Posted in Hujan-Panas

Untuk Satu Tahun yang Tersisa

Akhirnya, per 1 Oktober tahun ini aku resmi berstatus mahasiswi tahun ke-4. Dan sebagaimana yang diwajibkan oleh pihak fakultas, aku harus memilih satu laboratorium sebagai tempat berlabuh selama setahun ke depan dan tentu saja, membuat skripsi. Setelah melalui perjalanan panjang mengenal kurang lebih 25 lab, aku memilih lab Professor Yoshinori Fujiyoshi yang sebenarnya secara resmi termasuk dalam fakultas farmasi (bisa intip-intip di sini) Karena bukan bagian dari Fakultas Sains, maka kami menyebutnya lab afiliasi.

Tentang Pergi ke Lab

Salah satu sisi positif dari labku adalah: kami tidak memliki core time. Artinya, kami tidak diharuskan datang pukul sekian dan baru boleh pulang pukul sekian. Kami bebas datang dan pergi kapan saja, bebas tidak datang ke kampus/lab juga, bebas mengatur jadwal riset, asalkan tetap datang ke seminar yang diadakan sepekan sekali tiap hari Kamis. Dengan peraturan ini kami bisa dikatakan bebas lepas, berbeda dengan beberapa lab lain yang memberikan batasan minimal 8 jam di lab, ada absen, dsb.

Kekurangannya, justru karena jadwal yang sangat bebas ini kami harus pandai mengatur diri sendiri. Kalau gagal dan malas-malasan, bisa-bisa riset akan terganggu dan tidak selesai sesuai batas waktu (kelulusan).

Penampakan bagian depan gedung. Gedung baru ^^/
Penampakan bagian depan gedung. Gedung baru ^^/

Gap Junction dan Malaria

Di Department of Basic Biology/Department of Cellular Physiology, terdapat banyak grup riset dengan Prof. Yoshinori Fujiyoshi sebagai bosnya. Aku sendiri berada di bawah pengawasan Oshima sensei yang memfokuskan diri di bidang gap junction.

Alhamdulillah, lab prof Yoshi bisa digolongkan ke dalam lab yang kaya dengan sumber dana. Maka dari itu, ketika aku dan salah seorang teman sejurusanku memilih lab ini kami diperbolehkan menyampaikan apa saja hal yang ingin kami teliti. Supervisor dan professor kamilah yang selanjutnya akan membantu kami menentukan dan merealisasikan graduation research kami. Tentu saja dengan kucuran dana yang cukup, kami tidak akan terlalu bermasalah jikalau pun mau melakukan riset yang butuh banyak biaya. Sejak sebelum memilih lab ini, aku menyatakan ketertarikanku pada riset tentang malaria. Bukan karena alasan apa-apa, aku hanya berkeinginan melakukan riset yang lebh applicable dan mungkin bisa diaplikasikan di Indonesia – mengingat suatu saat nanti aku pasti pulang ke Indonesia, insyaa Allah. Alasan lain, karena aku sudah bosan bertemu dengan Arabidopsis thaliana, C. elegans, Xenopus, atau medaka. Kalau mau jujur sih, penelitian-penelitian lain di School of Science, fakultasku, bukan yang mudah diaplikasikan. Mengutip kata prof. Mizukami, “Mungkin penelitian kita tidak bisa langsung diaplikasikan, tapi setidaknya mungkin akan dimuat di buku pelajaran 10 atau 100 tahun lagi.”

Lalu, apa hubungannya gap junction, yang notabene fungsinya untuk komunikasi antara sel yang bertetangga, dengan malaria? Menurut salah satu penelitian, ternyata gap junction dalam tubuh nyamuk Anopheles berfungsi untuk memediasi respon anti-Plasmodium (parasit penyebab malaria). Nah, tujuan akhir dari penelitianku sebagaimana yang disarankan sensei adalah mendapatkan struktur dari gap junction tersebut. Oh ya, dengan tujuan akhir mengungkap struktur suatu molekul, untuk setahun ke depan aku juga akan belajar bagaimana menggunakan mikroskop elektron yang besar (ukuran dan harga)nya nggak tanggung-tanggung itu 😀

Mengapa struktur? Dalam tubuh makhluk hidup, struktur sangat erat kaitannya dengan fungsi. Dengan mengetahui struktur suatu molekul seperti protein misalnya, kita bisa memperkirakan fungsi dari dari protein tersebut. Dalam bidang kedokteran juga, hal ini akan sangat bermanfaat untuk membuat suatu obat (misalnya obat yang berfungsi sebagai inhibitor pada protein).

Map
Map

Ngomong-ngomong…

Ngomong-ngomong, gedung labku terletak di bagian (hampir) paling belakang kampus. Untuk sampai ke sana, diperlukan kira-kira 45 menit berjalan kaki dengan kecepatan normal. Jika buru-buru, bisa juga dalam 30 menit. Alhamdulilah, lumayan untuk olahraga 😀

Dari jauh..dari ujung ke ujung.
Dari jauh..dari ujung ke ujung.

Tautan:

Innexin AGAP001476 is critical for mediating anti-Plasmodium responses in Anopheles mosquitoes.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s