Posted in Cat Warna, Rupa-rupa, Telaga

Mengajak Jangan Memaksa

Janganlah kamu memberi nasihat dengan mensyaratkan nasihatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, kamu adalah orang yang zhalim

-Ibnu Hazm Azh Zhahiri dalam Al-Akhlaq wa As Siyar

 

A: Kak, nanti malem mau tarawih bareng di Meidai (Nagoya Univ) gak? Kemarin janjian sama yang lain, tapi ternyata mereka pada haid.

K: Kalo gitu aku skip juga deh Nis. Gomeeen (maaf). Takut nanti ketemu oknum I dan pulangnya barengan. Apalagi rumahnya searah 😦

Bukan tanpa alasan senior saya, kak A, takut bertemu oknum I, seorang laki-laki mahasiswa S3 di kampus kami. Beberapa hari yang lalu menurut ceritanya, oknum I menasihati kak A agar ikut sholat tarawih berjamaah di kampus. Memang sih kak A, tidak ikut sholat tarawih di kampus karena pelaksanaan tarawih yang selesainya larut malam (Isya’ dimulai pukul 20:40 JST dan tarawih usai sekitar pukul 22:00 JST). Sebagai perempuan yang masih sendiri tentu beliau merasa ngeri jika harus pulang selarut itu. FYI, lingkungan dan jalan-jalan sekitar kampus sudah sepi sekali di sekitar waktu itu. Lagipula, bukankah sholat perempuan yang utama itu di rumahnya? Begitu pikir kak A.

Setelah kak A mengemukakan alasan tersebut, bukannya memahami keadaan, oknum I malah menasihati kak A panjang lebar. Nasihat yang lebih terdengar sebagai paksaan dibanding ajakan pada kebaikan. Akibatnya, sekarang kak A selalu berusaha menghindari oknum I sejauh yang dia bisa.

 

giphy

Tanpa disadari, seringkali diri ini ingin mengajak orang lain ke jalan kebaikan, namun dengan cara yang membuat orang tersebut malah menjauh.

Padahal dalam Islam, menasehati, mengajak seseorang ke dalam kebaikan ada adab-adabnya tersendiri. Salah satunya, dengan tidak memaksakan kehendak pada orang yang dinasehati.

Seyogyanya juga, nasihat diberikan karena niat yang ikhlas, secara rahasia, dengan lembut dan penuh kasih sayang, serta memperhatikan pemilihan waktu yang tepat.

Teori memang lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Tapi, tidak ada salahnya kan dicoba…dan dicoba lagi? Mari mulai dari kebiasaan tak memaksakan kehendak diri 🙂

Karena hidayah bukan kita yang memberi. Ia kuasa Allah, Sang Pembolak-balik Hati.

 

 

central lib.

 

more on Adab Menasehati: https://muslimah.or.id/7352-menasehati-tanpa-melukai.html

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

3 thoughts on “Mengajak Jangan Memaksa

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s