Posted in Hujan-Panas

Jari Keriting Transcriber Amatiran

new

Akhirnyaa, dini hari tanggal 30 April yang lalu saya mencapai menit ke-48 lebih 55 detik file rekaman terakhir. Selesai juga tugas saya! Yah setidaknya untuk sementara, alhamdulillah. Tapi tetap saja, jari saya masih terasa “keriting” sampai sorenya, ditambah jari tengah tangan kanan yang sepertinya butuh istirahat total.

Keritingnya karena ngerjain skripsweet, Nis?

You wish! Saya bahkan belum memilih lab untuk berlabuh setahun ke depan, lol. Ini tidak lain karena tuntutan kerjaan paruh waktu saya beberapa hari terakhir sebagai research assistant yang tugas utama dan sebenarnya adalah mentranskripsi file rekaman sebuah wawancara penelitian. Dengan kata lain, tugas utama saya adalah mendengarkan baik-baik percakapan dalam rekaman tersebut dan menuliskan ulang setiap detail yang saya dengar semirip mungkin. Sedetail apa? Ya termasuk juga di dalamnya suara deheman, bunyi dentingan, hingga keheningan yang tercipta di antaranya.

Saya mengambil tawaran menjadi transcriber dadakan ini sejak 7 April yang lalu. Ingatan tentang kebutuhan income yang mendesak membuat saya beberapa waktu yang lalu jadi lebih berbunga-bungan dengan tawaran kerja paruh waktu daripada undangan makan bersama. Dan akibat dari terlalu berbunga-bunga tadi, saya jadi agak kurang mikir panjang temasuk mengambil pekerjaan yang satu ini. Sebenarnya nggak hanya ini sih, tapi ya sudahlah. Tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?

Yang terlintas di pikiran saya tentang kerjaan transcriber ketika mengiyakan tawaran dari kak Median adalah: seru, bisa dibawa pulang jadi bisa mengerjakan tugas lain, tidak memakan waktu lama, dan mudah. Ketika menerima master file dan mendengarkan penjelasan kakaknya pun saya merasa oke-oke saja, malah cenderung menganggap remeh. Dengan pedenya juga, saya mengiyakan deadline tanggal 27 April yang akhirnya saya langgar sendiri 😦

Saya ndak ingat kapan, tapi saya baru membuka file master dari kak Median sekitar sekitar beberapa hari setelah menerimanya, setelah urusan lab visit agak longgar. Dan saya super kaget, file berformat *cda yang saya dapatkan tidak bisa di-rewind atau diputar dengan setengah kecepatan dengan windows media player di PC saya. Setelah memperhatikan kecepatan percakapan di rekaman dan mencoba menuliskan percakapan di menit-menit awal, saya jadi merasa sangsi bisa mengerjakan jika hanya mengandalkan software yang satu itu. Yah, ternyata pekerjaan yang satu ini lebih menantang dari perkiraan saya sebelumnya.

Untuk memudahkan tugas saya, akhirnya saya browsing di internet tentang pekerjaan transcriber dan tips-tips ketika mentranskripsi sebuah rekaman. Salah satu tips yang saya dapatkan adalah: Get transcription software to do the job. Dan pilihan saya jatuh pada Express Scribe yang menyediakan masa trial 30 hari. Versi gratis dari software ini menyediakan berbagai fitur dasar yang penting termasuk rewind, fast forward, play fast speed, play slow speed (kecepatannya bisa kita atur sendiri) yang bisa dimanfaatkan dengan keyboard shortcuts atau foot pedals (yang terakhir saya tidak mencoba).

