Posted in Tuna Wisma

Selalu Salah, Selalu Kurang

Mungkin, mungkin aja ya kalau ayam di belakang rumah bisa ngomong, kalau hape di tangan bisa protes, kalau laptop bisa nyindir, mereka bakal kompak bilang, “Kamu tuh maunya kok nggak habis-habis sih.”

Iya, nggak habis-habis. Banyak komplain sedikit syukurnya. Dikasih kuliah sarjana eh di tengah-tengah ngeluh lelah maunya nikah. 

Dikasih merantau yang kata orang “seru bangeet ya bisa..(you know lah)..” maunya pulang aja cuma gara-gara gak ada emak dan makanannya kurang enak. 

Dikasih pulang selamat penuh sambutan suka cita akhir-akhirnya masih ngerasa kurang juga, ngerasa salah lihat teman lain sudah S2, bahkan ada yang ke luar negeri pula sementara diri sendiri malah pilih pulang kampung yang belum jelas nasibnya.

Dikasih ketemu emak dan makanan enak setiap hari masih juga salah, entah apalagi salahnya kali ini.

Selalu aja kurang, selalu aja salah. Selalu aja, syukurnya kurang. Selalu aja ngerasa perlu mengalahkan si anu atau melebihi si itu. Sampai lupa, diri sendiri sedari kemarin atau kemarin kemarin belum dikalahkan juga. Hah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kamu pasti ngerti, bahwa waktu luang itu pedang. (Nggak nyambung sama tulisan utamanya ya)

Advertisements
Posted in Tuna Wisma

Mata yang Jelalatan

Nyatanya – semakin nyata ketika berkurang kesibukan – menundukkan pandangan itu nggak cuma terhadap lawan jenis yang berpotensi menebar ketertarikan di dada. 

Tapi juga, pada isi kresek punya tetangga, pada busana necis milik saudara, pada…feeds bertabur suasana musim dingin negara empat musim, makanan (kelihatan) enak yang dipotret a la bird eye view, atau semacamnya. 

Ternyata, tukang quote di media sosial nggak bohong. Teman duduk terbaik adalah buku. Bukan Instagram, Path, atau Facebook. Setidaknya, untuk pemilik hati-hati yang takut membawa angan panjang, iri, dan dengki ketika mati.

Mungkin terlalu lebay kalau judulnya jelalatan. tapi ya sudahlah 😀



Ternyata, saya belum bisa jadi peserta ODOP maupun ODO-ODO yang lain. Betapa bahagianya orang-orang yang konsisten dalam kebaikan :’)

Posted in Tuna Wisma

(Soon) Sayonara Mejikuhibi!

Soon, I should let my kids go :”

I wish that I can keep them as long as I live. I wish that I can bring them to Indonesia. Haha jadi baper gini.

IMG_7689.jpg
Me-ji-ku-hi-bi pagi ini

FYI, kata teman saya yang penelitiannya menggunakan tikus, biasanya dalam pelatihan animal handling kita akan diberikan peringatan dari senseinya untuk tidak menganggap hewan penelitian itu sebagai peliharaan kita. Maksudnya, jangan sampai ada ikatan batin di antara kita dan si hewan. Karena percaya atau tidak, ikatan batin tuh menghambat eksekusi si hewan di meja operasi.

Mungkin seperti saya dan mejikuhibi kali ya.. Saya sih nggak akan pernah tega mereka digoreng. Padahal sebelum-sebelumnya saya suka curcol sama mereka.

Posted in Hujan-Panas, Tuna Wisma

Spring is in the Air, Annisa

Spring has sprung. It is in the air. Season changes here and indeed, there.

It’s spring, you enjoy sakura and mei hwa. It’s spring, and they somewhere out there, have the crocus blooms.

Suddenly, you realised that..you are just a little piece of nothing, comparing to Him who created the earth, you, and spring.

 

IMG_7592IMG_7605

IMG_7606

IMG_7658

IMG_7660

IMG_7661

IMG_7680

Who are you, dare to be arrogant, Nis?

~~~~~

 

 

[Kuis berhadiah untuk 1 orang pertama yang menjawab benar]

Ini Serius. Khusus bagi yang berada di luar Jepang.

Dari foto di atas, yang mana Mei Hwa (Jepang: Ume), yang mana Sakura? Tunjuk minimal dua foto ya (iyalah) 🙂

Posted in Tuna Wisma

[Acak] Gaun Anak-anak Perempuan

Dikirimin gambar-gambar ini sama si Mai akibat random tiba-tiba pengen googling gaun anak perempuan.

Model gaunnya sederhana tapi kawaii sekali, kan? Bisa dimodif jadi gamis dengan tinggal nambah lengan panjang aja (malu euy kelihatan). Cocok untuk anak-anak perempuan dari bayi hingga kelas 2 SD (?)

Kontras dengan sebagian besar hasil pencarian saya dengan kata kunci “gaun pesta anak muslim”. Judulnya untuk anak-anak, tapi gayanya terlalu tua. Malah anak-anak yang seharusnya imut seolah bertransformasi jadi tante-tante cilik. Belum lagi modelnya dibuat macam putri-putri dunia dongeng serta peri-peri.

~~~

Dan, langsung keep di Line.

Serasa pengen jadi anak-anak lagi.

Pengen quit kuliah aja dan ikut les menjahit (tapi, jangan percaya statement ini. Saya masih bertanggung jawab kok, hehe).

Pengen punya adik perempuan.

Pengen…(isilah titik-titik ini)… 😀

 

P.S: Muslimah (yang udah bukan anak-anak lagi) jangan sampai terinspirasi buat bikin gamis buat dipakai ke luar rumah ya. Dipakainya di rumah saja 🙂