Posted in Nippon

Mencari Cinta di Jepang

“Cita-citamu apa?” Tanya Kondo pada kami di kereta menuju Nabana no Sato.

“Jadi CEO”

“Pengen jadi pebisnis”

“Kalo aku pengen punya sekolahan, kamu?”

“Aku pengen punya keluarga, punya istri dan punya anak.” Jawabnya sambil senyum-senyum, sementara kami terkaget-kaget dibuatnya.

“Kami juga pengen punya keluarga sih..tapi itu bukan cita-cita. Itu udah umum gitu lah.”

~~

Judul tulisan ini merupakan terjemahan dari film produksi Al-Jazeera yang saya tonton tadi pagi, “Finding Love in Japan”.

 

Film pendek tersebut menceritakan fenomena Jepang saat ini: angka pernikahan dan kelahiran anak yang menurun.

Dari keterangan dalam film disebutkan bahwa sepertiga bujangan di Jepang tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan lawan jenis. Alasannya beragam, salah satunya karena real relationship itu terlalu kompleks. Hidup saja sudah keras, kenapa mesti ditambahin ngurusin hubungan yang kompleks sih?

Salah satu orang yang berpikiran seperti itu adalah Hiroyuki Nomura yang lebih memilih mengoleksi perempuan silikon (baca: boneka silikon dari karakter anime) dibanding memiliki hubungan dengan perempuan yang sesungguhnya meski usianya sudah mencapai 51 tahun. Menurutnya, hidupnya jauh lebih berbahagia dengan boneka-bonekanya, terutama Tise si favorit, daripada dengan hidup yang sesungguhnya. Saya juga pernah dulu, membaca sebuah artikel tentang laki-laki para pecinta anime yang lebih memilih mempunyai waifu (karakter anime yang dianggap suami/istri) daripada wife/husband dalam wujud manusia beneran.

Dinner with waifu. Source: di sini

Lain halnya dengan Keigo, si komedian. Keigo sangat menyukai seorang idol yang merupakan anggota girlband. Ia rela merogoh kocek hingga USD 3,000/tahun hanya untuk membeli berbagai souvenir yang berhubungan dengan idol tersebut dan mendatangi konsernya. Baginya, standar perempuan yang cocok dicintai adalah yang setara kecantikannya, dan segalanya seperti sang idola. Berhubung hingga kini tak ada yang mampu menyamai idolanya, ya..Keigo tak tertarik untuk punya hubungan. Cukup baginya bisa bercengkerama dengan sang idola walau sebentar, rasanya membahagiakan dan jauh dari ketakutan akan penolakan. Ya, Keigo takut dengan rasa sakit gara-gara ditolak perempuan. Jika bisa hidup tanpa pernah merasakan sakit hati akibat ditolak, kenapa mesti repot jatuh cinta? *ya ampun, segitunya ><

Laki-laki seperti Keigo dan Hiroyuki biasa dijuluki sebagai sōshoku-kei danshi atau “herbivore men” oleh masyarakat Jepang karena ketidaktertarikan mereka untuk mencari pasangan. Mereka inilah yang seringkali disalahkan, dianggap sebagai penyebab menurunnya angka pernikahan dan kelahiran anak di Jepang.

Bagaimana dengan para perempuannya?

Ya, tak jauh beda. Banyak di antara para perempuan yang enggan berkomitmen. Berkomitmen, apalagi pada pernikahan berarti akan ada kemungkinan untuk memiliki anak. Jika demikian, karir harus dipertaruhkan, akan ada tambahan beban untuk diurus (mengingatkan saya pada beberapa dosen saya). Sementara sebagian yang sudah ingin berkomitmen harus menelan kekecewaan karena pasangannya merasa tak pernah siap berumah tangga dengan keadaan ekonomi yang belum sempurna.

Untuk itulah, pemerintah Jepang banyak menggelontorkan dana untuk mengadakan acara pencarian jodoh. Iklan biro jodoh juga bisa dengan mudah ditemukan di subway atau iklan facebook. Salah satu yang saya paling ingat, adalah yang memiliki jargon “membuat nol persen kemungkinan untuk tidak menikah” 🙂

Pacaran bukan karena pengen nikah

Mungkin kalimat di atas juga berlaku dengan keadaan di Indonesia ya sebenarnya? Atau di mana-mana? Entahlah, tapi yang seperti itu sepertinya lebih umum lagi di Jepang. Kalau pacaran ya jangan terlalu berharap diajak menikah atau berkomitmen terlalu jauh. Teman saya yang sering bergaul dengan orang Jepang menuturkan, banyak orang Jepang sekarang yang menganggap menikah itu hanya menambah beban, apalagi kalau mempunyai anak. Biaya hidup bertambah, harus membagi uang dengan istri, harus punya tabungan cukup untuk sekolah anak yang mahal (terutama jika ingin anak sekolah di tempat yang bagus), dst. Pada akhirnya, banyak juga yang menikah tapi lebih memilih punya hewan peliharaan daripada anak. Karena anak akan meninggalkan kita ketika mereka dewasa, sementara hewan peliharaan? Nggak kan?

~~

Walaupun sudah di Jepang hampir empat tahun dan sedikit banyak tahu masalah sosial di Jepang, saya masih merasa baru benar-benar ngeh setelah menonton video tadi. Agaknya, sekarang saya jadi tidak terlalu kaget kalau ada Kondo lain yang bilang cita-citanya sesederhana memiliki keluarga (istri dan anak).

Di Indonesia, kejadiannya malah sebaliknya ya kayaknya? Yang minta dinikahkan banyaak..yang ngebet pake banget juga banyak..

Alhamdulillah ya, masih banyak yang nggak takut patah hati (misalnya habis gagal taaruf), nggak takut menghadapi kehidupan yang keras, dan nggak takut punya anak banyak (asal bisa ngurusnya aja) 🙂

Tapi jangan-jangan fenomena takut memiliki hubungan juga terjadi di kota-kota besar dan sibuk di Indonesia?

So, what do you think about this?

 

Gambar fitur: dari sini

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

4 thoughts on “Mencari Cinta di Jepang

  1. Fenomena kayak begitu juga mulai marak di Indonesia, Annisa..
    Mungkin efek domino dr kehidupan bebas yang kebutuhan seksualitasnya tidak perlu terbingkai dlm pernikahan.

    Alhamdulillahnya, social pressure di Indonesia cukup kuat. Sebenernya seperti buah simalakama juga. Tekanan bisa bisa bikin baik, bisa bikin buruk.
    Efek jeleknya (terutama bagi saya) kegalauan belum menikah jadi meningkat 😅

    Like

    1. Ahaha, jadi curcol ya kak 😀 Semoga disegerakan yaa ^^
      I see.. iya sih ya, di sini mau belum nikah juga orang bodo amat. Malah ngga sopan banget nanyain masalah keluarga di sini. Tapi di Indonesia ada nggak sih orang-orang yang nggak mau menjalin hubungan macam one night stand tapi juga nggak mau bikin komitmen? *kalau di novel sih ada wkwk

      Like

      1. Waahh.. Ga tau saya..
        Penyimpangan orientasi seksual dan seksual sekarang jadi marak lebih marak sih..
        Mungkin aja ada, tapi belum pernah nemu.

        Mungkin di Jepang ada orang yg kayak begitu. Semoga kita terhindar 😇

        Like

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s