Posted in Hujan-Panas

Mori no Uchi ni Tomarimasu

“Nak berapa hari lagi ibu pulang?” Pertanyaan pertama yang saya dengar ketika bangun tidur dua hari yang lalu.

“Kakak Nisa tidak tahu.” Jawab saya sekenanya, sebenarnya saya masih mengantuk.

“Lagi tujuh hari ibu pulang”, kata Namori sambil bergumam sendiri.


“Kakak Nisa, sekarang hari apa?” Katanya beralih dari tablet-nya sejenak.

“Hari… Selasa.”

“Lagi lima hari ibu pulang, kak.” Sambil kembali sibuk dengan entah film kartun princess yang mana lagi di Youtube.


Terhitung sudah sepekan lebih sejak akhir bulan lalu saya menginap di rumah Namori. Ibu Ami meminta tolong saya menemani anak-anaknya, duo super aktif Namori (7 thn) dan Billy (5 tahun), juga tantenya, tante Ira. Sejak sebelum menginap di sini saya sudah membayangkan keaktifan mereka, tapi saya nggak nyangka kalau kenyataan jauuuh lebih heboh daripada bayangan saya.

Sebelum tab punya Namori bisa digunakan lagi, tiap pulang sekolah Namori selalu mengajak membuat kerajinan baru. Walhasil tiap hari saya jadi harus memikirkan sesuatu yang relatif mudah dibuat untuk anak seusianya. Tapi saya senang sih, soalnya jadi ada teman membuat-buat sesuatu. Kami berhasil membuat bunga dari bekas rol tisu, kirigami, kalung dari kertas, dan melukis. Yah, baru itu. Sebenarnya Mori minta saya mencari cara membuat celengan dari barang bekas yg bisa digunakan berkali-kali, tapi kemarin-kemarin saya nggak sempat >_< dan..agak malas sih sebenarnya karena bahan-bahan pendukung utamanya tidak banyak tersedia di rumah bu Ami.

Bunga dari rol tisu yang dibuat bareng namori. Ditutup selotip bening katanya biar terlihat mengkilap dan tidak ada hewan yang masuk.
Bunga dari rol tisu yang dibuat bareng namori. Ditutup selotip bening katanya biar terlihat mengkilap dan tidak ada hewan yang masuk.
Kalung buatan namori dari kertas origami plus manik-manik sisa kreasinya di sekolah.
Kalung buatan namori dari kertas origami plus manik-manik sisa kreasinya di sekolah.

Tapi-tapi, yang namanya membuat kreasi atau main-main begitu biasanya nggak tahan lama (kecuali melukis). Setelah teralihkan sebentar dengan kreasi yang katanya melelahkan – duh, Namori suka lebay – biasanya harus berakhir dengan..

“Kasih pinjam iPad-nya, Billy!”

“Ndak mau.”

“Billy, Billy mau tidak saya kasih ubi satsuma kalau saya belajar masak di sekolah? Mau tidak??”

“Mau..”

“Sini, kasih saya pinjam dulu nah.”

“Hm.. Ndak mau.”

“Billy tidak mau saya kasih pizza? Saya kasih coklat yang banyak tidak mau?!”

“Tidak. Saya mau nonton lift saja.” (maksudnya video tentang lift di Youtube)

“Errrrgh.. Billy nakal. Kenapa tidak kasih saya pinjam. Pelit! Saya tidak akan kasih kalau saya masak bla bla bla…”

“Ihh, kak Namori pelit!” 

Bruk, Gubrak, Jedug..

“Sakit.. Billy!” 

Entah apa lagi ._.

 

Masih 5 hari lagi.. masih bersambung, insyaa Allah.

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s