Posted in Hujan-Panas, Nippon

Pengalaman Pertama Nonton Bola di Toyota Stadium

”アにさ、サッカー好き?” (Annisa suka soccer?)

”Eung…”

“It’s once in a lifetime experience!”

Seumur-umur saya tidak pernah menyaksikan pertandingan bola secara langsung di stadion. Bukan seorang penggemar bola juga, meskipun sering ikut nonton bareng adik-adik dari layar televisi sepaket dengan teriak-teriak hebohnya. Tapi begitu mendapat tawaran menggiurkan, selembar tiket ekslusif dan gratis, saya nggak menolak juga. Sabodo amatlah nggak ngerti siapa yang main. Seperti kata teman saya, Masaki, “It’s once in a lifetime experience.”

Pertandingan bola yang saya tonton Jumat, 3 Juli lalu adalah pertandingan Kirin Cup, kejuaraan yang diadakan oleh perusahaan bir ternama dari Jepang, Kirin. Sesempit pengetahuan saya, pertandingan ini diikuti oleh empat negara dan biasanya dijadikan ajang persiapan sebelum penyisihan untuk piala dunia. Tahun ini pertandingan tersebut diikuti Denmark, Bulgaria, Bosnia-Herzegovina, dan tuan rumah Jepang.

Dari lab, kami berangkat sekitar pukul 2 siang menuju Toyota Stadium yang terletak di kota Toyota. Dibangun oleh pada tahun 1997 untuk memperingati 50 tahun kota Toyota, stadion ini berkapasitas sekitar 45.000 penonton dan termasuk venue untuk FIFA World Cup. Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan banyaak sekali gerombolan manusia yang menuju ke tujuan yang sama dengan kami. Banyak yang menggunakan kaos bola, tapi tak jarang juga di antara mereka yang menggunakan dress manis (ya, dress!) atau jas. Mau nonton bola apa fashion show sih.

IMG_8140

Sepanjang perjalanan, nampak para calon penonton bola ini berjalan tertib sekali. Nggak ada ceritanya konvoi sambil menutup jalan, atau pejalan kaki yang lari-lari semrawutan.

IMG_8145

Kami sempat mampir juga untuk melihat harga sovenir khas Samurai Blue (julukan bagi tim nasional Jepang) karena ada beberapa teman yang ingin beli. Dan saya kaget sekali begitu tahu harga kaos bola yang mereka jual. Sekitar 14,000 yen untuk sebuah kaos ukuran orang dewasa! Setara dengan biaya belanja bahan dapur plus uang transport saya selama sebulan 😛

Harganya mahaal! Coba ada kartu pos, mungkin saya akan beli.
Harganya mahaal! Coba ada kartu pos, mungkin saya akan beli.
Bahkan harga parkiran saja mahal. Lebih dari Rp500 ribu untuk sebuah kendaraan!
Bahkan harga parkiran saja mahal. Lebih dari Rp500 ribu untuk sebuah kendaraan!
Jembatan menuju ke stadion Toyota. Nggak tahu kenapa saya suka aja desainnya.
Jembatan menuju ke stadion Toyota. Nggak tahu kenapa saya suka aja desainnya.
And here is Toyota stadium!
And here is Toyota stadium!

Sebelum masuk ke dalam stadion ketika melewati gate, tas-tas kami diperiksa jika ada botol minuman atau barang-barang terlarang lainnya.

Warning! Kalimat-kalimat setelah ini pasti terdengar norak, tapi mohon maklumi ya 😀

Dan saya sangat kaget begitu tahu botol minuman, terutama cap botolnya itu dilarang! Minuman di dalam botol kaleng/botol dituangkan ke dalam gelas kertas yang sudah disediakan panitia. Sementara botolnya dibuang ke dalam plastik. Anehnya, botol minum saya lolos dari pengawasan petugas. Mungkin orangnya segan juga sih lihat gaijin (orang asing) pake kerudung. Apalagi saya nggak kelihatan seperti fan bola. Iyalah, datang ke stadion pake kemeja putih dan rok macam siap sidang skripsi XD

Setelah berhasil lewat dari pemeriksaan di pintu masuk
Setelah berhasil lewat dari pemeriksaan di pintu masuk
Ini dia botol minuman dari kertas yang khusus disediakan panitia untuk menampung minuman.
Ini dia botol minuman dari kertas yang khusus disediakan panitia untuk menampung minuman.

