Posted in Hujan-Panas

Si Anak Nasi Goreng Keju

Tiba-tiba, hari ini aku teringat dengan seseorang dari masa laluku. Teman, sekaligus musuh di zaman seragam putih-merah. Dialah si S, anak nasi goreng keju. Permusuhan kami, seperti umumnya anak sekolah dasar yang memang kekanak-kanakan, hanya berlangsung seminggu dua minggu meski jejaknya masih ada sampai kini.

Waktu itu, kami sama-sama duduk di kelas 6. Karena ada pelajaran tambahan menghadapi EBTANAS hingga pukul 3 sore, kami diminta membawa bekal dari rumah. Nah, ibuku biasanya membawakan bekal dari menu dagangan yang kami punya. Ketika itu ibu dan bapak memang berjualan di pinggir jalan dari sore-tengah malam. Jualan ibu macam-macam, tapi yang utama adalah gorengan dan sayur orem-orem khas Malang (sayur kuah dengan isi tempe-tahu).

Orem-orem khas Malang. Sumber dari sini.
Orem-orem khas Malang. Sumber dari sini.

Suatu ketika, si S yang duduk di dekat bangkuku dengan nakalnya (aku tak mau menyebut jahat) mengataiku. Katanya, anak tukang orem-orem lah, orem-orem itu tak enak lah. Kontan saja aku marah dan membalas perkataannya dengan mengatakan bahwa ia adalah anak nasi goreng keju, tidak bisa makan makanan tradisional, dan entah apa lagi. Aksi saling mengolok antara aku si super pendiam dan S si anak gaul pun tak terelakkan di hari itu hingga beberapa hari berikutnya. Berhari-hari setelahnya, aku masih mendendam. Aku masih betah mengatainya, apalagi ketika suatu hari dia ketahuan tak pernah tahu rasanya makan Brem (nama cemilan tradisional hasil fermentasi). Masa’, Brem enak dibilang basi?

Mengingat masa itu membuatku kadang tersenyum sendiri. Betapa kekanak-kanakannya kami. Betapa tak cerdasnya diriku membalas olokannya dengan olokan yang kalau dipikir-pikir lagi lebih karena rasa iriku. Iyalah, aku saja tak pernah tahu rasanya makan nasi goreng keju sampai hari itu. Kalau tahu rasanya enak, mana mungkin mengoloknya begitu 😀

Tapi, tak urung juga mengingat momen yang satu itu aku merasa sepatutnya banyak-banyak menghargai kerja keras bapak-ibuku. Mereka menjaga tenda jualan kami sore-tengah malam, sementara pagi-siangnya harus memasak lauk untuk dijual (bapak bekerja disiang hari) sekaligus meladeni anak-anaknya. Tak jarang ibu/bapak pulang dengan keadaan tak enak badan karena terpaan angin malam, sementara barang dagangan masih banyak tersisa. Anak-anaknya? Seolah apapun yang terjadi, kami masih bisa tidur lelap di malam hari.

Kejadian itu juga yang membuatku harusnya ingat untuk selalu mensyukuri setiap makanan yang kudapatkan. Zaman SD dulu, kami sangat jarang makan lauk pauk dari ayam apalagi daging sapi. Tahu, tempe, ikan teri, ikan pindang, sambal, dan lalapan adalah sahabat makan kami. Kami tak kenal pasta, macam-macam rasa pizza (meski bapak pernah beberapa kali membawakan pizza pemberian dari temannya), escargot dengan olive oil, udon, cwie mie, atau rasa burger mcDonald. Bahkan ada masa (alhamdulillah untuk masa-masa itu yang sudah berlalu) ketika kami harus makan nasi sisa kemarin yang sudah tak enak lagi rasanya, karena tak ada beras lagi untuk ditanak.

Hingga kini dan sejak beberapa tahun yang lalu sejak masih di MAN IC, aku sering merasa miris melihat orang-orang membuang makanannya karena alasan yang kurang bisa kuterima, kurang sedap lah, tak suka lah, kurang ini lah, terlalu banyak itu lah. Kalau memang tak mau, mengapa diambil? Mengapa dibeli? Mengapa dibuang? Terlebih..mengapa dicaci? ⇒Note to myself⇐ Padahal ada jutaan orang di luar sana yang gemetaran karena tak makan seharian, menangis karena tak bisa menanak cukup nasi untuk membuat tidur anaknya tenang. Hanya karena tak pernah merasakan kekurangan, bukan berarti kita bisa bebas tak peduli kan?

♥♥♥

Dan ngomong-ngomong S, kalau kamu baca tulisanku – walaupun hampir tak mungkin – aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih untuk kenangan yang mengingatkanku agar bersyukur atas banyak hal, terutama makanan, pengalaman, keluarga, kehidupan di MAN IC dan Jepang yang sudah kudapatkan. Semoga kamu pun begitu. Dan apakah kamu tahu? Aku sudah tahu loh bagaimana rasa nasi goreng keju 🙂

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s