Posted in Hujan-Panas

Menanti Februari

12:20

X: kaakkk tanggal 20 februari kan hari sabtu, tgl 21 nya hari minggu, kakak ada acara nggak di tanggal2 itu?

12:30

A: Insyaa Allah nggak ada 🙂

A: Belum ada sih, wkwk. Kenapaa? X mau main ke sini?

23:09

X: Kak ke tokyo lg yuk! Hehe

Dapat balasan begitu saya langsung kaget. Ah masa sih anak ini ngajak jalan-jalan lagi? Kayaknya sih nggak mungkin kalau dia cuma mau jalan-jalan. Lagipula dia tahu saya nggak terlalu suka jalan-jalan, dan saya (sepertinya) tahu bagaimana keadaan dia.

2:35

A:Wkwk mahaaal hha

0:00

X: Kak, assalaamu’alaykum. InsyaaaAllah akan ada akan nikahnya aku dan calon suami aku di Masjid Tokyo Camii tanggal 20 Februari. Kalau kakak berkenan hadir, silakan hadir ya kak…

3:00

A: Masya Allah..

3:01

A: Masya AllahXxxxxx

A: Siapa ituuu

A: Barakallahu fiik :””

X: Kalau mau tau, dtg ya

X: X pengen kakak dtg

A: Aih X..

X: Pengen liatin kakak ke ortu X

A: Gimana dong..

X: Pengen ayah sama mamah kenal kakak

3:02

X: Kenapa kak?

Saya galau, dini hari itu. Galau karena.. sungguh, kali ini saya benar-benar berniat super menghemat. Ada agenda yang benar-benar ingin saya laksanakan. Tapi saya juga nggak bisa mengecewakan salah satu teman yang sudah saya anggap adik sendiri. Bagaimanapun, momen pernikahan itu momen yang penting, bukan?

3:02

A: Bocoran dulu deh~ wkwk

A: Aku cari info tiketnya dulu ya 😉

Dan saya galau, segalau-galaunya. Pesan dini hari itu benar-benar membuat mata saya melek sempurna. Saya merasa… teramat berbahagia, merasa takjub dengan cara Allah menunjukkan kasih sayang dan bantuanNya pada hamba yang sudah menjagaNya. Ya, saya tahu bagaimana perjalanan hidupnya.

Di satu sisi, saya diliputi perasaan bersalah dan inferior. Karena, saya mengenal hidup saya dan entah mengapa begitu yakin akan mengecewakan banyak orang, termasuk si adik ini.

113:49

X: (Sticker Okay)

X: Aku bener2 pengen kakak dateng ❤

 

hei, bagaimanapun, saya menanti 20 Februari itu. Tikets (finally) booked! Alhamdulillah. Ini akan jadi kondangan pertama saya di Jepang. Mungkin terakhir? Tidak tahu.

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

2 thoughts on “Menanti Februari

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s