Posted in Hujan-Panas, Nippon

Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ

Jika Allah sudah berkehendak, sesulit apapun jalan di depan kita pasti bisa terlewati. Lalu, apakah kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk melewatinya? #ntms

Tulisan ini masih lanjutan dari sini.

Saya nggak pernah menyangka saya lolos dalam semua tahap seleksi beasiswa ILA empat tahun lalu dengan izin Allah. Beberapa waktu setelah  dinyatakan lolos tahap wawancara dengan pemberi beasiswa, kami langsung diminta mempersiapkan seluruh dokumen untuk melakukan pendaftaran ke universitas yang telah ditentukan. Jadilah, di tengah-tengah persiapan SBMPTN saya nyambi ngurus-ngurus dokumen beserta buntutnya. Continue reading “Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ”

Posted in Nippon

Cinta yang Tak Bisa Bersatu di Drama Noh

Minggu, 15 Mei kemarin saya dan teman-teman pergi menonton Noh, salah satu teater tradisional tertua Jepang yang masih bertahan sampai sekarang. Kami memang sudah merencanakan menonton teater ini setelah mendapatkan info penjualan tiket Noh beberapa minggu lalu dari website Nagoya International Center.

Sekilas tentang Noh

Noh adalah sebuah drama yang berhubungan dengan ritual dalam bentuk tarian, diciptakan di pertengahan akhir periode Kamakura (1185-1333 M) dan awal periode Muromachi (1336-1573 M). Pada periode Muromachi, pertunjukkan Noh dipengaruhi oleh ajaran Zen Buddha.

Tidak seperti pertunjukkan Kabuki atau teater modern, panggung Noh didesain sangat sederhana dengan properti yang minimal. Pertunjukkan Noh diiringi oleh pemain musik dan paduan suara yang variasi suaranya pun minimal, malah banyak diselingi suara-suara mirip auman serigala (?). Berhubung kami tidak diperbolehkan merekam jalannya cerita, sedikit gambaran tentang Noh dilihat di video ini saja ya 🙂

Nah, beberapa ciri khas Noh lainnya adalah jalan ceritanya. Jalan cerita Noh sebagian besar berasal dari literatur lama dengan cerita manusia yang bertransformasi menjadi makhluk supranatural. Selain itu, tokoh orang tua, anak-anak, wanita, dan roh/hantu biasanya ditandai dengan topeng yang digunakan oleh pemainnya.

Noh yang kami tonton

Oh ya, sebelum pertunjukan utama Noh itu sendiri dimulai, kami mulanya disuguhi dengan pertunjukan kyogen yang merupakan drama komedi singkat. Karena tidak disediakan penjelasan dalam bahasa Inggris untuk kyogen-nya, kami hanya bisa mengira-ngira jalan cerita kyogen tersebut. Kira-kira sih, tentang seorang lelaki yang menggoda wanita. Setelah kyogen usai, dilanjutkan dengan istirahat 15 menit hingga Noh yang sesungguhnya dimulai.

Noh yang kami tonton waktu itu berjudul 愛と恋 (ai to koi, dua-duanya berarti “cinta” jadi saya bingung mengartikannya). Inti ceritanya tentang sepasang manusia yang tidak bisa hidup bersama. Suatu hari, si laki-laki yang merupakan keturunan darah biru berkunjung ke Kyoto. Di sana, ia bertemu dengan seorang wanita biasa dan jatuh cinta. Ia kemudian berjanji untuk menikahi si wanita sebelum kembali ke daerah asalnya. Si wanita yang juga jatuh cinta pada si lelaki pun menaruh harapan besar akan dinikahi.

Selang waktu berlalu, si lelaki tak kunjung datang juga dan sepertinya lupa kan janjinya. Maka dengan tekad bulat si perempuan berangkat ke tempat si lelaki. Alangkah malangnya, si lelaki tak berada di tempat saat itu. Si perempuan hanya ditemui oleh orang tua dan keluarga si lelaki yang tak suka dengan kedatangannya. Si perempuan patah hatinya. Ia pergi dan memutuskan bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya ke sungai.😧

Tak berapa lama, si lelaki kembali ke rumah. Mendapati cerita dari keluarganya, ia pun teringat akan si perempuan dan merasa sangat menyesal. Ia memutuskan untuk menyusul si perempuan, namun sayangya sudah terlambat. Si perempuan sudah mati. Dengan penuh penyesalan, si lelaki akhirnya juga membunuh dirinya. Kimono kuning yang dikenakan si perempuan menjelma menjadi bunga Ominameshi yang di masa depan hampir dipetik oleh pendeta Buddha, namun dicegah oleh seorang kakek tua. Kakek tua ini adalah penjelmaan dari ruh si lelaki yang tidak tenang dan meminta didoakan oleh sang pendeta.

Begitulah sekilas jalan cerita Noh yang kami tonton untuk pertama kali, berdasarkan penjelasan singkat dari interpreter dan hasil diskusi kami yang semuanya serba sok tahu, menebak-nebak detail cerita. Maklum, selain bahasa yang digunakan agak berbeda dengan bahasa Jepang modern (sepertinya gitu), cara bicara setiap tokoh yang disertai nada monoton (untuk lebih tahunya coba lihat video di awal) juga menyulitkan kami menangkap isi cerita secara lengkap.

Pertunjukan Noh yang berlangsung sekitar 2 jam (termasuk istirahat dan kyogen) diwarnai dengan adegan terkantuk-kantuknya para penonton. Mulai dari anak muda belia di seberang bangku, hingga kakek-nenek di depan kami. Saya sih paham banget, karena saya sendiri berjuang sekuat tenaga agar tidak tertidur selama jalannya acara. Rugi duitnya, men 😆

Fasilitas yang kami dapatkan

  1. Simple explanation in English and Japanese via wireless headset (rental free)
  2. Blanket for use during the show<<berguna buat yang insomnia dan memang ngerencanain tidur selama show 😜
  3. Chance to win a doorprize
  4. Ticket prices at Nagoya Noh Theatre:
  • Reserved seat: ¥4,100
  • Non-reserved seat: Adults ¥3,100; Students (under 26 yo) ¥2,100 (plus ¥500 if bought at the same day of the show)
  • Discount 10% for foreigners

 

 

IMG_8085
Penampakan dalam ruangan pertunjukan Noh. Lokasi reserved seat ada tepat di depan panggung.
IMG_8092
I was very lucky. Saya menang doorprize! Dapat note, alhamdulillah 😀