Posted in Hujan-Panas, Tuna Wisma

Endorse

“Kamu ngapain?” Apa-apaan, datang-datang wajahnya begitu.

“Aku kan udah bilang, bantuin aku bentar. Aku tahu kamu pinter ambil gambar.” Kupandangi penampilanku sore itu di cermin besar dalam kamarku. Dari cermin itu juga bisa kulihat wajahnya.

“Sudah kubilang juga, jangan suka mengerutkan keningmu. Apa-apaan, masih gadis mau tampak tua.”

“Kamu ngapain sih.” Nadanya datar, tapi aku tahu ia ingin bertanya.

“Apa?” Tepi ranjangku bergerak. Kududukkan diriku tepat di sampingnya. Pandangannya beralih, meneliti.

“Kamu mau minta aku motoin kamu yang lagi pake ini, dan ini?” Tangannya menunjuk gamis dan kerudungku. Apa lagi ini.

“Aku cuma mau ngajak teman-teman pake pakaian syar’i kok. Sekali-kali juga bantu jualan orang gapapa kan?”

“Ya, dan ngajak lelaki puas memandangimu juga? Dan ngajak orang lain buat pamer kecantikannya kayak kamu?”

Kini, giliran keningku yang berkerut.

“Udah ya, aku pulang.”

Sebentar kudengar suara tawanya dengan ibuku, disusul salam. Dia, masih sama.

IMG_5743

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s