Posted in Nippon

Ngapain ke Jepang? Hati-hati Kena Tipu

Beberapa hari ini saya terlibat obrolan seru bareng senior, ka Median dan temen serumah, ka Icha. Tentang orang-orang yang overstay, sampe orang-orang yang ke Jepang berkedok belajar tapi ternyata maksudnya cari uang sebanyak-banyaknya.

Dan siang tadi sepulang dari kampus saya baca berita dari media elektronik. Di berita itu disebutkan 30 orang WNI ditipu, diiming-imingi gaji gede untuk kerja di Jepang tapi diberangkatkan dengan  cara yang tidak benar: menggunakan visa pelajar (dimasukkan ke sekolah bahasa) atau visa turis yang notabene nggak lama durasinya. Walhasil, orang-orang yang overstay itu ditangkap polisi, ada yang tertahan di imigrasi, ada juga yang sudah dideportasi. Ih, kok bisa ya?

Jadi begini, konon katanya tersebar berita-berita di Indonesia bahwa bekerja di Jepang itu gajinya gede. Bisa 20-30 juta/bulan dengan biaya hidup 10 juta “saja”. Kalau kebetulan kamu lagi butuh uang banget, atau terobsesi banget jadi cepat kaya, pengen nggak sih? pengen dong. Nah, gosip-gosip inilah yang disebarkan oleh agen-agen tidak bertanggungjawab buat memberangkatkan orang-orang ke Jepang. Untuk berangkat pun tidak gratis loh. Setidaknya dibutuhkan uang minimal sebanyak 50-an juta rupiah.

Bagi yang berangkat dengan visa turis, jika selamat (sampai ke Jepang dan lolos dari imigrasi) biasanya langsung kabur ke tempat-tempat macam perkebunan atau pabrik dan bergabung dengan pekerja ilegal lain. Sepanjang tinggal di Jepang mereka kucing-kucingan dengan polisi. Ada yang bisa tinggal tenang di rusun sampai diciduk aparat, tapi banyak juga yang berpindah tiap malamnya. Memangnya enak hidup begitu? Katanya sih nggak enak, saya pikir juga begitu. Capek badan dan pikiran. Tapi banyak di antara mereka yang terpaksa karena tak bisa pulang. Entah karena keluarga di Indonesia masih sangat butuh sokongan dana, atau juga karena mereka sendiri tak mampu membeli tiket pulang.

Sedangkan untuk pelajar, sebagai mahasiswa asing di Jepang kita diperbolehkan untuk bekerja paruh waktu. Izin kerja paruh waktu itu juga tertulis di kartu tanda pengenal kita (alien card) dengan waktu limited, hanya 28 jam/pekan tidak boleh lebih. Kartu identitas inilah yang biasanya diperlukan ketika kita melamar kerja part-time, sehingga informasi kerja kita (termasuk durasinya) bisa terekam dalam data pemerintah.

Saya juga baru tahu dari teman ketika mendengarkan pengalaman teman belajar bahasa di sekolah bahasa Jepang (nihongo gakkou), bahwa ternyata banyak sekolah yang dijadikan kedok oleh siswa dari luar Jepang untuk bekerja di Jepang. Mereka tetap berstatus pelajar tapi, dibanding belajar kerjanya lebih gila-gilaan. Tak jarang juga melebihi batas jam kerja dengan cara bekerja di tempat-tempat yang perekrutnya tidak membutuhkan tanda pengenal kita.

Meski sebagian pekerja berkedok pelajar tetap terlihat pada jalurnya (at least masih datang ke sekolah dsb), sebagian lain ada yang melakukan aksi nekat dengan kabur dari sekolahnya. Pernah, beberapa kali entah di grup KMI (Keluarga Muslim Indonesia) atau PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Nagoya kami mendapat info tentang kaburnya pelajar Indonesia yang katanya sedang belajar bahasa Jepang di Nagoya. Mereka kabur dengan meninggalkan tagihan kontrakan, uang sekolah, dan diperkirakan menjadi pekerja ilegal. Pernah juga kami mendapatkan info sebaliknya: seorang WNI ditemukan tersesat di pusat kota Nagoya, mengaku baru datang ke Jepang dengan dijanjikan bekerja tapi ternyata malah ditinggalkan oleh si agen begitu saja.

Kenyataannya, bisa nggak sih dapat gaji segitu?

Bisa, bisa banget. Tapi dengan status jelas sebagai pekerja legal, tanpa tanda kutip. Jalur yang bisa ditempuh juga banyak, tergantung pilihan dan kemampuan either low-skilled worker atau high-skilled worker. Contohnya:

  • Sebagai nurse atau caregiver
  • Pekerja training/magang/kenshusei: judulnya training, tapi beban kerjanya sama dengan beban kerja beneran. hati-hati juga dengan agen yang tidak terpercaya.
  • Peneliti/pekerja tetap di perusahaan-perusahaan: jalur rekrutmennya bisa dari job hunting seusai menuntaskan pendidikan di universitas di Jepang, atau dari Indonesia lewat seleksi resmi.
  • Assistant/associate professor di universitas di Jepang

Oh ya, catatan lagi, pekerja-pekerja yang saya sebutkan di atas itu meskipun gajinya lebih besar daripada kerja part-time, potongan pajaknya juga gedee. Ya seimbang lah ya.

