Posted in Rupa-rupa

Anak-anak Sejuta Bintang

“..Hayo, coba tiga kali lima berapa? Kalian kelas berapa sih sekarang?”

“Kelas tiga! ..Ehm..(berpikir sejenak)… dua puluh?”

“Dua puluh?! Coba dihitung lagi, tiga kali empat kan dua belas, kalau tiga kali lima berarti dua belas ditambah tiga kan..? Nah, dua belas ditambah tiga berapa?”

“Hm.. enam belas ya, Miss?”

“…..”

Perkenalkan, inilah les-lesan Sejuta Bintang milik kakak sepupu saya, dilengkapi guru-guru perempuan yang biasa dipanggil Miss. Murid-murid Sejuta Bintang berasal dari sekolah-sekolah pinggiran daerah sekitar Dadaprejo dan Dau dengan berbagai tingkat kelas dari SD hingga SMP. Jam belajar di Sejuta Bintang dimulai dari pukul 4 sore hingga maghrib. Dan inilah saya, terserah bagaimana kalian memanggil saya, freshgraduate yang baru saja dipanggil Miss oleh anak-anak.

Disclaimer: Saya tidak tahu nama les-lesannya apa, jadi saya namakan sendiri Sejuta Bintang sesuai kisah di dalamnya.

 

Begitu ditawari kakak sepupu saya untuk membantu mengajar anak-anak di tempat les-lesannya, saya langsung terbayang kelas-kelas dengan papan tulis, pelajaran demi pelajaran yang akan dibahas sistematis setiap hari, dan media pembelajaran yang banyak ragamnya. Mau tak mau sepertinya saya harus baca-baca lagi buku pelajaran SD-SMP. Tapi bayangan saya buyar sejak menit-menit pertama saya sampai di TKP. Les-lesan ini bertujuan membantu anak didiknya menyelesaikan PR dan menjawab pertanyaan tentang pelajaran yang tidak bisa dimengerti. Setiap murid bebas bertanya kepada guru kapan saja, berebutan dengan teman-temannya. Guru pun secara tidak langsung dituntut untuk bisa menanggapi banyak pertanyaan sekaligus. Tidak ada pengajaran yang sistematis. Suasananya seperti pasar minggu, ramai sekali. Belum beres saya menjawab pertanyaan satu anak, tiga yang lain berebut minta perhatian 😀

Saya sama sekali nggak masalah dihujani berbagai pertanyaan oleh adik-adik gemes itu, malah senang rasanya walaupun riweuh. Tapi, mau tak mau pikiran saya terusik juga melihat kondisi mereka. Sebagian di antara mereka telah duduk di bangku kelas 3, 4 bahkan 5 SD namun tidak hafal perkalian dan pembagian. Di antaranya malah ada yang kesulitan melakukan pengurangan dan penjumlahan dua digit (apalagi lebih dari dua digit). Setiap kali mengerjakan PR matematika, mereka harus selalu menengok tabel perkalian. Akibatnya, untuk menyelesaikan empat soal dasar tentang luas suatu bidang saja dibutuhkan waktu 1,5 jam. Lalu, bagaimana mereka bisa lulus dari ujian-ujian sekolah? Bagaimana mereka bisa naik kelas? Saya bukan emaknya, bukan juga guru sekolahnya tapi rasanya jadi khawatir bercampur penasaran luar biasa membayangkan hari-hari ujian matematika mereka.

Okelah, belum hafal perkalian hingga kelas 5 masih bisa ‘dimaklumi’. Anak-anak itu masih bisa didorong untuk belajar dan belajar. Lebih tepatnya sih agar suka belajar dan mulai peduli dengan pendidikan mereka. Karena lagi-lagi yang membuat miris, sebagian (walau kecil) dari anak-anak itu tidak peduli lagi kalau pun mereka tidak naik kelas, nggak paham yang dipelajari, atau misalnya nanti nggak jadi orang sukses di masa depan. Masih bocah-bocah banget kali ya? Jadi yang dipikirkan hanya hari ini main, besok main, dan main-main lagi. Dinasehati pun yang pandai membantah nggak sedikit 😅

Meskipun demikian, nggak sedikit juga lho di antara anak-anak Sejuta Bintang yang termasuk anak rajin, patuh, dan punya kemampuan akademis yang baik.