Alhamdulillah, saya sangat terbantu bekerja dengan software tersebut. Walaupun tetap saja saya merasa kecepatan saya mentranskripsi masih lambat sekali, sekitar minimal jam untuk setiap 10 menit rekaman (diputar dengan kecepatan normal, 100%) dengan akurasi tingkat sedang (?). Padahal… master yang diberikan kepada saya  berdurasi lebih dari 4 jam atau 240 menit. Harusnya sih saya bisa menyelesaikannya dalam maksimal 2 hari dengan syarat kecepatan konstan dan tidak ada kegiatan lain. Tapi kenyataannya, saya begadang berhari-hari karena di 1,5 jam rekaman awal saya masih berkerja dengan kecepatan 50% disambi tugas sekolah, pun setiap hari masih ada kuliah hingga pukul 6 sore JST.  Dan lagi…Saya masih sering terlewat pada bagian-bagian berbahasa Inggris atau Jepang (yang hanya sekitar 20% dari keseluruhan rekaman), sehingga di satu bagian itu ada yang harus diulang berkali-kali. Tak dipungkiri bagian bahasa Indonesia pun masih ada yang terlewat.

Bagian yang paling ‘seru’

Bagian yang paling ‘seru’ dari kegiatan ini adalah ketika semua orang yang terdapat di dalam rekaman itu berbicara di saat yang sama atau berdekatan sehingga terjadi overlap. Bagaimanapun saya harus berusaha mendengarkan perkataan setiap orang, dan menuliskannya (dalam versi saya) kira-kira seperti ini:

I3: Paling tidak dua orang, tiga orang..
S1: (Interrupt) Loh, lebih malah
I3: Iya, lebih dalam artian ada sekali sepuluh, sekali lima orang
I1: (Overlap) Berarti memang mereka memang mereka dibantu oleh sekolahnya..
S1: (Overlap) Sekolahnya

Ini baru sepersekian menit dari percakapannya dengan hanya melibatkan tiga orang di dalamnya. Kenyataannya, keadaan seperti itu ada banyaaaak di dalam satu file rekaman. Setelah mengalami sendiri, saya jadi paham dengan cerita kak Median yang bilang bahwa pernah sekali ia menerima hasil transkrip sepanjang 20 halaman untuk 5 atau 7 menit rekaman dengan 10 orang responden. Wuah!

Pengalaman saya mungkin nggak berarti apa-apa buat orang lain. Tapi bagi saya, ini berharga sekali walaupun, gajinya juga sangat nggak seberapa. Yah kapan lagi kan coba ngetik seheboh itu dan dapat hingga 78 halaman dalam kurang dari 24 jam? Alhamdullillah ternyata ada lagi satu dari sekian kan part-time job yang suitable untuk perempuan berjilbab? Nggak perlu sampai menggadaikan jilbab. Dan lagi..dengan saya tersibukkan dengan transkripsi, saya jadi berusaha lebih baik lagi mengatur waktu. Walaupun masih ada saja yang keteteran seperti tugas di Majalah 1000guru (saya mohon maaf untuk tim redaksi yang sudah saya repotin), Buletin KMI Muslimah, scientific papers yang tidak terbaca maksimal, bahkan kondisi kesehatan yang jadi nggak karuan. Pelajaran penting buat saya: Jangan menunda-nunda dan jangan terlalu menganggap enteng segala sesuatu, terutama hal baru!  Jadi ngerasa kan Nis kalau waktu kamu sesedikit itu gimana??

..Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore..  (HR. Bukhori, hadits ke-40 dari hadits Arba’in Nawawiyah)

Sumber gambar: di sini

Nagoya, Golden Week 3 Mei 2015

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

2 thoughts on “Jari Keriting Transcriber Amatiran

  1. assalamualaikum nisa
    boleh tau gimana cara pake in software?
    kebetulan juga buat transkrip wawancara di skripsi hehe
    selamat lah tinggal nunggu wisuda *sotoy bet

    terima kasih 😉

    Like

    1. Wa’alaikumsalam mbak Ika, boleeh. Mbak Ika pakai iosnya apa? Windows/Mac?
      Iyaa, tinggal nunggu wisuda. Mohon doanya dan semangaat buat skripsinya.

      Kalau misal enakan ngobrol pakai akun lain bisa email saya di annisafirdauswd(at)yahoo(dot)co(dot)id 🙂

      Like

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s