Posted in Hujan-Panas

Kakek Kak Icha dan Emak

Pagi itu, hari Rabu kira-kira pukul 6 JST, microwave kami berdenting, menandakan seseorang baru saja menggunakannya. Kak Icha, tumben sekali, keluar kamar lebih pagi. Pagi itu juga, kak Icha mengabarkan sebuah kabar duka. Kakek tersayangnya meninggal dunia pada dini hari. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kalau aku bilang raut muka kak Icha biasa saja, tentu aku bohong. Walaupun ia tetap memaksakan tersenyum, siapa yang tidak melihat kalau di saat yang bersamaan matanya juga memerah menahan tangis?

Hari itu, kebetulan sekali kami ada kelas Neuroscience bersama Prof. Maria. Tidak seperti biasa, kami belajar di lapangan rumput di depan Toyoda Hall. Seusai kelas – yang kami sangka akan sangat menyenangkan, malah berakhir dengan kepanasan – tinggal aku dan kak Icha yang berdiam di lapangan. Kami mengeluarkan bekal makan siang masing-masing dan memakannya dalam diam. Tak berapa lama, dia menangis. Oke, ini kedua kalinya aku melihat kak Icha menangis. Rupanya, kak Icha benar-benar kehilangan.

Kakek kesayangannya yang meninggal dini hari itu adalah orang yang paling dekat dengannya, paling rajin menyapa lewat BBM dan media sosial lainnya. Ya, kata kak Icha, kakeknya masih sangat aktif meskipun usianya sudah senja. Kakek rahimahullah sangat update tentang gadget, rajin membaca, atau bahkan menulis sesuatu. Maka tak heran, si kakek sama gaulnya dengan cucunya.

Meninggalnya kakek kak Icha mengingatkanku pada momen-momen terakhir bersama nenekku dari pihak ibu. Emak, begitu aku memanggil beliau, adalah salah satu orang yang paling dekat denganku. Aku tinggal berdua bersama nenek selama masa studiku di MTsN Batu. Yang aku tahu, nenekku sangat disiplin, keras sekaligus memanjakan, dan juga sangat aktif.

Emak rahimahallah adalah salah satu orang paling sehat dan semangat yang pernah aku kenal. Hingga akhirnya semakin lama, aku menyadari ada yang salah dari gaya hidupnya. Beliau adalah pengkonsumsi obat-obatan warung yang agak di luar kewajaran (menurutku). Ke mana pun beliau pergi, tak pernah lepas dari bungkusan plastik berisi obat-obatan yang bebas dijual di warung. Anak-anak beliau lumayan sering mengingatkan, sayangnya tidak diindahkan.

Emak terlihat cukup sehat hingga kira-kira di awal masaku menginjak kelas 3 MTs. Beliau sering mengeluh sakit di dadanya, terutama ketika malam tiba. Hingga suatu waktu, ketika sakit tersebut menjadi-jadi, anak-anak emak memeriksakannya ke dokter. Rupanya, jantung beliau membengkak dan terdapat komplikasi pada beberapa organ. Keadaan beliau yang semakin parah membuat bapak dan ibuku pindah ke rumah nenek. Kami tidak lagi tinggal berdua saja, melainkan berlima.

Di akhir masa kelas 3 MTs aku mendapat pengumuman diterima di MAN Insan Cendekia Serpong, aku mengabarkan kepada bapak, ibu, seluruh keluarga, tak luput juga emak. Waktu itu beliau tidak memberikan protes atau komentar apapun. Hingga kemudian, hari keberangkatan tiba. Aku ingat sekali beliau menggenggam tanganku erat-erat, melarangku pergi. Beliau menangis sejadi-jadinya, begitu pula aku. Jujur, itu pertama kalinya aku melihat emak menangis. Emak bilang aku tak boleh pergi, jika aku tetap pergi, aku tidak akan melihatnya lagi. Duh, siapa yang tega jika begitu? Bapak dan ibuku berusaha menenangkan emak hingga genggaman tangannya terlepas. Omku membawaku pergi dan menemani sepanjang perjalanan. Di sepanjang penerbangan Malang-Jakarta itu aku menangis, bukan mengingat perpisahan dengan bapak-ibu, tapi mengingat emakku. Singkat cerita, akhirnya aku pun masuk asrama MAN Insan Cendekia. Bapak dan ibu tetap tinggal di rumah emak dan menjaganya. Sepekan sekali aku menelpon mereka, tapi tak pernah sekalipun berbicara kepada emak. Kabar emak memburuk, kata ibuku.

Suatu hari ketika aku sedang menghubungi ibu, terdengar suara orang ramai di rumah. Ibu tidak mengabarkan apa-apa, hanya beliau bilang ada banyak orang yang menjenguk emak. Aku mengadukan perasaanku yang tak enak sejak beberapa hari sebelumnya pada ibu, tapi ibu hanya menyuruhku tenang.

Waktu berlalu beberapa minggu hingga saat untukku mudik ke rumah tiba. Bapak menjemputku karena saat itu adalah pengalaman pertamaku mudik dari jauh. Di perjalanan akhirnya aku tahu, emak sudah tiada. Tepat di hari aku menelpon ibu. Jika ditanya apakah aku sedih? Tentu saja! Aku mengingat masa-masa tiga tahun menemani emak berdua saja, ketika rumah bocor dan tidak ada pria dewasa yang bisa membantu kami, ketika aku harus memanjat jendela rumah yang tinggi untuk mengganti korden sebulan sekali, ketika emak menjemputku di sekolah karena aku tak kunjung pulang ke rumah…dan ketika emak menangis meraung mencegahku agar tak jadi berangkat ke MAN Insan Cendekia.

Tapi begitulah takdir, setiap orang akan menghadapi kematiannya. Emak meninggal setelah keadaannya agak membaik, meninggal dengan baik, dan aku pun sudah cukup membersamainya tiga tahun. Maka, tidak ada yang perlu disesali. Begitulah bapak dan ibu menghiburku berkali-kali.

Kakek kak Icha, Emak, semoga Allah mengampuni dosa kalian dan melindungi kalian dari adzab kubur. Semoga kelak, kami menyusul kalian juga dalam keadaan yang baik. Aamiin.

“Allahummaghfirlahum, warhamhum, wa ‘aafihim, wa’fu’anhum”

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

5 thoughts on “Kakek Kak Icha dan Emak

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s