Posted in Hujan-Panas

Jangan Jauhi Kami

Bagaimana sih rasanya ketika kamu merasa nggak salah apa-apa tapi tiba-tiba dijauhi? Atau tiba-tiba jadi bahan gosipan di belakang? Atau tanpa peringatan tiba-tiba ‘disembur’ kemarahan seseorang?

Rasanya tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. 

Kadang aku menggerutu, merasa orang-orang yang dianugerahi kepekaan dan kelembutan hati yang dengan mudahnya paham kalau tingkah lakunya tidak disukai orang itu amat beruntung. Beruntunglah mereka, yang segera paham dan ‘klik’ dengan perubahan sikap lingkungan sekitar ketika ia melakukan kesalahan. Dan apa aku, kami, harus mengatakan kalau kami kurang beruntung karena tidak sepeka itu? Sering tidak sadar kalau orang-orang sudah berubah kesal. Hmm.

Sayangnya, seringkali kutemui orang-orang yang malah menjauhi alih-alih menasihati kalau-kalau kami-kami ini salah. Atau yang tiba-tiba ngejudge dan berlaku sinis, bahkan ngegosip di belakang. Ujung-ujungnya, terasa menyakitkan karena kami mendengar kebencian mereka akan kesalahan kami lewat orang kesekian. 

Duh pleaseee, jangan jauhi kalau ada sikapku yang kamu nggak suka. Bisa jadi aku ini terlampau tidak peka dengan perubahan mimik mukamu. Jangan jauhi kami kalau kami berbuat dosa, nasihati kami, empat mata, barangkali kami sedang alpa. 

Kalau kita memang benar berteman, ya.


Allahumma shayyiban nafi’an, Jogja sedang diguyur hujan 🙂

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s