Posted in Jogja

Siapa Mau Jadi Petani?

Di TPQ anak-anak kelas 1-2 mulai belajar bahasa Arab beberapa profesi, di antaranya dokter, polisi, guru, pedagang, dan petani. Ketika itu saya iseng-iseng bertanya pada mereka,
“Siapa yang ingin jadi dokter?” Hampir semuanya mengangkat tangan.
“Siapa yang ingin menjadi polisi?” Beberapa mengangkat tangan, sebagian sambil berceloteh ingin jadi tentara tapi belum tahu bahasa Arabnya apa.

Continue reading “Siapa Mau Jadi Petani?”

Advertisements
Posted in Jogja

Anak-anak yang Melit Ilmu Agama

Veni: Mbak, doa berbuka itu kan yang dzahabazh zhoma-u itu kan ya mbak?

Hasna: (mencoba melafalkan doanya) Eh iya mbak, aku belum hafal. Veni tulisin dong. Masa’ nanti aku mau buka puasa nyari-nyari kamu dulu buat ngajarin doanya? Veni nih mbak..nggak mau nulisin..

Veni: Lha aku tuh gak hafal tulisannya mbak..

A: Ya udah sini mbak tulisin

Hasna: Sama Arab sama arti sama latinnya ya, mbak

A: Sek sek bentar, mbak liat tulisannya dulu ya (buka yufid.com karena diri sendiri juga ga hafal tulisan arab dan artinya hehe)

Continue reading “Anak-anak yang Melit Ilmu Agama”

Posted in Cat Warna, Jogja

Kajimu: Semoga Jarak ke Tanah Suci Kian Dekat

Selama kuliah di Jepang saya sudah sering mendapatkan info dan cerita dari para senior ttg haji dan umrah langsung dari Jepang. Ditambah perbandingannya dgn berangkat dari Indonesia: ngga pake antre, sudah termenej dgn baik, tapi minus pembimbing jadi kudu belajar dulu sendiri (katanya sih, cmiiw). Beberapa kali juga mantengin brosurnya, sambil menggumam kapan yaa bisa berangkat haji/umrah..karena salah satu syarat peserta haji perempuan dari Jepang sejak bbrp tahun terakhir lebih ketat: kudu bareng mahram/suami. Lah, saya kan udah jelas didiskualifikasi kalo gitu ^^ (etapi waktu itu blm adaniat kuat jg sih hmm)

Continue reading “Kajimu: Semoga Jarak ke Tanah Suci Kian Dekat”

Posted in Hujan-Panas, Jogja

Kisah Sedih di Hari Selasa

Cerita sedih sore ini (dan sore-sore sebelumnya)

Cerita 1

A: saya

B: anak kelas 1, sudah iqro 5 tapi masih banyak lupa huruf hijaiyah.

A: Nanti di rumah ngaji lagi ya, ada yg ngajarin kan? Nanti minta ajarin mama ya..?

B: Nggak bisa mbak, mama pulangnya jam 7 malam

A: Ooh..mama kerja di mana?

B: Di mana ya.. lupa hehe

A: Kalo ayah?

B: Ayah guru olahraga, kalo Sabtu pulangnya jam 5. Biasanya sekarang udah pulang, tapi terus nanti pergi mancing sampe jam setengah 12. Kan aku udah bobok mbak..

Cerita 2

C: anak kelas 1 SD, suliiit sekali diminta menulis. Selalu punya alasan untuk mainmain. Bahkan beberapa kali berbohong dgn menyuruh teman lainnya menuliskan untuknya lalu diakui itu sebagai tulisannya. Anak ini juga masih sulit menghafalkan surat-surat pendek.

A: Nanti di rumah minta diajarin yaa biar cepat naik jilid baru.

C: Aku tuh di rumah nggak ada yg ngajarin ngaji mbak. Aku di rumah cuma sama kakek nenek. Mereka nggak bisa ngaji, kakakku juga nggak mau ngajarin. Maunya main terus.

Bbrp waktu kemudian saya tau kalau ibunya tinggal di luar pulau, dan si anak ini pernah diejek oleh anak lain kalau dia nggak punya ibu.

Cerita 3

Di salah satu kelas anak besar ada seorang anak yg pendengarannya tdk senormal anakanak lain. Bapaknya seorang pemulung, dan si anak tsb disekolahkan di sekolah biasa. Kemungkinan, krn hal tsb si anak ini jd tidak bisa melafalkan huruf hijaiyah dgn benar, ia pun memiliki progres yg jauh lbh lambat dibanding temantemannya. Meskipun demikian, ia hanpir tak pernah absen datang TPA.

