Posted in Hujan-Panas

Annisa dan Pengalaman Mendaftar Indonesia Mengajar (2)

Sebenarnya tulisan ini sudah mengendap sejak..lama *tutup muka

Jadi, bagaimana hasil seleksi IM saya? Alhamdulillah, saya lolos salah satu tahap yang paling menentukan yaitu Direct Assessment. Menurut pihak rekrutmen IM, lolos DA artinya sudah bisa dikatakan menyelesaikan 90% tahapan menjadi Pengajar Muda (PM). Tahap selanjutnya adalah Medical Check Up (MCU) dan jika tidak ditemukan masalah kesehatan yang serius, tinggal tanda tangan kontrak. Sebelum penugasan ke daerah, PM akan diberikan pembekalan selama kurang lebih 8 pekan (seingat saya). Hingga beberapa pekan sebelum keberangkatan, kita tidak akan diberitahu ke daerah mana kita akan ditugaskan.

Sejujurnya, draft tulisan ini sudah dibuat sejak lama, sudah cukup panjang juga. Tapi setelah menimbang beberapa hal saya memutuskan untuk merombak kembali 😀

Singkat cerita, saya tidak melanjutkan proses seleksi IM yang tinggal seleksi MCU itu. Jika ditanya mengapa, saya pun agak bingung menjelaskannya karena saya yakin tak banyak orang yang akan paham dengan apa yang saya rasakan pada hari-hari pengambilan keputusan tersebut. Sungguh, saya merasa tidak bermasalah dengan kondisi rumah atau alam di pedalaman. (Saat itu) saya merasa tidak masalah jika harus jauh dari keluarga lagi selama setahun. Keputusan ini pun adalah salah satu keputusan paling berat yang pernah saya ambil.

Belajar agama vs bermanfaat di dunia

Salah satu hal utama yang membuat saya galau bukan kepalang adalah kesempatan belajar agama yang sangat mudah ditemukan di Jogja. Saya menyadari kebutuhan akan ilmu agama setelah tinggal di negara minoritas muslim selama 4 tahun. Memang benar, saat ini kajian dapat dengan mudah diakses dari mana saja via internet tapi ternyata..rasanya beda, beda sekali ketika kita bisa berada di tengah-tengah orang yang semangat belajar dan bisa melihat langsung bagaimana adab ustad/ustadzah. Waktu saya di Jogja mungkin terbatas. Jika tidak sekarang, kapan lagi saya bisa belajar? Setelah nanti lulus S2? Ketika nanti sudah berkeluarga? Bagaimana jika jatah hidup saya habis dahulu sebelum saya bisa beribadah dengan benar (karena minim ilmu)?

Di sisi lain, menjadi orang yang bermanfaat, jadi pengajar di pedalaman adalah hal yang sudah saya impikan sejak lama. Sebuah pengalaman tak ternilai yang mungkin hanya sekali terjadi. Siapa juga sih yang tidak mau melihat potret pendidikan Indonesia yang cemerlang di masa depan?

Jangan sampai jadi lilin, menerangi yang lain tetapi menghancurkan diri sendiri

Saya teringat pada kata-kata teman saya.  Apa yang dimaksud dengan menjadi lilin? Jadi, kurang lebih ini berkaitan dengan aqidah dan keimanan saya. Apakah iya, saya mampu mempertahankan aqidah saya? Saya yakin, tidak akan ada satupun orang yang berniat mempengaruhi untuk saya dengan kepercayaan/agama mereka. Tapi, apa saya yakin bisa mempertahankan batas toleransi yang diperbolehkan agama saya, dan mampu menyampaikannya pada masyarakat tanpa menyinggung mereka? Bukannya berhasil memperkenalkan agama saya, jangan-jangan malah saya yang melanggar larangan dalam agama saya, semata-mata karena takut mereka merasa saya kurang respek pada adat. Sehingga pertanyaan selanjutnya pun berputar dalam otak saya, apakah hal-hal tersebut sebanding dengan dengan so called “kebermanfaatan” yang mungkin akan saya berikan kelak pada masyarakat pedalaman Indonesia?

Sebelum masa-masa kegalauan itu saya pernah merasa sangat percaya diri. Saya merasa sombong. Bukankah saya pernah hidup di negara minoritas muslim selama 4 tahun? Bukankah itu adalah bekal yang cukup untuk saya?

Tapi saya lupa, bahwa selama 4 tahun itu juga saya selalu dibersamai teman-teman yang senantiasa mengingatkan ketika saya melenceng. Yang di antara mereka sangat mudah dijangkau. Saya juga lupa bahwa masyarakat Jepang yang saya hadapi tidaklah sama dengan masyarakat pedalaman bumi pertiwi.

Lalu, bagaimana saya bisa menjamin bahwa iman saya akan baik-baik saja?

Dan semua pertimbangan lain membuat saya makin ragu-ragu. Shalat istikharah yang saya lakukan pun hanya meninggalkan keragu-raguan. Ditambah lagi, saat itu keadaan keluarga saya sedang amat sulit dihubungi (later I knew that they were in chaos), restu orang tua hanya setengah saya dapatkan. Pada akhirnya, dengan saran dari teman yang lain saya memutuskan untuk tidak melanjutkan proses menjadi IM ini. Meninggalkan keragu-raguan.

Saya mewek di hari saya mengambil keputusan tsb hingga beberapa hari setelahnya. Saya masih menyesali keputusan saya selama beberapa pekan ke depannya. Tapi anehnya, saya merasakan ketenangan sekian bulan setelahnya karena akhirnya saya tahu ada hal-hal yang amat saya syukuri dengan tidak perginya saya.

 

 

Tulisan ini sama sekali tidak mengajak Anda (yang muslim) yang membaca untuk kemudian melakukan hal yang sama jika Anda sedang dalam proses mendaftar IM. Saya sepenuhnya yakin bahwa setiap orang punya pertimbangan sendiri-sendiri. Saya pun termasuk orang yang percaya bahwa program IM adalah program yang sangat bermanfaat baik bagi PM maupun masyarakat. Hanya kemudian dari kejadian ini saya belajar untuk tidak menjadi egois dengan hanya memikirkan mimpi saya dan enggan mempertimbangkan banyak hal.

tetap semangat menebar manfaat!

Advertisements

Author:

Seumur hidup pembelajar. Ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar, mendengarkan cerita, dan bereksplorasi.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s