Terus, kalau kerja part-time pas jadi mahasiswa bisa nggak dapat gaji segitu? Emm, tergantung kerjanya apa. Umumnya sih kerja paruh waktu di Jepang untuk mahasiswa itu ya kerja sebagai pelayan minimarket, restoran, maidroom hotel, kadang bisa juga pekerja kasar di pabrik, yang gaji per jamnya berkisar dari 800-1000an yen. Dengan tipe pekerjaan seperti ini jika kita ambil full kesempatan 28 jam/pekan maka maksimal kita mendapatkan gaji 120ribuan Yen= 12 juta Rupiah. Tapii, dengan kerja yang membutuhkan banyak tenaga seperti itu rasa-rasanya 28 jam/pekan tuh melelahkan plus mengganggu proses pembelajaran di sekolah/univ, apalagi kalau harus ada eksperimen. Duh, nggak banget deh TT.

Kerja paruh waktu untuk mahasiswa sebenarnya nggak terbatas pada itu saja. Ada juga jenis pekerjaan lain dengan bayaran lebih tinggi seperti, mengajar bahasa asing, interpreter, proofreader, dll yang membutuhkan skill tertentu. Setahu saya gaji pekerjaan tersebut berkisar antara 1500-5000an yen atau lebih/jamnya. Sayangnya, pekerjaan seperti ini tidak selalu tersedia. Sifatnya ya occasional saja.

Bukan soal pengen duitnya (walaupun kalau dikasih duit nggak nolak juga), ini soal sekolah ke Jepang

Belajar di universitas di Jepang untuk sebagian adalah mimpi dan ambisi, sebagian kebetulan ketiban rezeki. Untuk mewujudkan mimpinya itu, sebagian orang nekat datang ke Jepang tanpa beasiswa meskipun di Indonesia keluarga mereka bukanlah orang yang kaya raya. Ada yang berangkatnya lewat agen, lembaga bahasa, ada juga yang riset-riset sendiri lalu berangkat. Biasanya mereka memulai usahanya dengan masuk ke sekolah bahasa dengan harapan setelah lulus dari sana mereka memiliki kompetensi bahasa Jepang yang memadai untuk masuk univ.

Jadi, skemanya kira-kira begini:

Sekolah bahasa 1-2 tahun-> ikut ujian masuk uni (biasanya sblm sekolah bahasa selesai) -> lulus ujian -> masuk uni/senmon gakkou (sekolah kejuruan?)

Karena tanpa beasiswa, jadi rata-rata harus arubaito (kerja part time) untuk meringankan beban ortu. Kata beberapa agen (lagi-lagi agen), nyari arubaito itu gampang di Jepang begitu udah masuk sekolah bahasa. Inilah yang kemudian membuat banyaak dari teman-teman yang saya kenal di sini menjadi tergiur. Udah bisa sekolah ke Jepang, dapet duit sendiri lagi.

Kenyataannya nggak 100% begitu. Nyari arubaito itu kalau sama sekali nggak ada kemampuan bahasa Jepang/skill lain/koneksi ya susahh. Kalaupun dapat ya nggak mungkin yang kerjanya leha-leha lalu dapet duit. Ya jadi buruh, kerja kasar, ya dimaki-maki, dan belum tentu uang yang kita dapat dari bisnis-bisnis halal (alias tidak jual beli minuman keras/makanan yang ngga halal). Belum lagi, untuk meraih yen demi yen itu mereka harus bekerja ekstra keras berjam-jam sehari, minim rekreasi, menyeimbangkan waktu bekerja dan belajar agar bisa lulus ujian perguruan tinggi (yang katanya susah banget kayak di manga-manga). Super banget deh mereka, kalo nggak punya mental kuat udah bye-bye deh.

Nah saya di sini, mengenal orang-orang itu yang kemudian menjadi teman-teman saya (sebagiannya malah menjadi penyemangat). Sebagian, hingga sesampainya di Jepang tidak pernah punya bayangan tentang kerasnya kehidupan di Jepang karena minim informasi. Hingga lambat laun mereka bisa bertansformasi jadi orang yang kuat.

Di antara mereka,  beberapa ada yang berhasil hingga mencapai target yang mereka impikan dulu sebelum ke Jepang. Sementara beberapa lainnya terpaksa kembali ke Indonesia karena nggak memungkinkan tinggal lebih lama lagi (masalah ekonomi keluarga, nggak diterima di univ di Jepang, dll).

~~

Maaf, saya jadi nulis kepanjangan ngalor-ngidul. Intinya sih, hati-hati. Boleh punya mimpi atau ambisi, tapi jangan buta ya. Tanya lagi ke diri sendiri, “Ngapain aku ke Jepang? Apa yang aku mau? Bagaimana aku mau ke sana?” Jangan lupa: riset, cari tahu sebanyak-banyaknya informasi. 🙂

 

 

 

PS. Jika pengen tahu gimana belajar di Jepang tanpa beasiswa dari awal, bisa baca blognya kak Icha dari link di awal tulisan ini. Meskipun saya juga pernah ngerasain gimana sensasinya pas beasiswa penuh halang rintang, rasanya mungkin masih jauh beda dengan pengalaman kak Icha dan teman-teman lain. Maybe next time I’ll write one of their stories.

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s