Posted in Hujan-Panas

Hai Jogja.

​nggak salah memang, saya bisa belajar banyak (walaupun progressnya lambat) dari merantau. ketemu sama orang-orang baru dengan karakter beda-beda, saya jadi harus rajin latihan memberikan kalimat perkenalan, latihan mikir topik obrolan yang nggak mengarah ke kepo. saya yang pemalu (iya po?) jadi harus mupuk rasa percaya diri sering sering biar nggak kesasar, nggak jajan kemahalan, atau malah mati gaya karena gak tau harus ke mana sama siapa dan ngapain.

.
di perantauan yang entah berapa lama kali ini pun saya jadi belajar banyak hal lagi, jadi bisa merasakan macam-macam rasa lagi. nano-nano. ketemu teman lama yang lama nggak ketemu, menyenangkan meskipun aslinya canggung, aneh; tinggal di tempat yang belum terbayang sebelumnya; benar-benar jadi anak kosan yang antara pasrah dan kepikiran ntar makan atau gak makan; melihat dengan mata kepala sendiri sebagian wujud penelitian sains di negara sendiri; terjebak galau antara sungkan dan butuh..banyak lah. intinya, hidup saya jadi nggak statis. jadi lebih banyak diingetin buat sabar dan syukur juga (praktiknya sih..hemmm). alhamdulillah

.
dan soal tempat tinggal..walaupun saya agak rewel soal privasi dan lebih sering pengen punya space sendiri (kadang suka bad mood kalo kudu tinggal lama di tempat minim privasi) pada kenyataannya saya malah nggak terlalu happy dengan kosan yang super sepi ini.

 
alhamdulillah masih bisa gangguin orang rumah, nelpon-nelpon, mendengar mereka mengkhawatirkan yang sebenarnya gak perlu dikhawatirkan. walaupun, kalau kelamaan jadi bingung juga mau ngomong apa.

.
alhamdulillah masih ada temen-temen yang suka ngajak main, antar-jemput, walaupun jarang banget pake planning (dan saya harus beradaptasi dengan gaya begitu).

.
alhamdulillah masih ada lepi yang bisa dipakai nyetel murottal biar nggak sunyi-sunyi ngeri, bikin adem hati lagi.

.
mungkin ya yang perlu saya cari tahu sekarang – sebagaimana ketika ada di tempat rantauan yang dulu – kenapa Allah menempatkan saya di tempat kayak gini? 

.
semoga sih yang kali ini berapapun durasinya bisa jadi bagian dari kenangan stres-stres-ngangenin.

.

.

.

.
jogja, ternyata udah akhir tahun 2016.

.

.

.

.

.

*random yang kepanjangan

*rantau mengajarkanmu banyak hal

*sabtubersamannisa

*setahun lalu daurah tokyo

*mood swing membunuhmu

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

7 thoughts on “Hai Jogja.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s