Posted in Cat Warna

Jilbabnya di Orde Baru

Sore itu selepas sholat maghrib berjamaah, aku sedang sibuk dengan pikiranku ketika kurasakan tangan lembut seseorang di punggungku. Dia, ibu itu, mengelus lembut punggungku sambil tersenyum.

  • Bu U: “Nisa kelahiran tahun berapa?”
  • Aku: “Tahun..1995 bu.” (Sambil berpikir, apa mukaku terlihat jauh lebih tua dari umurku?)
  • Bu U: “Ooh.. Berarti itu di akhir masa orde baru ya?”
  • Aku: Alhamdulillah, bukan masalah wajah ternyata.
  • Aku: “Iya bu, kayaknya saya masih ingat. Eh bukan ingat sih..”
  • Bu U: “Bayang-bayang gitu ya?”
  • Aku: “Hihi, iya bu. Kenapa emangnya bu?”
  • Bu U: “Nggak apa-apa, cuman ngelihat Nisa jadi ingat zaman-zaman SMA. Zaman Orde Baru. Saya dulu pake kayak begini juga, polosan. Sama persis, sejak SMA.” (Menunjuk gamis merah hati polos dan kerudung hitam saya yang polos juga)
  • Bu U: “Zaman itu perjuangannya, Masya Allah.. Kalau mau pakai yang kayak begini. Sampai-sampai ada himbauan untuk memendekkan ini (menunjuk kerudung saya) dan memakai baju yang bercorak, nggak terlalu polos gitu.”
  • Aku: (Ber-oh ria)
  • Bu U: “Waktu itu saya pikir kok sampe segitunya ya.. Akhirnya, ya sudah, demi dakwah.” (Mungkin maksudnya beliau mulai memakai gamis bercorak)
  • Bu U: “Waktu itu teman-teman yang pake kerudung juga ada yang pakai cuma kayak boshi (bahasa Jepang, topi) gitu dikasih lilitan kain tipiis..jadi ya seolah-olah bukan kerudung.” (Sambil menunjuk bagian leher dan kepala beliau)
  • Aku: “Ijazahnya gimana bu? Kalau saya pas SD soalnya masih ada peraturan kalo pake kerudung dilihatin kupingnya. Aneh ya?”
  • Bu U: “Ya harus tanda tangan.”
  • Aku: “Tanda tangan?”
  • Bu U: “Iya, kalau mau foto ijazah tetep pake kerudung. Jadi kalau ada apa-apa ke depannya (gara-gara foto itu) ya kembali ke kita sendiri (akibatnya).”
  • Bu U: “Perjuangannnya waktu itu benar-benar…. Kami sampai harus ngotot dengan kepala sekolah. Teman-teman yang tidak kuat akhirnya juga ada yang  pasang-lepas. Berangkat dipasang (kerudungnya), begitu sampai di sekolah dilepas. Nanti pulang dipakai lagi.”
  • Aku: (hanya berdecak kagum)
  • Bu U: “Sekarang ya, alhamdulillah semakin dimudahkan. Sayangnya, makin ke sini semakin tidak ada esensinya. Hanya gaya, mode. Mereka nggak tahu gimana perjuangan (untuk berjilbab) dulu.”

Sore itu juga, kurasakan mendung di mataku. Aku tidak tahu, apa ini untuk syukur bahagia karena kemudahan yang kudapat di zaman ini, atau karena pikiranku selama beberapa hari lalu yang (sempat) begitu ingin pakai gamis motif bunga-bunga di luar rumah seperti si kakak yang itu..

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s