Allahu akbar..

Sudah lumrah yg namanya di sekolah, TPA, tempat les,..ada anak-anak yg ditemui bagus akademiknya, lancar ngajinya, perhatian pada guru, atau mudah dalam memahami. Dan berdampingan dgn mereka, ada anak-anak yg lambat dalam memahami, (masih) sulit diatur, susah sekali menghafal, bahkan tingkahnya aneka macam (padahal si anak ini cuma 1 macam). Maka jadilah tugas pembimbing untuk memiliki hati yg lapang, luas seluas samudera bisa gak ya dan sebisanya memberi udzur pada mereka dan memotivasi dgn berbagai cara.

Mendengar curhat anak-anak yg polos itu saya jadi merasa tertohok. Ngerasa ngga pantas aja untuk nge-judge mereka ketika mereka mulai berulah, lupa terus dgn huruf hijaiyah yg sama, dsb. Ngerasa harusnya bisa jauuuh lebih sabar kayak bu ini bu itu atau mbak ini mbak itu. Walaupun, sering gregetan banget 😦

Jadi ngerasa.. kalo memang niat membantu mereka ya harus mau melihat dari banyak sisi. Nggak cuma melihat secara zhohir kalau si anak ini bandel dsb. Bisa jadi kan dia memang mencari perhatian krn ngga ada yg merhatiin di rumah? Harus tulus ketika marah/bersikap tegas atas nama cinta, bukan karena capek semata. Harus banyak-banyak berlatih ikhlas (niat bantuin demi apa sih) dan minta bantuan Allah, karena kalo cuma mengandalkan kemampuan sendiri gak akan bisa. Dengan begitu, atas izin Allah nantinya hati si anak jd mudah condong ke pembimbing, jadi nurut, dan dimudahkan baginya memahami pelajaran, memahami agama.

Di sisi lain, saya nggak seharusnya juga ngejudge ortu mereka gimanagimana. Karena kita nggak pernah tau apa yg sesungguhnya terjadi di setiap keluarga. Bahkan si anak itu pun mungkin nggak benarbenar paham ada apa di balik kondisi keluarganya.

Pelajaran lainnya: bersyukurlah kalau masa kecil dulu ortu masih perhatian, nanya ngajinya udah sampe mana, pelanpelan dibimbing ngafal surat pendek, atau sekadar menyemangati dan mengingatkan ttg adab belajar krn beliaubeliau sendiri belum bisa ngaji. Seenggaknya, ketika dewasa ini kita udah bisa baca alqur’an dgn tajwid yg baik walaupun tetep kudu belajar lagi. Seenggaknya, kita skrg mau peduli dgn orang lain yg blm bisa bedain huruf hijaiyah. Alhamdulillahi alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat..

Sabar,sabar adalah kunci kemenangan. Semoga Allah karuniakan kesabaran utk saya dan semua yg belajar bersama (pada) anakanak.

Posted in Hujan-Panas, Jogja

Ramadhan Pertama di Indonesia

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat, kita disampaikan pada bulan Ramadhan tahun ini.

Rasanya begitu takjub ketika tarawih pertama dilaksanakan berjamaah, beramai-ramai, rame sekali! Padahal dulu lebih sering tarawih berdua atau sendiri.

Rasanya begitu bersyukur, karena hampir semua toko penjaja makanan tutup. Alhamdulillah! Padahal, selama empat tahun sering merasa ngenes karena jajanan musim panas yang begitu menggoda di tengah puasa, duh. Continue reading “Ramadhan Pertama di Indonesia”

Posted in Hujan-Panas, Jogja

Annisa dan Pengalaman Mendaftar Indonesia Mengajar (1)

 

image-56d0176181d92-default

Menjadi Pengajar Muda (sebutan bagi pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar) sudah jadi impian saya sejak lama. Sejak di tahun pertama kuliah, saya sudah bercita-cita kalau kelak pasca S1 ingin daftar Indonesia Mengajar. Fast forward ke tahun keempat kuliah, saya yang saat itu belum memikirkan untuk lanjut S2 akhirnya bertekad untuk benar-benar mendaftar sebagai Pengajar Muda. Bisa dikatakan, mendaftar Indonesia Mengajar jadi plan B saya waktu itu (plan A rahasia, tapi hampir sulit diwujudkan sih wk).

