Posted in Hujan-Panas

Ibu: Kabar

A: “Lo nggak ngabarin orang tua kemarin? Mereka panik lho, nyariin.”

B: “Loh, gue kan udah bilang gue baik-baik aja. Gue juga bilang kalo gue lagi butuh waktu sendiri.”

A: “Lo itu gimana sih? Jelas-jelas, dengan menghilang dan bilang lo lagi butuh waktu sendiri tuh mereka bakal tahu lo kenapa-kenapa. Lo nggak mikirin perasaan mereka ya?”

B: “Loh, kok gitu? Bukannya bilang gue baik-baik aja itu udah cukup ya? Lagipula kenyataannya gue baik-baik aja. Cuma lagi pengen sendiri.”

A: “Tapi kan gak perlu menghilang juga..”

~~

“Kalau nggak bisa ditelpon, sampeyan jangan lupa sms adek Arsyad. Biar ibuk nggak kuatir. Kalo sampeyan nggak bisa ditelpon dan nggak sms, ibuk kepikiran. Tiap makan mesti kepikiran, sampeyan wis makan apa nggak, ada makanannya apa nggak, uangnya cukup apa nggak..”

Dan saya nggak bisa ngomong apa-apa. Speechless. Pengen nangis, tumben si hati jadi mellow gini. Tapi jika saya menangis, ibuk akan lebih khawatir pada saya sebagaimana yang terjadi dalam percakapan telepon yang sebelum-sebelumnya. Bagaimana bisa beliau mengkhawatirkan makanan saya sementara mereka sendiri di saat yang sama seringkali makan dengan lauk seadanya. Saya pun hanya bisa terkekeh sambil berkata,

“Ibuk tenang aja, semiskin-miskinnya pas Anis nggak punya uang Anis masih bisa makan nasi sama telor kok buk. Kan tinggalnya bertiga. Belanja makanannya sering bareng juga. Jadi kalo pas nggak ada uang ada temen yang nalangin. Sering malah dikasih makan sama mereka, sama ibu-ibu juga, buk. Ini bulan puasa malah udah lama nggak masak. Dapeet terus dari orang, hehe..”

Berharap, sedikit cerita saya bisa menenangkan hati beliau.

Kejadian ini mengingatkan saya pada kejadian lain belasan tahun lalu yang menunjukkan rasa sayang seorang ibu.

Di usia itu saya sering sakit-sakitan. Berkali-kali bolos sekolah. Suatu hari, ketika saya sedang tiduran di kamar dalam keadaan kurang sehat, ibu datang dan duduk di pinggir ranjang. Sembari mengelus kepala saya beliau bilang,

“Cepat sembuh ya, Nduk. Ibuk kepikiran terus kalo sampeyan nggak sembuh-sembuh..”

Dan saya dengan polos membalas,

“Tuh kan.. makanya ibuk jangan mikirin. Gapapa, nanti insyaa Allah sembuh kok. Kalau mikirin kan jadi pusing.”

“Ya nggak bisa gitu, Nduk”

“Kan tinggal gak usah dipikirin aja.”

Dan selanjutnya percakapan kami akan melebar. Dengan ibuk yang berusaha membuat anaknya mengerti, dan saya yang tidak kunjung peka meski hingga bertahun-tahun selanjutnya.

Ya, hingga kini pun bagi saya kasih sayang orang tua yang begitu besar itu terkadang masih susah saya pahami. Termasuk cara pikir mereka yang kadang tak terjangkau logika saya. Jujur, butuh waktu cukup lama hingga saya sampai pada pemahaman bahwa saya sesungguhnya tidak jauh beda dengan si B, si anak yang saya anggap nggak peka, “meremehkan”. Dan bahwa saya ternyata tidak memiliki pengertian yang cukup tentang perasaan orang tua saya.

Ketika hari itu tiba, saya baru menyadari bahwa saya melewatkan bertahun-tahun dalam kekurangpedulian. Membiarkan mereka khawatir dan ketakutan hingga kehilangan selera makan, sementara saya bodohnya berasumsi mereka sudah tahu keadaan saya yang (hampir) selalu baik-baik saja. Padahal, bagaimana mereka tahu kalau saya saja tak memberi kabar?

Seperti percakapan saya dengan seorang teman juga,

Kasih seorang anak pada orang tuanya seringkali tidak pernah bisa sebesar kasih orang tua pada anaknya. Ketika anak sakit, yang diinginkan orang tuanya adalah kesembuhan anak yang segera. Tidak lain karena mereka juga ikut merasakan sakitnya. Sementara ketika orang tua sakit, anak menginginkan orang tua segera sembuh. Seringkali karena ia merasa, sakitnya orang tua begitu merepotkan baginya.

Semoga kita masih punya waktu untuk membuat mereka bahagia ya. Entah dengan kabar-kabar lewat telepon, pijatan penghilang pegal, atau sekedar untaian doa. Meski yang terakhir harusnya tidak pernah terlewatkan.

1333965819920338
image source: here

 

 

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

8 thoughts on “Ibu: Kabar

  1. Baru semalam telfon ayah dan mamah. Ada semacam ekspresi menghindar untuk merespon dari wajah ayah tiap aku bilang kangen dan bilang i love you, kayaknya takut tumpah deh harunya, kan ayah suka bercanda, ndak enak kali ya kalo berubah jadi emosional…

    Like

    1. hehe iyaa nda, aku ngerasain yang sama juga pas telpon bapak. Kami nggak pake video call tapi aku tahu suara bapak bergetar. Padahal itu aku cuma ngomong “maaf” aja :”

      Like

  2. Habis baca ini langsung nelpon ortu dikampung… orang tua itu, semakin kesini semakin peka perasaanya. Kl lg rindu kadang berefek pada kesehatannya…
    Cepet2 pulang mbak *ini juga berlaku buat saya juga* 😀

    Like

    1. Setuju kak, semoga orang tua sehat di sana ya 🙂
      Saya insyaa Allah bentar lg pulang. Kak Slamet (saya nggak tahu manggilnya apa) studinya masih berapa lama lagi? Apa memang stay di sana?

      Like

      1. Bener kok itu manggilnya, cm gak biasa dipanggil kak aja sih, biasa dipanggil mas atau langsung nama. Agustus ini insyaAllah selesai dan pulang 🙂 , Mbak Annisa summer ini selesai juga kan ya?

        Like

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s