Posted in Hujan-Panas

Jangan Memiskinkan Diri

Delapan tahun yang lalu..

Kami ini cuma anak-anak kampung, bapak-bapak kami bekerja berbalur lumpur di sawah, atau debu dan semen di gedung-gedung yang sedang dibangun, atau mungkin sedikit beruntung jika pakai seragam coklat di kantor-kantor, meski ada juga yang bapaknya tak kunjung dapat kerja. Sebagian kami punya rumah berdinding bambu dengan MCK seadanya, atapnya dari seng yang panas sekali di bawah terik matahari dan berisik minta ampun di kala hujan. Meski yang lain, sebagiannya sudah berdinding batu bata hasil nyicil yang entah sejak berapa tahun lalu yang belum juga rampung.

Kami mengenal Jakarta dan carut-marutnya dari TV, plus Ancol yang tidak pernah ada dalam pikiran untuk dikunjungi. Oh ya, hampir semua kami punya TV, baik yang hitam-putih atau bewarna plus colokan DVD-nya. Ibu-ibu suka menonton sinetron dan gosip-gosip. Bapak-bapak berebut nanti, ketika pertandingan Arema vs Persebaya disiarkan langsung.

Saban pagi sehabis sarapan nasi, anak-anak diantar ke sekolah dengan motor. Ada Yamaha, Honda, ah aku lupa apa lagi, yang dibeli dengan kredit lewat iklan-iklan selebaran. Ada pula yang berangkat sendiri, seperti aku misalnya. Jalan kaki saja dengan teman sebaya karena toh tak jauh ini.

Di sekolah, di hari tertentu, ibu guru Mutmainnah akan datang ke kelas kami untuk pelajaran kewarganegaraan. Bu Mut, begitu kami memanggil beliau, seringkali tak hanya bicara soal undang-undang dan pancasila tapi juga nasihat-nasihat berharga untuk murid-muridnya si anak-anak desa. Meski aku banyak lupa, ada satu yang kuingat selalu.

“Jangan memiskinkan diri.” Kata beliau siang itu setelah mengawali nasihatnya dengan cerita pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang kontroversial.

“Jangan bangga menjadi orang miskin hanya agar dapat uang Rp100.000, mengantre panjang seharian padahal masih punya tv bagus di rumah, punya motor dua walaupun kredit semua, bisa jajan ke mana-mana,…..” dan sisa pelajaran hari itu dihabiskan dengan motivasi agar tak memiliki mental miskin.

Hari itu, aku mendengar beliau dengan seksama. Tak seperti biasa, aku tak berniat mendebat apa-apa.

 

Biar bantuan itu untuk mereka yang benar-benar butuh saja.

Jangan memiskinkan diri untuk dikasihani. Dikasihani kok bangga?

 

Hari itu, bu Mut memberiku inspirasi baru. Bapak dan ibukku memang penerima BLT, Askeskin, entah apa lagi. Kutau mereka memang perlu, waktu itu. Tapi, bukan berarti seumur hidup harus begitu kan? Tapi bukan berarti kami bebas menerima dan berleha-leha setelahnya kan? Dan di tangan anak-anaknya bantuan-bantuan di masa depan harus berpindah ke tangan yang baru.

 

Berusahalah selagi mampu.

 

Hari itu, aku bertekad untuk menghentikan tumpukan hutang budi yang harus dibayar. Untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke depan tanpa menunggu satu-dua individu membayarkan tunggakan.

 

Jangan berbangga kalau kamu dapat beasiswa karena miskin, Nduk. Kamu harus buktikan kalau kamu dapat beasiswa karena kemampuanmu.

-pak Sudirman, kepala sekolah yang sering mengingatkan untuk menikah di Tanah Air saja.

 

Kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.

– Hadits riwayat Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051, Tirmidzi no. 2373, Ibnu Majah no. 4137.

gratitude-in-everything
image source: here

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

5 thoughts on “Jangan Memiskinkan Diri

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s