Posted in Tuna Wisma

Monster Berkostum Peri

Terkadang saya berpikir, ada baiknya saya merantau terus menerus saja agar perangai-perangai buruk lebih mudah terkontrol. Perbedaan kultur, kebiasaan, dan pertemuan dengan berbagai macam orang membuat saya sadar (lebih seringnya diperingatkan) bahwa sikap-sikap tertentu tidak layak untuk dipertahankan. Mungkin, tanpa pengalaman merantau itu saya akan tetap jadi katak dalam tempurung. Sekalinya nyolot level 10, selamanya mungkin tetap level 10 (na’udzubillah min dzalik). Karena tanpa saya sadari, perilaku-perilaku itulah yang berkembang sebagai metode pertahanan diri saya terhadap lingkungan tumbuh saya yang sayangnya, salah.

Ketika kembali ke rumah, saya baru sadar bahwa ternyata tidak semua perilaku buruk telah diperbaiki secara sempurna. Lingkungan rumah yang tak banyak berubah, sikap orang-orang yang masih sama, membuat sikap yang dipenjara itu muncul kembali. Kadang saya jadi gerah dengan diri sendiri. Respon otomatis yang saya berikan di rumah ternyata berkebalikan dengan yang (dalam pikiran saya) sebaiknya dilakukan.

Dari sini akhirnya saya mengerti, mengapa cara terbaik melihat sifat sesungguhnya calon pasangan adalah dengan mengetahui sikapnya terhadap keluarganya. Ya karena dalam keluarga lah seseorang biasanya secara otomatis merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Sifat yang mungkin berusaha ditutup-tutupinya dari orang luar bisa tampak di mata keluarganya.

Kembali ke diri sendiri, sejak saat ini kita pun punya gambaran bagaimana perlakuan kita pada keluarga masa depan nanti. Saatnya berbenah, mumpung belum terlambat. Jika ternyata perlakuan pada keluarga sendiri masih belum lebih baik dibanding perlakuan pada orang lain di luar sana.

 

#ODOP #Day1

Renungan untuk diri sendiri yang masih sering berubah jadi monster di rumah.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

4 thoughts on “Monster Berkostum Peri

    1. Mungkin..karena di perantauan kita hidup sama orang lain yang mereka melihat sifat buruk yang nggak kita/keluarga kita lihat. Dan kita jg nggak mau sifat buruk itu kelihatan orang. Sementara sama keluarga, mungkin karena keluarga sudah nggak dianggap khusus lagi (?)
      Seperti ucapan terima kasih aja, kadang ada orang yg ngerasa gak perlu lg berterima kasih sama ibuk/bapak yg kasih uang jajan karena kita anggapnya mereka udah biasa dan udah harus kasih uang jajan. Begitu dikasih sama orang lain lgsg diingat terus dan dikasih makasih banyak2..
      Sedih gitu :”

      Like

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s