Posted in Hujan-Panas

Jalan Kaki

Selamat H+3 kepulangan!

Banyak banget hal yang harus diubah untuk beradaptasi. Banyak banget kebiasaan yang nggak bisa saya lakukan di rumah atau lingkungan rumah. 

Dari kemarin saya berniat membereskan barang-barang pesanan pelanggan, membungkus, memberi catatan, dll. Merasa butuh kertas pembungkus, print name card, dll, pikiran saya secara otomatis menyusun rencana pergi ke sana ke mari, jalan kaki. Tapi ternyata yang begitu cuma angan-angan saja ya. Membayangkan pergi ke tempat beli kertas, ngeprint, dan mengirim barang yang berjauhan saya pun tak sanggup rasanya. Mana kalau naik angkot pada ngetem semua. Ujung-ujungnya harus menunggu adik laki-laki saya untuk antar jemput. Lah kan saya nggak bisa naik motor  😅

Singkatnya urusan ngepak dan print name card sudah beres tadi siang setelah sedikit drama lain kemarin malam. Tadi sore saya bertekad mengirimkan barang-barang tersebut kali ini beneran jalan kaki. Karena rasanya aneh banget kalo ke mana-mana harus naik sepeda motor, bisa-bisa saya harus diet tiap hari kalo nggak jalan kaki sama sekali 😁 Toh dekat ini sekitar 500-an meter, pikir saya. Sambil membawa tas ransel dan sebuah tas tangan mirip buntelan besar saya pede aja jalan kaki ke sana. Toh biasanya juga gitu sih selama 4 tahun ke belakang.

Sepanjang perjalanan saya merasa heran karena tidak ada satu pun orang lain selain saya yang jalan kaki. Malahan, hampir setiap pengendara sepeda motor (yang sebagian besarnya masih berseragam putih-biru) melihat aneh pada saya.

Dan..sampailah saya di depan kantor JN*. Qadarullah, kantornya sudah tutup 😂 Akhirnya saya harus pulang lagi dengan tangan masih penuh. Alhamdulillah, di perjalanan saya bertemu salah satu saudara yang melihat saya iba (?) hingga akhirnya diantar pulang. Sedikit percakapan saya dengan saudara saya:

A: “Mas kok dari tadi nggak ada orang jalan kaki ya, naik sepeda (motor) semua.”

M: “Walah, hahaha. Yo wis nggak usum (zamannya), Nis. Jalan kaki ya cuman pagi hari.”

A: “Aduh, aku ngerasa jadi pemalas kalo gitu terus di sini. Harus diet dong.”

M: “Hahaha, wis, belajaro naik sepeda aja.”

 

Nggak kebayang deh naik sepeda motor. Di jalanan itu ngeriii!!! Selama dibonceng adek saja saya cerewetnya minta ampun, minta dia menurunkan kecepatan lah, pasang lampu lighting (apalah itu yang buat kasih tanda belok kanan kiri). Saya malah mikir, mungkin sebaiknya saya beli sepeda kayuh saja? pfft.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

One thought on “Jalan Kaki

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s