Posted in Hujan-Panas

Daus dan MAN Insan Cendekia

Postingan ini sebenarnya sambungan cerita dari yang ini. Singkat cerita (dan ini disingkat banget), ketika MTs (SMP) aku punya cita-cita baru selain tukang pos, wartawan perang dan aktivis lingkungan hidup: bisa belajar sampai ke tingkat pendidikan tertinggi tanpa bikin orang tua bayar biaya sekolahku. Dengan motivasi dari guru, orang tua, dan teman-teman terdekatku aku dan beberapa teman lainnya mendaftar masuk MAN Insan Cendekia (waktu itu baru ada dua, MAN IC Serpong dan Gorontalo).

MAN Insan Cendekia ini namanya mulai sering kudengar sejak kakak kelasku diterima di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Sekolahnya (waktu itu ) gratis tis, terkenal sering kata guru-guru SMP-ku meski berasrama, di setiap kamar ada TV-nya. Betewe, poin terakhir ini menarik buat kami (eh buat aku ding) soalnya TV masih barang mewah dan acaranya seru-seru waktu itu.

Setelah melalui berbagai proses (termasuk tes tulis) alhamdulillah aku dan seorang temanku yang lain termasuk dalam 120 orang yang diterima di MAN IC Serpong. Rasanya lega plus nggak percaya banget! Mana waktu itu aku termasuk yang nekat juga karena nggak daftar ke SMA lain sama sekali.

Sejak hari pengumuman itu, berbagai dokumen dikirimkan dari ICS ke rumahku, mulai dari penjelasan tentang barang bawaan yang harus disiapkan, jadwal kegiatan awal di IC, persyaratan daftar ulang, dll. Yang aku ingat sekali, salah sekian barang bawaan yang wajib dibawa adalah: baju atasan putih lengan panjang dan rok panjang warna hitam sekian pasang, jilbab putih menutup dada serta tidak transparan. Waktu itu aku nggak punya tiga barang yang disebutkan di atas. Karena sehari-hari aku biasa pakai celana panjang atau 3/4 dan waktu itu aku hanya berkerudung ketika ke sekolah. Stok kerudung di rumah punya ibuk semuanya, kecuali kerudung sekolahku yang sudah habis masanya plus beberapa kerudung pribadi bermotif. Nah, gara-gara itulah ibuk musti pesan khusus ke penjahit dan untuk pertama kalinya Annisa punya tiga rok hitam yang sama persis.

Yang pertama

Aku mendapatkan banyak pengalaman baru mulai dari berbagai persiapan ke IC hingga sampai dengan selamat di IC. Contohnya, naik pesawat. Alhamdulillah, waktu itu ada salah satu paman dari pihak bapak yang berbaik hati membelikan tiket pesawat Malang-Jakarta untukku. Beliau juga ikut menemani hingga ke IC. Untuk pertama kalinya aku jadi tahu bagaimana rasanya terbang di atas awan. Rasanya luar biasa! Meskipun awalnya aku masih terisak-isak gara-gara berpisah dengan emak. Sejak itu, kursi dekat jendela selalu jadi favoritku. Sejak saat itu juga, aku tahu bahwa langit Jakarta tak sama dengan langitku yang penuh awan putih bersih. Sementara aku dan pamanku naik pesawat, bapak dan ibuk mengejar dengan kereta ekonomi Malang-Jakarta.

Kedatanganku di Jakarta untuk yang pertama penuh dengan banyak pertemuan. Aku bertemu beberapa saudara jauh bapak-ibuk. Salah satunya adalah seorang pengusaha kaya raya yang menampung kami sebelum hari pendaftaran ulang tiba. Saat itu, aku baru percaya bahwa ternyata orang kaya yang benar-benar kaya itu ada. Dan rumah-rumah yang besarnya seperti istana, penuh mobil berjajar, berkilauan, dan memiliki pesawat TV di setiap kamarnya itu juga benar-benar ada! Aku berlebihan ya? Tolong maklum 😀

Daus

Seusai daftar ulang, paman dan kedua orang tuaku pulang ke Malang. Di saat yang sama, sesi PTS bagi kami, para siswa baru dimulai. PTS di IC nggak aneh-aneh, nggak ada pakai atribut yang aneh-aneh, kecuali tas kresek besar dan tompel hitam pertanda datang terlambat. Aku yang di keluarga dikenal sebagai anak yang paling lambat dalam persiapan berangkat sekolah, dapat tompel dua. Mungkin juga tiga. Untuk lebih detailnya, cerita PTS di IC bisa dibaca di tulisan kak Rofida di sini. Secara general hingga angkatan saya aktivitas dan peraturannya sama (cmiiw).

Ah ya, ketika PTS itulah masa ketika kami diharuskan mengenal teman-teman kami. At least, menghafal nama panggilannya. Kami diberi waktu menghafal beberapa hari saja. Yang putra menghafal nama siswa seangkatan, yang putri menghafal nama siswi seangkatan. Kebetulan, di angkatanku ada dua orang lain yang memiliki nama mirip denganku, Anisah dan Nisa K. Mempertimbangkan waktu kami yang sedikit untuk menghafal nama teman, dan terdapat 3 nisa-nisaan di angkatan, aku memperkenalkan diri sebagai Firdaus. Berharap dipanggil lengkap Firdaus, hingga seorang teman mengusulkan memanggilku Daus agar mudah diingat. Semenjak itulah aku dipanggil dengan nama panggilan Daus oleh orang-orang yang mengenalku di IC. Bahkan, beberapa kakak-kakak IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia) Jepang juga ada yang memanggilku Daus. Padahal aku sendiri selalu memperkenalkan diri dengan nama lengkap pada orang lain 😛

 

~~

Beberapa waktu ke depan pengen posting tentang IC deh, efek gagal move on dari kehidupan berasrama bersama teman sepermainan.

maaf, ndak ada foto, fotonya ketinggalan di rumah Indonesia.

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s