Posted in Tuna Wisma

Tanya: Tentang Sifat Bawaan dan Kebiasaan

Pernah nggak sih lo ngerasa pengen banget sehariiii aja ‘cerai’ sama sifat buruk yang katanya bawaan lo? Atau kebiasaan buruk yang demi Allah lo pengen itu pergi jauh-jauh?

Sifat-sifat yang entah turunan dari bapak atau emak, atau hasil didikan lingkungan, atau entah dari mana. Sifat-sifat yang dengan susah payah lo tanggalin, yang berhasil lo kerangkeng selama di perantauan, tapi langsung bebas keluar begitu lo nyampe lagi ke habitat lo, rumah lo. Sifat dan kebiasaan yang gw sendiri suka bilang ‘monster’. Monster-monster yang suka bikin gw kesel karena keluarnya nggak terkendali. Bahkan, bikin gw frustasi sampai betah nggak keluar kamar, demi agar nggak nyakitin hati siapapun. Yang bikin gw sering bertanya-tany: Hei monster, bisa nggak sih kita gak usah balikan lagi, please?

.

.

.

Monster-monster itu bikin gw mau gak mau sadar, bahwa kita ini makhluk yang lemah sekali. Lemah sekali, tapi ngerasa kuat. Ngeselin banget kan? Gimana gak lemah, ngilangin kebiasaan ngomong gak pake tensi aja kesusahan? Padahal itu rupanya abstrak, kayak remeh tapi gak remeh gitu.

Dan lagi-lagi, harusnya makhluk lemah kudu tahu diri. Kalau satu-satunya yang bisa bikin dia ngubah monster-monster itu biar jadi unyu kayak di Monster.Inc cuma Allah, Yang Berkuasa atas Segala Sesuatu.

Semoga gw dan kalian dimudahkan Allah untuk berdoa dan berusaha menjinakkan monster kita sendiri-sendiri. Gw sendiri udah lelah dikalahin sama monster-monster ini.

Advertisements
Posted in Tuna Wisma

The Opener

Then know—know beyond the shadow of a doubt, know in your heart of hearts—that when you trust Allah and walk forward, He will open a more beautiful door for you.

“A Temporary Gift: Reflections on Love, Loss, and Healing” by Asmaa Hussein Continue reading “The Opener”

Posted in Tuna Wisma

Selalu Salah, Selalu Kurang

Mungkin, mungkin aja ya kalau ayam di belakang rumah bisa ngomong, kalau hape di tangan bisa protes, kalau laptop bisa nyindir, mereka bakal kompak bilang, “Kamu tuh maunya kok nggak habis-habis sih.”

Iya, nggak habis-habis. Banyak komplain sedikit syukurnya. Dikasih kuliah sarjana eh di tengah-tengah ngeluh lelah maunya nikah. 

Dikasih merantau yang kata orang “seru bangeet ya bisa..(you know lah)..” maunya pulang aja cuma gara-gara gak ada emak dan makanannya kurang enak. 

Dikasih pulang selamat penuh sambutan suka cita akhir-akhirnya masih ngerasa kurang juga, ngerasa salah lihat teman lain sudah S2, bahkan ada yang ke luar negeri pula sementara diri sendiri malah pilih pulang kampung yang belum jelas nasibnya.

Dikasih ketemu emak dan makanan enak setiap hari masih juga salah, entah apalagi salahnya kali ini.

Selalu aja kurang, selalu aja salah. Selalu aja, syukurnya kurang. Selalu aja ngerasa perlu mengalahkan si anu atau melebihi si itu. Sampai lupa, diri sendiri sedari kemarin atau kemarin kemarin belum dikalahkan juga. Hah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kamu pasti ngerti, bahwa waktu luang itu pedang. (Nggak nyambung sama tulisan utamanya ya)

Posted in Tuna Wisma

Mata yang Jelalatan

Nyatanya – semakin nyata ketika berkurang kesibukan – menundukkan pandangan itu nggak cuma terhadap lawan jenis yang berpotensi menebar ketertarikan di dada. 

Tapi juga, pada isi kresek punya tetangga, pada busana necis milik saudara, pada…feeds bertabur suasana musim dingin negara empat musim, makanan (kelihatan) enak yang dipotret a la bird eye view, atau semacamnya. 

Ternyata, tukang quote di media sosial nggak bohong. Teman duduk terbaik adalah buku. Bukan Instagram, Path, atau Facebook. Setidaknya, untuk pemilik hati-hati yang takut membawa angan panjang, iri, dan dengki ketika mati.

Mungkin terlalu lebay kalau judulnya jelalatan. tapi ya sudahlah 😀



Ternyata, saya belum bisa jadi peserta ODOP maupun ODO-ODO yang lain. Betapa bahagianya orang-orang yang konsisten dalam kebaikan :’)

Posted in Tuna Wisma

(Soon) Sayonara Mejikuhibi!

Soon, I should let my kids go :”

I wish that I can keep them as long as I live. I wish that I can bring them to Indonesia. Haha jadi baper gini.

IMG_7689.jpg
Me-ji-ku-hi-bi pagi ini

FYI, kata teman saya yang penelitiannya menggunakan tikus, biasanya dalam pelatihan animal handling kita akan diberikan peringatan dari senseinya untuk tidak menganggap hewan penelitian itu sebagai peliharaan kita. Maksudnya, jangan sampai ada ikatan batin di antara kita dan si hewan. Karena percaya atau tidak, ikatan batin tuh menghambat eksekusi si hewan di meja operasi.

Mungkin seperti saya dan mejikuhibi kali ya.. Saya sih nggak akan pernah tega mereka digoreng. Padahal sebelum-sebelumnya saya suka curcol sama mereka.