Di dalam stadion kami tidak berhenti terkagum-kagum, apalagi setelah tahu tempat duduk yang akan kami tempati beberapa jam ke depan. Pas di belakang tempat duduk pemain dan pelatih. Pandangan mata kami bisa begitu bebas dan luas ke lapangan. Dekeeet banget sampai-sampai agak ngeri rasanya kalau tiba-tiba nanti ada bola yang nyasar ke wajah kami.  How lucky we were!!

“Wooow… I couldn’t stop taking pictures!”

-M, teman saya, laki-laki yang juga baru pertama kalinya nonton soccer di stadion.

Tiket yang menunjukkan tempat duduk saya. Kata teman, di situ ada tulisan yang menunjukkan bahwa kami datang karena diundang dan informasi letak tempat duduk kami.
Tiket yang menunjukkan tempat duduk saya. Kata teman, di situ ada tulisan yang menunjukkan bahwa kami datang karena diundang dan informasi letak tempat duduk kami.

Pertandingan pertama yang kami tonton adalah pertandingan antara Denmark vs Bosnia Herzegovina. Berakhir dengan kemenangan di pihak Bosnia (yey!!) setelah dilakukan penalty kick.

Pertandingan pertama sedang berlangsung ketika kami datang.
Pertandingan pertama sedang berlangsung ketika kami datang.
Supporter Denmark yang heboh menonton penalty kick hingga keluar dari tempat duduknya. Tampak beberapa petugas langsung berjaga-jaga. Da padahal mah mereka nggak ngapa-ngapain juga :D
Supporter Denmark yang heboh menonton penalty kick hingga keluar dari tempat duduknya. Tampak beberapa petugas langsung berjaga-jaga. Da padahal mah mereka nggak ngapa-ngapain juga 😀

Pertandingan selanjutnya, antara Jepang vs Bulgaria berlangsung beberapa jam setelah pertandingan pertama selesai. Selama itu saya berkesempatan mengamati segala persiapan prapertandingan, sekaligus menantikan jawaban dari pertanyaan saya, “Gimana sih orang Jepang kalau nonton bola? Rapih? Jaim? Lebay?”

Foto-foto di bawah ini sebagian keciil dari foto yang saya ambil. Semoga mewakili (atau jangan-jangan semua stadion begitu? haha yasudahlah) 🙂

Pak polisi yang siap siaga. Tapi sepertinya sudah lelah wkwk. Di belakang, ada maskot Kirin Cup, yatagarasu.
Pak polisi yang siap siaga. Tapi sepertinya sudah lelah wkwk. Di belakang, ada maskot Kirin Cup, yatagarasu.

Yatagarasu (lihat foto di atas) adalah tokoh mitos dari Jepang, digambarkan sebagai gagak dengan tiga kaki. Awalnya saya kira si pembuat maskot nggak ngerti biologi, eh ternyata ada maksudnya toh. Yatagarasu ini menjadi maskot Kirin Cup tahun ini.

Layar yang menampilkan manners di ketika menonton bola di stadion.
Layar yang menampilkan manners di ketika menonton bola di stadion.

Selama jeda antara dua pertandingan, layar televisi super besar di dekat tribun penonton menampilkan video tentang manners/adab-adab ketika menonton pertandingan dan memasuki stadion. Di antaranya: tidak boleh ada botol/kaleng, tidak boleh melempar, tidak boleh ada diskriminasi, tindakan anarkis, dan kekerasan publik, juga dilarang memasuki area lapangan.

Ada air mancur!
Ada air mancur!

Satu hal yang paling membuat saya kagum adalah, ada air mancur! Air mancur ini keluar dari bawah rumput yang entah bagaimana bisa ada tanpa mengganggu larinya pemain (almost invisible!) dan menyiram serta menyegarkan rumput lapangan.

Pemain Jepang menuju lapangan untuk persiapan. Supporternya heboh!
Pemain Jepang menuju lapangan untuk persiapan. Supporternya heboh!