Setelah anak-anak pulang, di hari perdana saya ngajar, saya terlibat diskusi dengan kakak sepupu saya. Saya sharing hal-hal yang saya tahu dari pendidikan dasar di Jepang dan beliau menceritakan kondisi pendidikan di Indonesia. Kebetulan, kakak sepupu saya juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Miris mendengar cerita beliau, guru-guru SD dan TK digaji dengan nominal yang sangat sedikit, zaman sekarang cuma cukup buat beli popok bayi. Nggak sebanding dengan besarnya peran mereka sebagai salah satu peletak pondasi karakter anak-anak dan tugas-tugas pengajaran yang kadang masih dibawa pulang ke rumah (saya tahu ini juga karena kakak kandung saya seorang guru TK). Sementara itu di sekolah anak-anak dituntut untuk belajar banyak hal terutama sains tapi terlupa dengan pendidikan moral yang seharusnya dapat perhatian besar. Belum lagi fasilitas dan kualitas pendidikan yang tidak merata. Anak-anak sekolah negeri pinggiran seperti murid-murid di Sejuta Pelangi kebanyakan dapat fasilitas ‘pinggiran’ juga. Tidak seperti di Jepang yang semua sekolah dasar negeri punya fasilitas dan kualitas yang sama bagusnya.

Di sisi lain, orang tua di rumah sibuk. Eh bahkan mungkin mereka jarang punya waktu luang di rumah. Tuntutan biaya hidup (dan biaya gaya hidup) yang kian tinggi membuat mereka lebih fokus untuk mengejar nafkah daripada meluangkan waktu untuk mengajari anak-anaknya. Beres dari kerja pun banyak yang sudah beralih fokus ke urusan facebook, instagram, dll. Pendidikan anak pun tidak luput diserahkan ke bu/pak gadget. Lengkap sudah. 😦

Di Sejuta Bintang, anak-anak dititipkan orang tua mereka agar setidaknya ada yang mengawasi mereka belajar (atau at least mengerjakan PR). Alhamdulillah sudah ada beberapa anak yang mengalami kemajuan dengan belajar di sana. Dari yang awalnya hanya bisa clingak-clinguk, sekarang sudah bisa menjawab macam-macam soal dan msauk 10 besar ranking kelas salah satunya sebab diberikan pendamping tegas lagi sabar serta terpacu semangat belajar temannya. Walaupun ada juga sih anak-anak yang memang dianugerahi kemampuan belajar yang lama, sehingga kemajuannya pun berbeda dengan teman-teman lainnya.

~~

S (Saya): Pokoknya setelah ini harus hafalin perkalian ya. Minimal sampai perkalian empat. Kalau nggak dihafalin sekarang nanti gimana pas ulangan? Kan nggak dikasih lihat tabel perkalian?

A (anak-anak): Yah, kok empat miss? Sampe tiga aja yah!

S: Sampai empat. Sampai hafal. Kalau nggak hafal-hafal ya dihafalkan. Sambil mandi, satu kali satu, satu..satu kali dua, dua… Sambil main juga, ketika mau tidur.. (dalam bayangan saya, saya ingat anak-anak senior saya di Nagoya yang menghafal perkalian di kamar mandi. Mereka bahkan punya tabel perkalian anti air di kamar mandi)

A: hahahaha.. (tertawa terpingkal-pingkal). Masa sambil makan xcsdsd (menirukan orang makan sambil bicara), sambil mau bobok gitu juga?!

Sejujurnya, justru saya yang heran mengapa mereka tertawa 😩

Anyway, meskipun mereka doyan banget main dan malas belajar, atau lambat belajarnya, atau bahkan nyolot sekalipun, saya tetap berharap—sebagaimana saya meletakkan harapan pada setiap anak—bahwa kelak mereka bisa menjadi orang-orang berilmu, bermanfaat dengan caranya, memiliki derajat tinggi dunia-akhirat, dan nggak lupa berbagi cahayanya seperti bintang. Maka dari itu, saya menamakan mereka anak-anak Sejuta Bintang.☺️

 

 

#ODOP #Day2 yang terlambat sekali akibat suatu insiden heu.

Feel free to leave comments (including any suggestions)!

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

2 thoughts on “Anak-anak Sejuta Bintang

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s