Posted in Cat Warna, Rupa-rupa

Membuat Komposter Pot: Cerita di Baliknya

Cerita di balik tugas komposter ini. Awalnya saya merasa ragu-ragu, apakah bisa mengerjakan atau tidak. Karena jadwal pekan-pekan pertama Ramadhan benar-benar padat, pergi pagi-pulang malam, alhamdulillah. Kapan pula saya ada waktu untuk mencari pot dan lain-lain? Sisa bahan organik saya pun sedikit, bulan Ramadhan ini per hari paling banter ya cuma enam biji kurma + kulit pepaya sedikit dan/atau ditambah kulit satu buah jeruk. Tapi, rasanya sayang jika sudah diberi tambahan ilmu tapi tidak dipraktikkan. Apalagi di kosan sangat mudah jika ingin ambil tanah dan daun-daun kering dari macam-macam jenis pohon.

Akhirnya, saya membulatkan tekad membuat komposter di hari Ahad dua pekan lalu. Potnya minta ke rewangnya bapak kosan cuma dapat satu itu pun kecil, tanah dan dedaunan ambil di kebun depan, air leri minta teman sebelah kamar (karena saya hanya masak oat). Nah, karena sisa bahan makanan saya sangat sedikit, saya tambah dengan buah belimbing wuluh yang berjatuhan di kebun depan. Selama tiga hari selanjutnya saya langsung cemplang cemplung sisa buah-buahan, tanpa sadar bahwa saya melewatkan beberapa hal..starter dan pupuk!

Saya baru sadar kesalahan persiapan komposter saya setelah baca-baca chat di WAG. Karena bingung akan diapakan lagi, saya pikir ya sudahlah tutup saya komposternya dengan plastik. Nanti disempatkan ngurus lagi sekalian mencari pot plastik yang lebih besar dan pupuk kandang. Alhamdulillah, rasa-rasanya semuanya Allah mudahkan setelah lewat satu pekan, seiring dengan rasa gusar gara-gara sisa cemilan buah saya numpuk di kulkas. Saya dapat sekresek ukuran tanggung kotoran kambing (plus bibit lidah buaya!) dari buibu di lab, gratis, barter dengan biji sayuran. Saya dapet pot ukuran besar yang harganya hanya Rp12.000 di belakang Taman Budaya setelah kepalang salah jurusan bis TransJogja (maunya ke toko pertanian Jalan Magelang malah sampai di Beringharjo wkwk). Setelah sebelumnya mencoba alternatif cari ember-ember bekas di kosan teman, minta bu rewang juga tapi qadarullah nggak dapat.

Setelah semua bahan terkumpul pun saya nggak langsung mengeksekusi. Pasalnya, saya….
takut belatung.

Konon katanya kalau bikin kompos harus mau “berteman” dengan belatung. Nah, di bayangan saya mantan calon komposter yang sudah didiamkan hampir dua pekan itu pasti penuh dengan belatung, merayap-rayap, menggeliat…Hiiyy!

Jadi, saya menunda-nunda untuk membuka plastiknya. Tapi ternyata setelah dibuka..alhamdulillah belatungnya sedikit sekali, sisa buah yang kemarin-kemarin sudah hilang, warna komposternya menjadi hitam tapi agak becek, daun-daunnya berjamur, malah ada kecambah-kecambah baru.  Inilah yang akhirnya saya jadikan campuran juga untuk komposter “beneran” saya. Kali ini, mencobanya setelah benar-benar baca materi dan hasil share bu Dini dan teman-teman di WAG.

Bismillah, semoga komposter yang ini bisa bekerja ya!

#belajarzerowaste
#kompostergerabah
#komposterpot

Advertisements

Author:

Seumur hidup pembelajar. Ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar, mendengarkan cerita, dan bereksplorasi.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s