Posted in Cat Warna, Rupa-rupa

Membuat Komposter Pot: Cerita di Baliknya

Cerita di balik tugas komposter ini. Awalnya saya merasa ragu-ragu, apakah bisa mengerjakan atau tidak. Karena jadwal pekan-pekan pertama Ramadhan benar-benar padat, pergi pagi-pulang malam, alhamdulillah. Kapan pula saya ada waktu untuk mencari pot dan lain-lain? Continue reading “Membuat Komposter Pot: Cerita di Baliknya”

Advertisements
Posted in Cat Warna, Rupa-rupa

Membuat Komposter Pot di Rumah

Membuat komposter pot di rumahLebih tepatnya untuk saya, di kosan ya hehe.

Alhamdulillah sudah sekitar empat pekan saya bergabung di What’sApp group (selanjutnya disebut WAG) Jurnal Belajar Zero Waste yang diampu oleh bu ‘Dini’ Dian Kusuma Wardhani. Setiap pekan kami mendapatkan materi bergizi tentang belajar meminimalkan sampah dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulumnya meliputi kesadaran tentang nyampah, pengelolaan sisa bahan organik dan anorganik, bahkan nyerempet ke Konmari dan Foodprep. Continue reading “Membuat Komposter Pot di Rumah”

Posted in Rupa-rupa

Anak-anak Sejuta Bintang

“..Hayo, coba tiga kali lima berapa? Kalian kelas berapa sih sekarang?”

“Kelas tiga! ..Ehm..(berpikir sejenak)… dua puluh?”

“Dua puluh?! Coba dihitung lagi, tiga kali empat kan dua belas, kalau tiga kali lima berarti dua belas ditambah tiga kan..? Nah, dua belas ditambah tiga berapa?”

“Hm.. enam belas ya, Miss?”

“…..”

Perkenalkan, inilah les-lesan Sejuta Bintang milik kakak sepupu saya, dilengkapi guru-guru perempuan yang biasa dipanggil Miss. Murid-murid Sejuta Bintang berasal dari sekolah-sekolah pinggiran daerah sekitar Dadaprejo dan Dau dengan berbagai tingkat kelas dari SD hingga SMP. Jam belajar di Sejuta Bintang dimulai dari pukul 4 sore hingga maghrib. Dan inilah saya, terserah bagaimana kalian memanggil saya, freshgraduate yang baru saja dipanggil Miss oleh anak-anak.

Disclaimer: Saya tidak tahu nama les-lesannya apa, jadi saya namakan sendiri Sejuta Bintang sesuai kisah di dalamnya.

Continue reading “Anak-anak Sejuta Bintang”

Posted in Cat Warna, Rupa-rupa

Pesan dari Ibu Atase Pendidikan

“Jangan stres dipendam sendiri..”

“Menjaga komunikasi yang baik dengan sensei itu sangat perlu..”

Kutipan kalimat pembuka dari bu Alinda F.M Zain, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo dalam kunjungannya menengok ‘anak-anaknya’ di kampus Nagoya University. Kalimat yang juga menunjukkan sebagian respon beliau setelah mendengar beberapa kasus yang menimpa mahasiswa Indonesia di kampus kami.

Continue reading “Pesan dari Ibu Atase Pendidikan”

Posted in Cat Warna, Hujan-Panas, Rupa-rupa

Tiga Lembar Selimut

Senin, 21 Maret 2016 menjadi salah satu hari paling membahagiakan untuk saya. Mission accomplished! Proyek selembar selimut yang sudah dimulai sejak penghujung musim panas tahun lalu akhirnya selesai juga. Lama banget ya? Iya, tolong maklumlilah anak tahun ke-4 ini yang (sok) sibuk hehe.

Nah, untuk pembuatan selimut ini sebenarnya sangat sederhana. Jenis kain yang saya gunakan:

  • Kain katun motif (2 macam): motif kumbang dan motif anak-anak
  • Kain katun polos warna hijau
  • Kain untuk selimut musim dingin (digunakan sebagai inner)

Cara membuatnya juga cukup sederhana,

  1. Sebelum mulai membuat, dibantu kak Sohana, saya membuat desainnya terlebih dahulu. Termasuk ukuran dan pattern. Karena kain kumbang-kumbang memang sudah tersedia di rumah sejak lama, ukuran selimut kami sesuaikan dengan ketersediaan kain. Sisa kebutuhan kain kami beli setelah desain jadi.

    IMG_7867
    Desain awal, ukuran luar 110cm x 90cm dengan harapan bisa dipakai hingga bayi usia 1 tahun.
  2. Kain dipotong-potong sesuai ukuran pada desain. Cttn: Berhubung material utama adalah kain katun, kain dicuci terlebih dahulu sebelum dijahit. Menghindari jahitan yang tidak rapih karena kain katun umumnya akan mengkerut setelah dicuci.
  3. Kain katun disambungkan satu sama lain sesuai desain. Caranya, kedua kain ditumpuk dengan sisi luar masing-masing kain dibuat berhadapan ke bagian dalam. Kain pinggir kain kemudian dijahit lurus sesuai kebutuhan.
  4. Setelah outer selimut (bagian luar yang bermotif) siap, outer kemudian ditumpuk dengan kain inner. Cara menumpuknya sama, sisi luar selimut dihadapkan ke dalam karena nanti akan dibalik setelah selesai dijahit.
  5. Setelah pinggir kain selesai dijahit, gunting empat pojok kain membentuk segitiga. Ini berfungsi agar ketika selimut dibalik, ujung-ujungnya dapat membentuk ujung yang cantik, dan rapi.IMG_7697
  6. Oh ya, keempat sisi selimut dijahit dan biarkan sedikit space di salah satu sisi. Space kosong yang belum dijahit ini akan menjadi tempat kita membalikkan selimut, sehingga bagian luar selimut bisa terlihat (seperti membalik sisi dalam kaus begitu).
  7. Setelah selimut berhsil dibalik dan dirapikan, space yang sebelumnya belum dijahit bisa mulai ditutup.
  8. Agar lebih rapi, bagian pinggir selimut bisa dijahit ulang dengan jarak antara pinggir selimut dan jahitan menyesuaikan jahitan pada space yang terbuka tadi.
IMG_7704
Taraaa selimutnya sudah jadi! Bisa dibuat dalam 1-2 hari jika proses pengeringan setelah cuci mencuci cepat.

 

Proses pembuatan selimut ini sekitar 90 persennya saya kerjakan di studio MyBotang milik kak Sohana, saudari seiman dari Malaysia. Sebenarnya sudah sejak lama saya berangan-angan ingin belajar menjahit kepada beliau. Jahit apaa gitu. Apalagi beliau sudah terkenal di kalangan ibu-ibu tentang kepiawaiannya menjahit tas, dompet, apron, dengan pola dan desain yang sangat menarik. Qadarullah baru kesampaian mulai bulan September tahun lalu.

Dari jahit menjahit ini, saya mendapatkan tiga selimut. Dua selimut sudah jatuh ke tangan para bayi, dan satu selimut buat kenangan diri sendiri.

Semoga setelah presentasi riset akhir saya bisa belajar jahit lagi! :”

 

 

central lib. percayalah, karena bosenan itu bukan akhlak yang baik.