Setelah lapangan siap sekitar satu jam sebelum pertandingan dimulai, para pemain dari kedua negara diperbolehkan memasuki lapangan. Dan terasa seketika, supporter Jepang ternyata begitu heboh! Begitu pemain keluar, suara yel-yel membahana diiringi taiko plus bendera Jepang yang berkibar dari tribun.

Selama persiapan dan warming up itu, saya mengamati bahwa kamera official dari stasiun televisi Jepang hanya menyorot persiapan pemain Jepang tanpa sedikit pun mengarahkannya ke pemain Bulgaria. Oh ya, bahkan pada pertandingan sebelumnya (Bulgaria vs Bosnia-Herzegovina) tidak ada satu pun kamera televisi nasional yang merekam jalannya acara. Hal ini mengingatkan saya pada pertandingan-pertandingan olahraga yang selama ini saya tonton di televisi Jepang. Benar-benar hanya menampilkan saat ketika Jepang bermain!

Jepang vs Bulgaria, persiapan sebelum menyanyikan national anthem.
Jepang vs Bulgaria, persiapan sebelum menyanyikan national anthem.

Seusai persiapan beserta tete bengeknya, sekitar 20 menit sebelum peluit babak pertama ditiup, pemain secara resmi bersiap dan berbaris untuk menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing negara. Tadinya saya berniat duduk saja toh saya bukan dari kedua negara itu. Tapi ternyata, teman-teman dan seluruh penontoh bahkan sudah berdiri dari dimulainya lagu nasional Bulgaria. Jadilah saya ikut berdiri.

Entah di urutan mana, saya ingat MC di stadion membacakan nama-nama pemain yang akan tampil hari itu. Yang membuat saya kaget, cara membaca nama pemain Jepang dan Bulgaria sungguh berbeda. Nama pemain Jepang dibaca dengan nada bangga dan penuh penghargaan ya seperti ketika MC lomba membacakan nama pemenang. Sementara nama pemain Bulgaria dibaca dengan nada biasa saja. Rasis sekali 😦

“Mungkin karena nama pemain asing itu ditulis dengan katakana?” kata teman saya ketika saya curhat tentang hal ini. Ah, tapi saya pribadi tidak percaya, karena MC di stadion waktu itu ada dua, membacakan dengan dua bahasa, Jepang dan Inggris. Dan keduanya membedakan cara baca nama pemain Jepang dengan pemain asing.

Oh ya, saya baru tahu. Sungguh-sungguh baru tahu bahwa tidak ada namanya commentator di pertandingan bola live kalau menontonnya langsung dari stadion. Dan saya cengo, ngedumel sendiri di awal pertandingan karena saya nggak ngerti itu siapa dan mereka ngapain (main gundu kali nis).

Sepanjang pertandingan berlangsung, saya juga terus bertanya-tanya, beginikah suasana bermain di kandang orang? Semua orang, bahkan lingkungan mendukung penuh dan mengapresiasi si tuan rumah. Ketika pergantian pemain di kubu tuan rumah pun diiringi tepuk tangan membahana dan MC yang membacakan nama sepenuh hati. Padahal waktu pertandingan pertama antara Denmark dan Bosnia-Herzegovina saja nggak segininya. Semua diberi tepuk tangan. Duh, rasanya begini ya jadi minoritas..I feel you, Bulgaria!

Goaaal!! Saya netral kok, bukan pendukung siapa-siapa :-P
Goaaal!! Saya netral kok, bukan pendukung siapa-siapa, berteriak dan merayakan goal dari kedua belah pihak meskipun terlihat aneh ketika saya berbahagia untuk Bulgaria, sendiri.

Hasil akhir pun sudah bisa diprediksi dari awal. Jepang memang sejak awal menyerang tanpa henti, sementara Bulgaria lebih banyak bertahan. Skor akhir 7:2 untuk Jepang, fans Jepang senang, teman-teman saya senang. Mereka pulang dengan sukacita, sementara saya pulang bertekad tidak menonton lagi pertandingan bola di kandang macam ini. Baper!

 

“Udah, Daus. Makanya nanti jangan nonton bola gitu lagi. Baper kan? Pulang-pulang langsung ke dapur aja!”

-seseorang, di antara Gycen Jepang entah siapa. Iseng sekali 😐

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s