Seleksi Tahap I

Dan benar, sekitar bulan November tahun lalu akhirnya pendaftaran Indonesia Mengajar (IM) angkatan XVI secara online dibuka. Pendaftaran ini dibuka cukup lama kok, sekitar satu bulan lamanya kalau tidak salah. Saya pun mendapat informasi pembukaannya dari hasil kepo-kepo facebook page IM dan berteman dengan official account mereka di LINE. Setelah memantapkan niat dan berkonsultasi dengan alumni IM (kak Mo), akhirnya saya mantapkan diri untuk mendaftar sejak hari pertama pembukaan pendaftaran.

Tapi jangan salah. Saya nggak belum serajin itu kok hehe. Waktu itu hari pertama pembukaan saya gunakan untuk registrasi awal, lihat-lihat isi formulir dan persyaratan dokumen yang kira-kira dibutuhkan. Selain itu, saya juga mengecek soal isian (esai) yang harus diisi sebagai syarat lengkap pendaftaran. Begitu melihat bagian esai, saya langsung merasa….ini luar biasa! 😀 Saya nggak akan membocorkan pertanyaannya, tapi satu hal yang ingin saya infokan adalah: you really need to think about this seriously. Karena pertanyaan yang tim IM berikan tidak main-main, bro. Bisa dikatakan, ini pertama kalinya saya menemukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang pastinya dibuat dan dipikirkan teramat matang oleh pembuatnya.

Banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh IM untuk dijawab dalam bentuk esai membuat saya mesti berpikir ulang. Nggak mungkin semua isian formulir yang banyak itu bisa diselesaikan dalam satu hari. Jadilah, saya perlu menyicil mengisinya. Tentu saja bagian yang paling mudah (tapi tetap tidak boleh disepelekan) adalah mengisi informasi tentang data diri, dsb. Sisa waktu sehari itu saya gunakan untuk menyalin pertanyaan esai ke microsoft onenote dan mulai memikirkan jawabannya.

Qadarullah, waktu berlalu teramat cepat, namun saya masih menikmati masa-masa reverse culture shock (alias masa stres balik ke Indonesia), sehingga pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan malah terbengkalai hingga H-sekian penutupan 😅. Dan, saya baru benar-benar melengkapi formulir plus menyalin jawaban esai (sekaligus menjawab pertanyaan yang belum terjawab) di hari terakhir pendaftaran. Oke, jangan dicontoh ya. Bahkan, saya baru menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhir pendaftaran setelah mengecek akun sosmed IM (wow). Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikannya sekian puluh menit sebelum pendaftaran ditutup dengan jawaban yang sesungguhnya menurut saya nggak memuaskan. Fixed, di saat itu saya merasa saya nggak akan lolos seleksi tahap I.

Tips untuk seleksi tahap I:

  • Mantapkan niat. Kalau dari awal niat kita nggak mantap, saya yakin ke depannya dalam menjawab pertanyaan dalam esai akan sulit. Tanya lagi ke diri sendiri: apa sih tujuan daftar IM? Apa sih manfaatnya buat diri sendiri?
  • Minta izin dan doa orang tua. Ini sangat-sangat penting. Akan sangat baik jika izin sudah dikantongi sebelum melakukan pendaftaran tahap I. Tapi, bisa juga sambil jalan sambil merayu orang tua. Saya pribadi, ketika awal orang tua menolak walaupun nggak saklek, jadi saya tetep kekeuh melanjutkan pendaftaran (belajar dari pengalaman daftar-daftar yang lain sebelum ini).
  • Pelajari baik-baik syarat yang diminta, pelajari baik-baik bagian yang harus diisi. Nggak semua isi CV dituangkan ke dalam formulir. Panitia hanya meminta beberapa bagian yang kita anggap paling berarti, jadi pandai pilih-pilih saja.
  • Ingat-ingat lagi pengalaman masa lalu. Ini penting sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam esai.
  • Jujurlah dalam menjawab esai, nggak semua harus terlihat blink-blink. Bisa jadi, kamu nggak pernah kenal apa itu BEM, Himpunan, dan segala macam organisasi kemahasiswaan lain (saya banget ini mah) tapi kamu peduli pada sekitar dan punya kegiatan nyata yang kamu wujudkan. Ya sudah, pede saja menuangkan pengalaman itu. Bahkan pengalaman yang kamu anggap bukan apa-apa, asal kamu benar-benar tulus, insyaallah bisa bantu esaimu. Percayalah, nggak perlu jadi anak hits BEM kok buat daftar IM 🙂
  • Jangan overthinking dalam mengisi esai! Biarkan mengalir saja. Kalau terlalu banyak berpikir dan edit sana sini karena menurutmu esaimu kurang berkilau, malah terkesan nggak natural.
  • Berkenalanlah dengan alumni IM untuk tanya-tanya dan sharing pengalaman. Ini akan membantu sekali. Sekaligus, minta bantuan review esai jika memang yang bersangkutan berkenan.
  • Di bagian akhir formulir (atau mungkin agak tengah ya?) ada bagian orang-orang yang bisa dikontak oleh IM untuk ditanya-tanya tentang kita. Seingat saya ada dua atau tiga nama yang harus kita berikan. Selain nama, kita juga harus memberikan alamat email serta nomor telepon orang-orang tersebut. Untuk itu sebelum submit formulir seharusnya kita sudah bersiap-siap meminta izin kontak yang bersangkutan ketika memuat nama mereka dalam formulir.
  • Banyak-banyak doa dan shalat istikharah 😀

