Posted in Hujan-Panas

Suara yang Hilang

Tidak seperti hari-hari biasanya. Siang ini sepi. Maka kucoba melaah satu-satu; suara mobil yang menderu, burung-burung bersiul, gelak tawa dari jalanan seberang, bunyi “ping” notifikasi LINE kamar sebelah, dan sirine ambulans yang menggema kadang-kadang. Ada, semuanya masih ada. Tapi..rasanya tetap ada yang hilang. Apa?

.

.

.

.
.

.

.

Dan baru tersadar, gemericik air, alunan filter akuarium, serta suara kecipak yang selama 1,5 tahun menemani ternyata telah pergi. Sesungguhnya kamarku sunyi. Sejak kemarin hari.

..

IMG_8046

Perkenalkan, mereka Me, Ji, Ku, Hi, dan Bi, lima ekor ikan emas warisan dari 4 keluarga sebelumnya. Aku tahu orang-orang bingung membedakan mereka. Tapi sesungguhnya mudah saja. Sebagaimana panjang gelombang cahaya, nama mereka diurutkan dari ukuran terbesar dan panjang tubuh terpanjang.

Me, si Merah adalah ikan emas yang paling besar. Disusul dengan si kembar Jingga-Kuning (yang bisa dibedakan dari matanya), si Hijau, dan yang paling berbeda, si Biru.

Beberapa musim yang lalu, ketika Keluarga Pelangi masih utuh, aku juga memiliki Nila dan Ungu yang satu species dengan si Biru. Qadarullah, Ungu mati seiring dengan garangnya musim panas di Nagoya, disusul Nila yang akhirnya juga meregang nyawa di musim gugur setelah sekarat dua malam dan tak tertolong meskipun sudah diberikan pertolongan darurat.

~~~

Memiliki ikan-ikan dalam sebuah akuarium ukuran sedang memang agak merepotkan, sekaligus menyenangkan. Dengan kehadiran mereka, beban biaya hidupku bertambah (untuk memasok makanan, peralatan, dll). Tapi di saat yang sama, aku juga jadi punya teman untuk disapa, diajak bermain, dan digoda di pagi hari—terutama ketika mereka sedang lapar (smirk)—which sometimes successfully relieved my stress. Oh ya, ketika summer juga biasanya teman-teman sekontrakan nimbrung dan menumpang tidur di kamarku. Selain untuk menggunakan AC bersama-sama (ceritanya hemat listrik), juga karena ada suara gemericik air akuarium yang katanya menenangkan.

1,5 tahun memelihara mereka “memaksaku” belajar hal-hal baru termasuk di antaranya bagaimana mengatur waktu agar aku tetap bisa melakukan pencucian akuarium besar-besaran minimal sebulan sekali (yang biasanya juga harus berakhir dengan membereskan kamar mandi), mengganti air dan biobag (untuk filter air) dua pekan sekali, memahami bahasa mereka terutama “aku lapar” dan “aku stres”, serta membaca artikel-artikel tentang ikan mas, perawatan akuarium, dan tetek bengeknya. Seru sih.
Satu jam sebelum Keluarga Pelangi pindah rumah..

Nis, nggak nangis? Udah baperan sama mejikuhibi?

-teman kontrakan

ah. kok jadi gini.

 

 

 

 

 

 

apalah. padahal lagi dikejar deadline progress report.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

6 thoughts on “Suara yang Hilang

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s