjadi angin segar untuk kelanjutan studi saya. Orang tua saya sendiri sangat menyarankan saya untuk mendaftar beasiswa jika ingin lanjut hingga jenjang sarjana karena keadaan finansial keluarga yang belum memungkinkan. Segera setelah mendapatkan informasi tersebut, saya segera mengabarkan kedua orang tua untuk meminta restu. Awalnya, ibuk ragu-ragu terutama karena beasiswa tersebut bertujuan ke luar negeri. Saya ingat sekali, hampir setiap akhir pekan dalam sesi telepon kami ibuk selalu menanyakan keseriusan saya. Hingga akhirnya beberapa pekan setelahnya orang tua memberikan restu, alhamdulillah.

Tahapan seleksi ILA sendiri ada waktu itu terdiri dari beberapa tahap:

1.Seleksi berkas

Meliputi rapor (saat itu rata-rata nilai minimal 75, sekarang sepertinya lebih ya), hasil tes kemampuan bahasa Inggris, dan formulir pendaftaran

2.Tes tulis berdasarkan pilihan jurusan

Waktu itu terdapat pilihan jurusan A dan B (saat ini ada beberapa pilihan lain termasuk sosial) yang terdiri dari golongan Kimia-Biologi atau Fisika-Matematika. Mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Inggris, kimia, matematika, biologi untuk golongan jurusan kimia-biologi sementara golongan jurusan Fisika-Matematika mapel biologi diganti dengan fisika.

Waktu itu seleksi tulis diadakan di kampus sekolah kami. Lucunya sebagian besar pesertanya ya teman-teman seangkatan kami di IC semata-mata sih karena sosialisasi program ini belum tersebar luas.

3.Wawancara dengan pihak LNI dan simulasi IELTS

Bahasa yang digunakan dalam sesi wawancara adalah bahasa Inggris. Saat itu yang saya ingat pertanyaannya meliputi: mengapa kamu memilih jurusan ini? bagaimana dirimu 10 tahun lagi?

Saya ingat banget waktu itu saya bilang ingin jadi ahli ekologi nomor 1 di Indonesia, sayangnya jurusan yang saya pilih sama sekali tidak mempelajari ekologi. 😅 Beberapa waktu setelah pengumuman seleksi, saya tahu dari pengalaman teman-teman saya sepertinya jawaban “Menjadi ibu rumah tangga” bukanlah jawaban yang tepat. Untung saja semasa itu saya masih tidak ada pikiran untuk berumah tangga di masa depan. 😄

4.Pendaftaran ke perguruan tinggi tujuan

Calon mahasiswa yang lolos seleksi wawancara dengan LNI selanjutnya memasuki tahap pendaftaran ke perguruan tinggi. Saat itu kami diberi pilihan tiga universitas tujuan di Jepang: Nagoya University, Tohoku University, dan Kyoto University. Meskipun di formulir pendaftaran saya menjadikan pilihan pertama saya jurusan AMB Tohoku University dan Nagoya University. Qadarullah, pihak pemberi beasiswa menghendaki saya mengambil pilihan ke dua. Inilah yang akhirnya mendasari saya untuk melanjutkan studi ke Nagoya University.

Saya kurang tahu apakah program ILA ini saat ini masih ada/tidak. Di tahun keberangkatan saya dan teman-teman, kami mendapatkan beasiswa dari Dikti. Jadi intinya sih LNI menjadi perantara bagi para sponsor (Dikti dan mungkin sponsor BUMN atau swasta lainnya). Di tahun-tahun selanjutnya, sponsor ILA tak mulu dari Dikti, beberapa tahun terakhir ini malah jatuh ke tangan Kemenag yang sedang gencar-gencarnya mempromosikan prestasi sekolah madrasah/Islam.

Meliputi apa aja beasiswa ILA? waktu itu ada 2 jenis: full dan partial. Full termasuk biaya hidup dan tuition fee, sedangkan partial hanya tuition fee. Living allowance-nya bervariasi tergantung kota tempat univ yang kita tuju.

Jujur saja, saya mengalami ups and downs dengan beasiswa ini. Jadi suka dukanya banyaak. Apakah direkomendasikan? kalau itu mah PM saya aja ya 😁

-Kansai Airport, 1 Oktober 2016 04:54 JST