Posted in Hujan-Panas, Telaga

750 kan?

Selamat hari Kamis (kemarin)!

Bagaimana rasanya kalau kamu berhasil merayu seseorang untuk menuruti permintaanmu? Seneng kan? Apalagi untuk yang ini, untuk saya. Seneng banget!

Hari Kamis jadi hari kerja part-time (arubaito) saya di kampus. Sepekan sekali. Kemarin setelah pulang arubaito, saya pergi (lagi) ke rumah bu Ami. Niatnya mengembalikan barang sekalian nengok anak-anak. Ternyata, Namori sedang di rumah. Katanya libur kenaikan kelas 7 hari. Dan..yang jelas dia senang sekali.

Begitu saya berniat meletakkan tas saya di ruang tengah, Namori langsung bilang, “Hari ini saya mau sholat saja, ah. Saya mau sholat sendiri.” Padahal saya belum ngomong apa-apa.

Oh oh, rupanya dia masih terbiasanya dengan “paksaan” saya setiap hari selama di rumahnya: mengaji dan sholat (maghrib). Dan kamu tahu teman? Namori selalu mengajukan berbagai alasan agar hari itu dia bisa melakukan hanya salah satu dari dua hal tersebut. Dan kalau tak ada saya atau tante Salmi-nya atau kakak-kakak lain di rumah itu, entah mengapa, hampir bisa dipastikan dia tidak akan mengaji.

Setelah beberapa lama di sana, berusaha membujuknya untuk ngaji, dan mendengarkan celotehannya tentang apa saja–termasuk cerita princess penderita kanker, saya akhirnya hendak berpamitan pulang. Tapi sebelum itu,

“Namori, ngaji yuk. Sudah 7 hari loh sejak minggu lalu Namori janji mau mengaji sendiri. Tapi tidak mengaji kan?”

“Tidak mau.”

“Yuk, sedikiit saja. Kita mengaji Al-Qur’an deh. Satu baris boleh.”

“Tidak mau.”

“Hei, sudah 7 hari loh Namori. Eh, kayaknya 10 hari deh. Namori 10 hari hanya dapat 2 bari? Hmm… Yuk ambil Al-Qur’annya.”

“Tapi satu baris saja ya!”

Dan dia menggerutu seperti biasa, tapi akhirnya sambil ambil Qur’an juga. Yes, akhirnya berhasil hingga dapat 1 ayat. Tapi kebetulan–dan alhamdulillah–satu baris dalam surat yang sedang dibaca Namori berisi 1,1 ayat. Jadi masih ada kemungkinan meminta dia mengaji satu ayat lagi kan? Jadi,

“Namori, masih ada sisa ayatnya loh itu.”

“Saya baca sampai sini saja ya!” sambil menunjuk akhir baris.

“Tidak bisa Namori, itu jadinya memotong ayat..”

“Huh, tidak mau. Tadi kan bilangnya satu baris!”

“Eh eh, Namori tahu tidak pahala kalau baca Qur’an berapa?”

“Tidak tahu. Memang berapa?”

“Satu huruf itu 10 loh! Coba hitung, Namori tadi dapat berapa?”

Dan kami mulai menghitung hingga huruf ke-10 yang masih termasuk dari bagian sangat awal dari ayat pertama.

“Tuh kan, baru sampai sini Namori sudah dapat 100! Kalau sampai ayat 2 bagaimana coba?Jangan-jangan 500!” Dan ternyata berhasil, Namori mau mengaji lagi hingga ayat ke-2. Yey! 😀

“Jadi saya dapat berapa?”

“Hmm..tidak tahu. Mungkin 500?” Jawab saya sekenanya.

“Coba kakak Nisa hitung! Pasti 500 lewat! Saya kan belum bisa hitung-hitung banyak seperti itu.”

Setelah itu serasa ada sound effect apaa gitu di kepala saya. Saya mulai menghitung dan ternyata ada 75 huruf dalam 2 ayat tersebut. MasyaAllah, banyak juga ya!

“Tuh kan, apa saya bilang. Saya dapat 750!”

(Dalam hati) Perasaan, Namori cuma bilang 500 lewat deh, bukan 750 🙂

 

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

One thought on “750 kan?

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s