 

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya ngerasa pesimis bisa lolos seleksi tahap I. Oleh karena itulah, saya memutuskan untuk mendaftar magang pada dosen di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Sepanjang proses daftar magang dan menunggu hasil IM, saya selalu berdoa agar dipilihkan salah satu yang terbaik untuk saya (dan agama saya). Alhamdulillah, pengajuan magang saya direspon positif oleh dosen yang bersangkutan dan berangkatlah saya ke Jogja. Saya pikir oh ya sudah, mungkin memang saya nggak akan lolos IM.

Tapi kemudian..beberapa pekan setelah saya di Jogja, saya mendapatkan email dari tim rekrutmen IM yang menyatakan bahwa,..saya lolos seleksi tahap I. Saya shock, bersyukur juga sih karena ternyata formulir saya masih layak diterima 😄

Seleksi Tahap II 

Seleksi tahap II atau direct assessment (DA) ini meliputi tes potensi akademik (TPA), wawancara, tes psikologi, leaderless group discussion, dan simulasi mengajar. Dalam email pemberitahuan dari tim rekrutmen IM terdapat juga daftar nama calon peserta DA IM plus materi pelajaran yang harus disampaikan dalam simulasi mengajar.

Nah, untuk bagian ini pun saya nggak akan cerita detailnya. Tapi intinya, tes yang satu ini seru banget! Sekaligus melelahkan ya haha, karena tes dilakukan sejak pagi hingga hampir sore hari dan hanya istirahat di waktu sholat dhuhur dan makan siang. Lebih seru lagi karena di sini kita akan bertemu dengan teman-teman yang entah mengapa begitu mudah ‘klik’ dengan kita. Teman-teman yang kalau coba kenal lebih jauh mereka, kita akan merasa “Ya ampuun, gue mah apa atuh. Remah rengginag aja lewat. Hidup gue belum sebermanfaat si ituu!” Baru sampai tahap DA saja rasanya sudah dekat dan kenal lama (ehem). Pokoknya seru deh! Kita juga bisa bertemu dengan alumni-alumni IM yang membuat semakin semangat melalui segala proses menuju IM 🙂

Tips untuk seleksi tahap II:

  • Kenali diri sendiri, jadilah diri sendiri. Harus percaya diri dengan potensi yang kamu miliki, nggak perlu terlihat seperti orang yang lain yang super wow.
  • Jujur, lagi-lagi kamu harus jujur. Di sini pengujinya bukan orang sembarangan. Mereka adalah tim assessment yang sudah ahli di bidangnya.
  • Review lagi pengalaman lama yang kamu tuangkan dalam esai.
  • Review lagi dan tanya-tanya lagi ke diri sendiri kenapa dan untuk apa kamu harus daftar IM?
  • Untuk leaderless group discussion, banyak-banyak mencatat, memperhatikan teman lain saat menyampaikan pendapat, dan nggak perlu maksa buat jadi leader. Namanya juga leaderless 😀
  • Doa, doa, doa!

Segitu dulu deh. Insyaallah bersambung di tulisan berikutnya. Semoga…nggak kelamaan sampai blognya jamuran ya haha.

Semoga bermanfaat!