Posted in Hujan-Panas, Tuna Wisma

In the War

War doesn’t happen here, but it doesn’t mean it’s not happening.

Beberapa hari ini saya rutin mengikuti siaran streaming dari situs Al-Jazeera, setelah bertahun-tahun tak lagi membaca berita di media elektronik kecuali hasil sharing dari teman saya yang lumayan terpercaya. Hari pertama, Senin pekan ini ketika iseng membuka bookmark streaming Al-Jazeera saya dikagetkan dengan laporan Mr. Stephen O’Brien, Chief of Humanitarian Aid of UN. Di sana, beliau memaparkan kondisi di Syria yang membuat hati saya mencelos.

Sependengaran saya (karena tidak ada subtitle di sana), beliau bilang bahwa bantuan-bantuan kemanusiaan dari UN sulit mencapai beberapa daerah terutama Daraya (dan satu kota lagi yang saya lupa namanya) terkendala oleh izin dari pemerintah Syria. Di kota-kota tersebut, pasokan air, makanan, dan obat-obatan sudah amat menipis. Di beberapa tempat lain, meski bantuan kemanusiaan sudah diberikan, tak jarang pendistribusiannya dihentikan pemerintah Syria itu sendiri. Dalam sebulan terakhir, rumah sakit di Aleppo dijatuhi bom empat kali (saya beneran nggak bisa mikir kenapa ada orang di dunia yang setega itu). dan seterusnya..dan seterusnya.. intinya beliau meminta dibukanya akses ke daerah-daerah yang sulit terjangkau dan humanitarian truce di Aleppo.

Katanya sudah lima tahun, namun hingga kini perang belum usai. Email serta postingan penggalangan bantuan untuk membantu korban daerah perang belum surut juga (salut sekali dengan orang-orang ini) meski mungkin jumlah likers dan orang-orang yang men-sharenya berkurang seiring waktu. Ya, seperti sistem indera penciuman kita yang bisa berhabituasi*, jangan-jangan manusia terhadap perang-perang mengerikan itu sama responnya.

00260617-220338-79418693.jpg
Surat dari Zahra yang kami kirimkan untuk teman-teman di Syria, dua tahun lalu. Terjemahan di sini. Waktu itu, kami benar-benar berharap perang segera berakhir. Seperti kata Zahra, “Hanya saat ini saja!” (And my heart is torn in pieces)

Dan Palestina..

Ketika saya sedang random membaca-baca berita di Al-Jazeera, saya menemukan sebuah link video yang menceritakan saat-saat Operation Protective Edge yang dilancarkan Israel ke Shujayea, Palestina sebagian dari kamera jurnalis yang jug amendokumentasikan saat-saat terakhir jurnalis tersebut.

Video berdurasi lebih dari 40 menit tersebut menggambarkan bagaimana mengerikannya serangan-serangan Israel ke Palestina. Mereka menyerang tanpa pandang bulu, termasuk orang-orang yang tidak seharusnya menjadi korban, jurnalis, dokter, perawat, wanita, dan anak-anak.

I cried throughout the movie. Can’t imagine being one of them, in the war. Dan saya sangat sangat kagum, terharu, dengan salah satu bagian dari video tersebut yang menggambarkan respon keluarga dokter Fouad ketika mendengar berita kematian sang dokter akibat serangan misil Israel.

His father said, “I went to Fouad’s mother and told her many families made sacrifices and had thousands of martyrs. If your son died, what would would your reaction be? She said, she would cry with joy. And you my niece? She said she would cry with joy. I said, ‘Cry out, Fouad died as martyr.'”

MasyaAllah, masyaAllah.. indeed, they’re much stronger than what everyone thinks. Semoga Allah memberkahi mereka dengan kematian yang syahid, menjaga keluarga-keluarga mereka. Semoga Allah menjaga saudara-saudara kita di mana pun berada :”

~~

Saya berharap bisa menyebarkan videonya ke banyak orang. Setidaknya, kita bisa berpikir lagi ketika hendak menghamburkan uang untuk hal-hal tak berguna, tapi kemudian berang kepada pihak-pihak yang meminta bantuan kemanusiaan untuk negara lain berdalih negara sendiri lebih butuh dibantu, kenapa tak mulai membantu dari milik kita sendiri? Daripada menghabiskan untuk outfit malam mingguan.

Selanjutnya, rasa syukur. Membayangkan tidur dan bangun di tengah suara desingan peluru, ledakan bom, misil, lari bersembunyi di balik reruntuhan, ketakutan, ah bagaimana rasanya? Sementara menonton lewat video saja sudah terasa ngeri sekali.

Tak makan berhari-hari, sekali dapat pun hanya biskuit atau roti keras. Tak ada sekolah, komputer, fasilitas canggih, tak ada facebook, whatsapp, apalah. Belum lagi orang-orang ‘gila’ yang siap merenggut kehormatan kapan saja.

Sementara rasa syukur kita sedang terhambat baper, galau, karena postingan Instagram tetangga yang jalan-jalan ke Eropa, saudara kita di daerah konflik sana sudah menghaturkan ratusan syukur karena hidupnya dan keluarga bertahan sehari lagi.

 

*habituasi: ketika organisme berhenti merespon stimulus yang berulang. Misalnya ketika baru saja memasuki kamar mandi hidung kita membaui bau pesing urin untuk beberapa waktu. Setelah sekian menit, kita tidak lagi mencium bau tersebut karena hidung telah berhabituasi.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s