Posted in Cat Warna

Career Path Seminar: Grad School

after-graduation005“Congratulation, you’ve graduated! Now what?”

“Habis lulus mau ngapain?”

Sebelumnya saya ucapkan selamat untuk kakak-kakak senior yang baru saja mendapatkan gelar Sarjana, Master, atau Doktor, juga untuk adik tutor saya di MAN IC, Ida, yang juga baru saja menyelesaikan gelar D1-nya. Barakallahu fiikum!

Sama seperti pertanyaan di awal tulisan ini, saya – selain bertanya pada orang lain – mempertanyakan hal yang sama pada diri sendiri. Berbagai cabang pertanyaan pun memenuhi kepala saya. Apa yang akan saya lakukan setelah lulus? Langsung bekerja? Di mana? Pekerjaan apa? Atau melanjutkan kuliah? Di mana? Masih jurusan yang sama kah? Dan ternyata, menemukan jawabannya tak semudah merangkai pertanyaannya.

Anyway, di sini saya akan menuliskan beberapa hal yang saya dapat dari Career Path Seminar for Nagoya University International Students yang diorganisir oleh para profesor G30 Program. Karena pada dasarnya seminar ini ditujukan untuk kami, mahasiswa internasional program sarjana tahun ke-4 di Nagoya Univ, jadi pada beberapa aspek mungkin hanya berlaku untuk international students di Jepang. Tapi, sebisa mungkin akan saya sampaikan hal-hal yang general.

Dua Pilihan

Ada dua jalan besar yang bisa dipilih ketika kita lulus dari jenjang sarjana: melanjutkan kuliah atau bekerja. Meskipun, tak menutup kemungkinan ada pilihan ketiga atau empat seperti: menikah. Masing-masing orang tentu memiliki kondisi, tujuan, dan rencana karir yang berbeda, maka tidak bisa mutlak dikatakan seeorang harus melanjutkan studinya ke jenjang pascasarjana, atau seseorang harus bekerja setelah lulus. Semuanya harus disesuaikan dan direncakan dengan banyak pertimbangan.

Jika aku memilih melanjutkan ke jenjang S2…

Hal pertama dan utama yang harus dilakukan jika ingin melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi adalah research! Mencari tahu semua informasi tentang bidang yang kita inginkan. Jangan bergantung pada orang lain jika kita benar-benar ingin kuliah. Yang kuliah kan kita, masa iya sih untuk detail persyaratan saja kita minta orang lain yang mencarikan? Hei, zaman sekarang internet sudah di mana-mana, Bung!

Oh ya, di sini saya akan membahas program pascasarjana di luar negeri dengan catatan khusus untuk beberapa negara. Nah, untuk lebih mudahnya kita bisa membagi poin-poin bahasan kita dengan 5W+1H (what, where, why, when, who, how).

What

Jurusan apakah yang mau kita dalami? Cari tahu apa yang benar-benar ingin kita pelajari. Jangan sampai kita memilih jurusan yang nantinya tidak kita pelajari sungguh-sungguh. Ingat, persiapan untuk lanjut kuliah itu tidak murah. Belum lagi jika mendapatkan beasiswa, bagaimana pertanggungjawaban kita jika tidak bisa memberikan hasil maksimal karena tidak menikmati jurusan yang kita ambil?

Where

Mau ke luar negeri? Di mana? Tentukan satu atau beberapa negara yang memang ingin kita jadikan sebagai destinasi belajar. Terkait hal ini banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti: culture, biaya hidup, bahasa, dan kemudahan menjalankan ibadah bagi pemeluk agama tertentu.

Setelah menentukan negara yang ingin dituju, kita juga harus menentukan tempat spesifiknya. Di universitas mana? hal yang patut dipertimbangkan: persyaratan, tuition fee, kemungkinan mendapat beasiswa, suasana kampus, kertersediaan jurusan yang kita inginkan di universitas tersebut, kurikulum, dll. Tentu saja langkah pemilihan negara bisa dilewati dan langsung ke pilihan universitas jika memang sudah ada universitas yang diinginkan. Tapi lagi-lagi, pertimbangan tentang kehidupan di negara tersebut harus dipertimbangkan juga.

When

Kini, asumsikan sudah ada beberapa nama universitas di daftar tujuan kita. Kita juga sudah melakukan riset tentang jurusan, kehidupan mahasiswa di univ dan negara tempat univ tersebut, dan banyak hal. Saatnya kini memperhatikan segala tetek bengek pendaftaran, termasuk deadline. Seperti yang disampaikan oleh Ms. Yoko Yamamoto dan Ms. Satomi Niwa dalam seminar kemarin, ada banyak applicants yang kurang memperhatikan deadline. Hal ini tentu menjadi penghambat sekaligus penyebab kegagalan aplikasi kita. Tentu saja kita harus memperhatikan terutama untuk negara-negara yang memiliki perbedaan waktu besar dengan tempat kita tinggal.

