Posted in Hujan-Panas

Kamu Aneh

“Kamu aneh,” kata teman SMPku, Matahari (nama disamarkan), ketika aku baru saja selesai bercerita tentang isi film National Geographic yang ditayangkan ulang di MetroTV.

“Aku gak ngerti,” katanya kemudian, disusul tawanya yang selalu menggelegar. Ia berjalan kembali ke kelas kami, aku juga berjalan bersisian merasa agak kesal. Sepanjang jalan, ia mengulang kembali gagasannya bahwa aku aneh, aku membicarakan hal yang dia tidak mengerti.

Aku pun tidak mengerti, mengapa ia menganggap aku aneh? Aku hanya menceritakan fakta-fakta menakjubkan yang kutonton di TV—temanku yang baru—tentang makam Tutakhmun yang dibongkar arkeolog dan harta karunnya dicuri, tentang supervolcano. Bagiku, menceritakan kembali hal-hal yang menakjubkanku secara verbal adalah bentuk kebahagiaan. Karena aku juga ingin temanku tahu. Hei, aku hanya bercerita dan dia bilang aku aneh. Bukankah dia yang tak mau mencoba mengerti ceritaku?

Selama beberapa tahun, film-film dokumenter yang ditayangkan ulang di MetroTV adalah favoritku. Setiap kali menonton, jika sempat berlari ke kamar, aku akan mencatat fakta-fakta menariknya di buku diary bergambar Barbie-ku. Sehingga, buku-buku itu bukannya berisi catatan harian, malah penuh dengan tulisan ceker ayam bekas memburu subtitle bahasa Indonesia yang cepat hilang. Meski akhirnya, emak (nenekku) sering protes karena aku lebih suka nonton kumpeni londo* daripada sinetron Indonesia.

“Kamu aneh, apa orang-orang seperti kamu selalu ngomong yang nggak bisa dimengerti?”

“Kamu aneh.” Lagi. Kata teman yang lain.

“Kamu aneh.” Lagi-lagi. Bahkan ketika aku sudah lulus SMP. Bahkan ketika aku sudah berhenti membicarakan hal-hal yang tak mereka mengerti. Dan di saat yang sama aku juga telah menghentikan kebiasaanku dengan hal-hal yang tak mereka mengerti, berhenti menuliskannya dalam buku diary-ku. Takut-takut rasa excited-ku untuk bercerita pada orang lain yang selalu berlebih tidak tersalurkan hingga akhirnya aku kesal sendiri. Entahlah, sepertinya menulis belum memberikan efek yang sama besarnya dengan bercerita langsung.

Ngomong-ngomong, kamu aneh bukanlah gagasan yang nyaman untuk didengar.

~~

Bertahun setelahnya, setelah aku pesimis menemukan teman bicara yang tepat, aku menemukan mereka. Atau setidaknya, aku menemukannya.

“Razzaq suka kak Nisa, soalnya kak Nisa tahu semua hal.”

“Kak Nisa nggak tahu semua hal kok. Kalo ibunya Razzaq?”

“Razzaq juga suka, ibu juga tahu semua hal.”

Menurutmu, apa yang lebih membahagiakan dari percakapan itu? Ketika ada seseorang yang suka mendengarkan ocehanmu, tentang makhluk hidup, sejarah, tentang nabi. Terlebih, dia tak sekalipun menganggapmu aneh.

Semenjak itu aku tahu, bahwa langkah yang tepat untuk menemukan teman bercerita adalah dengan menjadi guru bagi anak-anak yang selalu ingin tahu. Mereka, anak-anak itu, akan selalu—setidaknya ingin selalu—mendengarkanku. Mungkin akan menjadi hal yang amat menyenangkan ketika hal yang kita ajarkan merupakan hal yang baru dan menarik.

Sayangnya, Razzaq sudah pergi. Back for good, ke Indonesia. Demikian pula anak-anak yang lain. Ah, kangen sekali.

Apa pesan moral dari tulisan ini?

  1. Jangan mengatai temanmu aneh. Well, kenali dulu temanmu. Tidak semua orang bisa masa bodo dengan kata-kata itu. Bukankah membuat orang lain tak nyaman itu hal yang buruk? #ntms

  2. Jangan membicarakan sesuatu yang temanmu tak suka. Kalau dia bosan dan tak nyaman bagaimana? Kembali ke poin di atas. #ntmspakebanget

  3. Ini hanya tulisan curhatan. Silakan berpaling sesegera mungkin. 🙂

 

catatan:

*kumpeni londo: penjajah Belanda, dalam hal ini maksud nenekku lebih ke istilah general untuk orang bule atau segala hal berbahasa Inggris

 

 

 

 

Ditulis karena rindu anak-anak itu. Akibat terlalu excited, tapi tak ada kawan.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

4 thoughts on “Kamu Aneh

  1. Entah mengapa, sedikit sedih membaca tulisanmu ini.
    Bukankah sangat wajar berbahagia dengan berbagi hal excited yang kamu temukan? Saya pun begitu, hanya saja saya menemukan teman bicara yg tepat. Yang sama anehnya dengan saya dan berbahagia akan hal yang sama.

    Semoga Annisa segera bertemu dengan teman seperti itu (selain mjd guru anak kecil tentunya) ^_^

    Liked by 1 person

    1. Jangan sediih kakak :))
      Hehe aamiin, kakak juga ya. Cuman memang nggak semua orang suka dengan yg kita suka ya ^^

      Like

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s