Posted in Cat Warna, Rupa-rupa

Dari Sampah Cemilan Kentang

IMG_7210
dari kiri ke kanan: celengan, tempat renda dan manik-manik, tempat lap kain, tempat pita dan pernak-pernik handmade yang kecil, tempat pasta gigi, dan yang terakhir adalah chip star yang masih original 😀

Aku bukan orang yang suka banget ngemil, tapi selama tinggal di Jepang keripik kentang (potato chip) jadi salah satu cemilan yang paling aku gandrungi. Tipe keripik kentang yang paling aku suka itu yang biasa dikemas dalam tabung-tabung (can) semacam Pringles, Chip star, Mr. Potato, atau dkk. Cuman ya itu, nggak semua varian rasa bisa dicoba karena faktor kehalalan yang nggak jelas, atau malah emang nggak halal. Untuk lebih amannya, kadang aku lebih milih produk keripik kentang dari Malaysia yang sudah berlabel halal dan diual di toko makanan impor (lebih murah pula!).

Saking sukanya, pernah di suatu masa aku nggak pernah kelewatan beli keripik kentang seminggu sekali. Walhasil, wadah-wadah bekas keripik-keripik itu menggunung di kamar. Agak aneh memang buat sebagian orang, kenapa gak dibuang aja kalo habis makan?

Nah, itulah. Aku termasuk orang yang suka mikir

Ah sayang kalau dibuang sekarang, kayaknya bisa dibikin sesuatu deh.

Kayaknya varian yang ini nggak ada di Indonesia deh. atau..

Jadi sebenernya ini masuk mueru gomi apa plastik atau apasih?!

Yang semuanya berakhir dengan.. Ya udahlah simpan aja dulu. 😀

Hingga suatu waktu, aku mulai kepikiran untuk mengalihfungsikan tumpukan sampah itu jadi sesuatu yang sedikit berguna seperti yang bisa dilihat di foto. Lumayan sih, barang-barang printilan (kecil-kecil) ku yang lain jadi punya rumah sekarang 🙂

 

 

 

**PS, ada satu yang nggak ada di foto: speaker hape. Kalo penasaran bisa coba googling aja “Pringles speaker” atau semacamnya 😀

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

2 thoughts on “Dari Sampah Cemilan Kentang

    1. Iyaa, kalo di sini cari yang ada label halalnya pasti ribet banget (alamat gak makan apa2 kecuali nemu toko halal/toko makanan impor). Aku jadi biasanya cek ingredients aja hehe. Kalo ada bahan yang syubhat baru kroscek lagi 🙂

      Like

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s