Dengan mengetahui deadline aplikasi, kita juga bisa memperkirakan banyaknya waktu yang kita butuhkan untuk melakukan persiapan.

Who

Menemukan orang yang tepat untuk dikontak selama proses aplikasi sangatlah penting. Tentu saja kita bisa menghubungi staf administration office dari universitas tujuan kita, tapi juga tak menutup kemungkinan (bahkan sangat disarankan oleh profesor saya) untuk menghubungi profesor jurusan yang kita inginkan secara langsung, walaupun keterangan di web melarang kita menghubungi staf lab secara personal.

Sedikit tips dari para profesor saya, mereka sangat menyarankan applicant untuk menghubungi profesor lab/jurusan secara langsung dan menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan studi. Dalam menghubungi profesor pun ada taktiknya. Mungkin sebagian dari kita menginkan posisi sebagai student di lab/jurusan yangpopuler dengan profesor yang populer juga. Profesor yang populer (bahkan yang kurang populer pun) sudah pasti memiliki kesibukan yang amat padat. Puluhan hingga ratusan email bisa saja masuk dalam waktu sehari. Tentu saja, mereka akan membuang dan mengkategorikan email sebagai spam jika email tersebut tidak ‘menarik’ atau tidak penting baginya. Maka, buatlah email yang ‘eye catching’ dalam artian benar-benar menunjukkan ketertarikan kita pada professor tersebut.

Salah satu contoh email yang tidak menarik di mata professor adalah email yang menyatakan kalimat-kalimat seperti berikut:

“I am …… I want to join your famous laboratory, working with your famous research…”

Famous, kata ini bukanlah kata pilihan yang baik karena ia tidak spesifik. Bagaimana profesor tersebut bisa menangkap kesungguhan dalam ketertarikan kita jika kita hanya menyebut “famous” saja?

Oh ya, jangan lupa juga untuk mencoba mengkontak kenalan/anggota di lab/jurusan yang bersangkutan. Sungguh, informasi dari senior akan sangat bermanfaat.

How

Dan sekarang, sampailah kita pada pertanyaan, “Bagaimana?”

Bagaimana kita bisa sampai ke sana? Beasiswa atau mandiri? Jika beasiswa, apa? Jika mandiri bagaimana? Kemampuan finansial tentu harus dipikirkan masak-masak. Tidak mau kan, sudah datang lalu malah jadi gelandangan? Belum lagi, di sebagian negara kita diharuskan memiliki kemampuan finansial yang mencukupi (dengan batas minimum tertentu) agar tidak luntang lantung di negara mereka.

Selanjutnya, kemampuan bersertifikasi apa saja yang kita butuhkan? Biasanya untuk program berbahasa Inggris, sertifikat IELTS atau TOEFL dengan nilai minimum tertentu sangat dibutuhkan. Nah, biaya tes IELTS atau TOEFL ini tidaklah murah. Pun, untuk non English speakers, tidaklah mudah. Maka, sepatutnya dipersiapkan dengan baik, termasuk menyediakan waktu (sebaiknya) beberapa bulan sebelumnya untuk persiapan juga mencari tahu test center di daerah dekat tempat tinggal.

Selain TOEFL, IELTS, atau TOEIC, ada juga sebuah tes bernama GRE yang biasanya dibutuhkan untuk mendaftarkan diri ke universitas di Amerika Serikat. Tes ini juga tidak mudah, mencakup tiga macam: analytical writing, verbal, dan quant, ditambah subject lain yang berbeda-beda tergantung dengan jurusan yang akan kita tuju. Analytical writing bukanlah esai biasa seperti pada tes TOEFL atau IELTS. Di sini kita diharuskan menganalisa dan memberikan argumen. Pada sesi tes verbal, akan banya kditemukan kata-kata yang mungkin sangat tidak familiar, bahkan untuk native speaker. Untuk itu, diperlukan persiapan matang seeprti melatih kosa kata dan membaca artikel. Sedangkan pada sesi quant, kita akan diminta untuk menjawab soal-soal matematika setara materi SMA di US. Oh ya untuk informasi, pada verbal dan quant test terdapat 2 sesi yang sifatnya, jika sesi pertama kita bisa menyelesaikan dengan baik, sesi berikutnya akan menjadi lebih sulit daripada yang sebelumnya. Dan otomatis, ini akan menjadi nilai lebih bagi kita. GRE juga membutuhkan biaya yang besar, kurang lebih USD 195.

Tips: agar sukses untuk tes-tes berbahasa Inggris, kita bisa melatih sekaligus menambah kosa kata kita dengan one day one word dimulai dari sekarang. Setiap satu kata baru (usahakan kata yang tidak familiar) yang kita ingat, harus kita praktikkan. Tentu saja ini akan sangat membantu kita mengurangi beban persiapan tes.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s