Posted in Hujan-Panas

Bandara

bandara

Hari Senin pagi pukul sembilan lewat sekian belas menit akhirnya aku sampai di pintu kedatangan internasional Bandara Internasional Chubu. Sepagi itu, sudah ada banyak orang.

Di depanku berdiri seorang bapak kira-kira umur 30-an tahun, mukanya lelah dan mengantuk. Tangannya memegang erat selembar kertas bertuliskan nama orang yang ditunggu. Sedari kapan bapak itu di sini?

Di sisi lain pintu, sepasang kakek-nenek tampak menatap pintu kedatangan. Sekali-kali pandangan mereka menyisir ruang tunggu di dekat kami. Menunggu siapa ya? pikirku.

Di samping kiriku beberapa orang asing berkulit sawo matang, entah dari negara mana sedang berbincang asyik. Kadang-kadang tertawa keras, menarik perhatian yang lainnya. Hmm..kalau ada teman pasti aku nggak kesepian begini.

Aku menoleh ke belakang. Nampak di sana seorang ibu-ibu paruh baya sedang mendorong kursi roda dengan lelaki tua duduk di atasnya. Mereka berhenti tepat di dekat pintu lift. Ah kasihan bapak itu, sakit apa ya? 

Anak-anak. Manusia-manusia kecil yang (hampir) selalu jujur dengan diri mereka. Mereka ingin bermain, dan di besi-besi kursi pun mereka bermain. Ada yang baru tertatih-tatih berjalan, tapi penuh rasa ingin tahu hingga pergi ke sana ke mari hingga orang tuanya harus selalu mengikuti si bayi. Ada yang asyik mengobrol dengan teman (yang kuyakin) baru dikenal lalu saling melirik mainan yang dimiliki. Ada yang berusaha menerobos kaki-kaki orang dewasa dan membuat orang tuanya geleng-geleng kepala. Dasar anak-anak. Pengen godain satu aja, tapi boleh nggak ya? 😀

Pukul 9:44, pesawat dari Helsinki yang kutunggu akhirnya mendarat. Aku masih berdiri di tempat yang sama, sesekali menggerakkan kaki karena pegal sambil memperhatikan orang-orang yang makin banyak berdatangan. Makin banyak anak-anak.

Sambil meneliti satu per satu orang atau kumpulan orang yang keluar dari pintu kedatangan, aku berusaha menenangkan hatiku. Bunyinya bermacam-macam, kalau kamu bisa mendengarnya. Ada rindu yang membuncah untuk segera kembali ke tanah kelahiran bertemu keluarga dan teman-teman, ada segenggam harapan yang hampir muncul kembali setelah hampir mati, ada iri yang dengan keras kudorong untuk pergi, ada bahagia, sedih, gugup, bahkan mulas yang aku tidak tahu kenapa selalu datang tiap kali harus ke bandara.

Aku dengan sepenuhnya yakin bahwa emosi itu terbawa oleh arus memori dari dalam kepalaku. Ya semua yang berhubungan dengan tempat itu: tempat pertama yang kudatangi ketika sampai di Jepang 3 tahun lalu, tempat aku melepas teman-teman tersayangku, tempatku menjemput orang-orang yang sepenuhnya baru, tempat yang harus kujejaki meski aku belum sepenuhnya mau, tempat..berjuta emosi. Saking banyaknya, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya.

Beberapa saat kemudian, kulihat sekumpulan orang asing berkulit sawo matang yang tadi tertawa bersama akhirnya bertemu dengan orang-orang yang mereka tunggu.

Tak lama kemudian pasangan suami istri (sepertinya) asli Jepang yang sejak pagi sibuk mengejar anak-anak mereka pun tampak merangkul kawan mereka yang baru datang, bule dengan bahasa Jepang terbata-bata. Si bule mencium pipi dan memeluk anak pasutri Jepang itu dengan gembira, “Spain style!” katanya. Oh, mungkin kawan lama.

Dari sisi kananku seorang kakek dengan kruk rupanya sibuk menyambut tiga orang yang baru datang, seorang wanita Jepang berusia kisaran 30-an tahun, dan dua anak remaja berwajah bule. Tampak raut wajah si kakek sangat gembira, memeluk wajah sambil mencium kening dua anak remaja itu. Itu cucu-cucunya ya? Wah pasti bahagia bisa dikunjungi cucu yang tinggal jauh.

Sebagian besar orang yang pagi tadi kulihat menunggu akhirnya berlalu pulang. Hanya bapak muka mengantuk yang masih bertahan di depanku. Mukanya nampak cemas, orang yang ditunggu tak kunjung muncul. Mungkin juga, dia sudah lelah. Tapi akhirnya, seseorang pun menghampirinya. Ia pun tersenyum, lega. Akhirnya.. 🙂

Eh, sebenarnya aku juga cemas plus excited. Tamuku belum muncul juga. Si mbaknya baik-baik aja kan ya? Pikirku sambil melamun.

“Dek!”

Eh? Si mbak datang juga. Kerudung hijau dengan mantel biru. Ia memelukku sambil tersenyum. Kubalas senyumannya lebar-lebar. Merasa teramat lega sekaligus..

Wah, si mbak keren ternyata lebih imut dariku 🙂

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s