Posted in Hujan-Panas, Nippon

Tutor UN Dadakan

  • RH: tante annisa ini teteh
  • RH: tante annisa hari ini bisa belajar sama teteh???
  • Me: Halo teteh
  • Me: Bisa sebentar tapi kayaknya teh, soalnya nanti mau ke masjid euy
  • Me: Teteh persiapannya gimana? Minggu depan kan ujiannya?
  • RH:  iya
  • RH: tante annisa lagi siap2 yaa
  • Me: Belum wkwk
  • RH: oo
  • Me:Masih nanti jadi masih bisa
  • RH: ok
  • Me: Teteh mau pake apa belajarnya?
  • RH: dari gmail mamah yaa
  • Me: Okk
  • RH: tapi tante annisa yang telpon
  • Me: Teteh ga bisa telpon?
  • Me: Bentar ya,

Pagi ini dapat kejutan dari Zahra, atau yang biasa saya panggil Teteh (membahasakan sebagaimana keluarganya yang juga memanggilnya Teteh Zahra). Kejutan chat di Fb mengajar belajar bersama untuk persiapan UN SD yang akan Zahra hadapi pekan depan.

Sudah sekitar sebulanan sejak saya mengiyakan tawaran kak Rahma untuk jadi tutor UN dadakannya Zahra. Sekarang Zahra sudah kelas VI SD dan mengalami beberapa kesulitan mengerjakan soal-soal UN terutama IPA. Masalah utama yang dia hadapi adalah bahasa. Zahra sejak kecil hingga kelas 3 atau 4 SD kemarin tinggal di Jepang, terbiasa bersekolah di sekolah umum Jepang dan pastinya belajar dalam bahasa Jepang. Kepulangannya bersama keluarga ke Indonesia November 2014 lalu membuat Zahra dan Akira (adik Zahra) harus struggling belajar bahasa Indonesia.

Untuk Akira yang baru saja menginjak kelas 1 SD di Jepang, pembelajaran di Indonesia mungkin tidak terlalu sulit karena belum banyak istilah khusus yang dipelajarinya. Berbeda dengan Zahra yang sudah belajar istilah-istilah khusus (seperti dalam pelajaran IPA) dalam bahasa Jepang. Dalam pembelajaran di kelas dan ketika ujian semasa awal-awal sekolah pun Zahra banyak dibantu gurunya. Beberapa cerita kehidupan awal sekolah mereka di Indonesia sudah saya tuliskan di sini. Dan ternyata, kesulitan tersebut masih menyisakan beberapa masalah di akhir masa SD Zahra.

Ketika pertama kali membahas soal UN bersama Zahra, saya menyadari ada banyak sekali istilah khusus yang belum dikuasainya. Selain masalah bahasa, juga karena Zahra lompat kelas dari kelas 4 ke kelas 5 (agar sekelas dengan teman sebayanya, sekaligus menyesuaikan perbedaan tahun ajaran Jepang-Indonesia). Membuat saya harus memberikan pembelajaran tambahan secara singkat (selain pembahasan soal) untuk menambalnya. Alhamdulillah, sekarang sudah zaman internet ya. Jadi, banyak sekali  materi-materi yang bisa saya unduh dan secara langsung disodorkan ke Zahra ketika kami melakukan video call. Termasuk mencoba tryout UN SD bersama secara online dari link majalah bobo 😀

Menjadi tutor UN dadakannya si Zahra merupakan hiburan tersendiri bagi saya. Pasalnya, di setiap sesi belajar ada saja tingkah-tingkah jahil Zahra yang membuat saya tertawa. Terutama sih kalau dia sudah lelah belajar, misalnya ketika kami sudah membahas pelajaran berjam-jam lamanya.
Screen Shot 2016-05-14 at 12.34.56

Di satu sisi, saya mau tak mau harus mengulang lagi pelajaran SD, bahkan mempelajari lagi hal baru yang (seingat saya) nggak pernah saya pelajari di SD. Seperti pagi ini ketika kami membahas ikan lele. Wow, ternyata ada juga pelajaran tentang ciri khusus hewan dan fungsinya yang secara detail membahas dunia per-lele-an, per-trenggiling-an, dan kawan-kawannya.

Saat yang paling menyedihkan dari sesi belajar ini adalah ketika saya nggak berhasil menjawab soal dari buku latihan UN, atau jawaban saya ternyata tidak sesuai dengan kunci jawaban si buku latihan. Jadi ingat acara “Are you smarter than the 5th grader” kan..

Contohnya saja ketika soalnya seperti ini:

1.kecipir
2. jagung
3. kacang panjang
tumbuhan tersebut dikelompokkan pada kelompok yg smberdasarkan…
A. bentuk pertulangan daun
B. jumlah keping biji
C. jenis batang
D. tempat hidup

Ya ampun, saya aja lupa kecipir itu apa. Setelah berusaha googling dan membaca beberapa ulasan tentang klasifikasi tentang tumbuhan, saya masih belum juga dapat menyimpulkan jawaban yang benar dari soal tersebut. Mau nebak jawabannya?

Tak hanya satu, beberapa soal pun ada yang begitu ambigu sehingga saya tak tahu harus menjawab bagaimana. Kejadian-kejadian macam inilah yang membuat saya merasa jadi, duh masa pelajaran SD aja nggak bisa, itu nanti kalau anaknya jadi makin bingung gimana?

Aah, doakan saya bisa jadi guru pro suatu saat nanti!

Anyway, dari kasus persiapan UN Zahra dan beberapa kasus serupa (stres bahasa anak-anak Indonesia yang lahir dan/atau besar di luar negeri lalu kembali ke Indonesia), saya jadi semakin menyadari bahwa memberikan pendidikan bahasa Indonesia di negara asing untuk anak-anak seperti mereka tuh..penting. Penting untuk survival si anak-anak di Indonesia, juga untuk menghindari depresi/frustasi yang mungkin mereka alami. Eits jangan salah ya, belajar bahasa juga bisa bikin stres :p

Kenyatannya karena barrier bahasa inilah, banyak anak-anak yang akhirnya kesulitan mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah top. Bagaimana bisa lolos kalau memahami arti kata dalam soalnya saja belum bisa? Atau ketika ujian sekolah harus dibantu oleh guru?

Alhamdulillah di beberapa tempat di Jepang sudah ada wadah untuk anak-anak belajar bahasa Indonesia. Contohnya di Nagoya melalui Sekolah Bhinneka, komunitas belajar non formal di bawah PPI Nagoya, dan di Oarai melalui Rumah Belajar Indonesia Oarai yang dibentuk oleh komunitas orang Manado di sana.

Duh saya merasa terharu dan bangga banget dengan founder sekolah/rumah bahasa itu. Mereka peduli banget ya sama anak-anak :”

Mungkin..di Indonesia perlu juga ya bikin semacam sekolah Bhinneka? #dansayaakansenangsekali 😀

Btw mohon doanya yaa buat si teteh dan anak-anak Indonesia yang lain, semoga lancar UN-nya dan nggak stres, tetap jadi anak-anak yang bahagia ❤

Mau kenalan dengan Sekolah Bhinneka? walaupun lagi vakum sih kegiatan sekolahnya :”
bisa cek di sini:
Rumah Belajar Indonesia Oarai:
Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s