Posted in Cat Warna

Nama Saya SMONG: Show Time!

NAMA SAYA SMONG

Ini adalah kisah seorang anak laki-laki bernama Smong yang hidup di Pulau Simeulue, Provinsi Aceh. Pada bulan Desember 2014 ia genap berusia 10 tahun. Smong sendiri dalam bahasa Simeulue artinya adalah “tsunami”. Kamishibai ini menceritakan asal mula nama Smong dan apa yang harus dilakukan ketika gempa dan tsunami terjadi melalui legenda yang hidup di pulau tersebut. Apabila ada gempa, warga Simeulue harus segera melarikan diri ke bukit untuk mewaspadai datangnya tsunami.

– – –

Dari berhari-hari sebelum hari-H saya ngerasa excited banget, tertarik dengan tujuan dibuatnya kamishibai ini seperti yang diceritakan oleh kak Dian F. Nugroho, ketika menghubungi kami di awal dulu. Beliau bilang bahwa kamishibai tentang tsunami ini adalah perwujudan nyata dari tesis dan penelitian S2 ibu Yoko Takafuji dari Universitas Rikkyo. Tujuannya untuk memberikan pendidikan tentang gempa dan tsunami dan apa yang harus dilakukan ketika bencana tersebut terjadi.

Bu Yoko mengadakan penelitian di sebuah pulau kecil di provinsi Aceh yang bernama Simeuleu. Pulau Simeuleu ini terletak di dekat pusat gempa ketika gempa dan tsunami terjadi di Samudra Hindia pada 26 Desember 2004. Meski begitu, jumlah warga yang menjadi korban jiwa bencana ini hanya 7 orang! Bu Yoko pun menjadikan fakta ini objek penelitiannya. Tentu saja ini fakta yang mengherankan bagi orang yang tak mengenal budaya orang Simeuleu.

Setelah penelitian tentang tsunami di Simeuleu rampung, bu Yoko yang tinggal di Yokohama ini mengadakan semacam roadshow kamishibai SMONG ke beberapa daerah di Jepang dan Indonesia dengan target utama anak-anak. Hebatnya, roadshow ini semua dibiayai dari kantong sendiri loh!

Dan..Alhamdulillah, akhirnya tiba juga hari pertunjukan kamishibai Smong ( )/

Hari itu hujan turun lumayan deras dan langit mendung sepanjang hari. Suhu udara di Nagoya jadi lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Tapi saya merasa lebih gerah karena hari itu saya yang menjadi pembaca kisahnya dan saya terlambat sekian menit (oke, saya ketinggalan kereta yang hanya berselisih sekian detik). Sesampainya di tempat acara saya bertemu dengan bu Yoko yang ramah sekali dan ternyata fasih berbahasa Indonesia (sstt..beliau pernah tinggal selama 12 tahun di Indonesia) dan  jeng jeeng.. yang hadir hanya dua keluarga plus dua bapak-bapak mahasiswa teacher training plus pak Yoshida yang tertarik belajar bahasa Indonesia. Yah, rupanya cuaca yang buruk membuat para ibu kesusahan berangkat apalagi ditambah repotnya urusan berpindah kereta atau bis bersama krucil-krucil.

Pertunjukan kami pun akhirnya dimulai dengan hanya tiga pendengar dari kalangan anak-anak. Dan berikut ini adalah ringkasan dari kisah Smong..

Kisah ini diawali dari rasa penasaran teman-teman Smong dengan namanya. Mengapa diberi nama Smong? Bukankan Smong itu artinya tsunami? Ternyata berdasarkan cerita ibu dan nenek Smong, Smong dilahirkan beberapa saat setelah tsunami menerjang Simeuleu pada tahun 2004 lalu.

Hari itu, gempa besar mengguncang pulau mereka. Tak lama kemudian, air laut surut hingga ikan-ikan tampak berlompatan dan menggelepar di pantai. Dengan tidak memperdulikan ikan-ikan yang menggoda hati tersebut, seluruh penduduk berlari menuju bukit dan daerah tinggi. Mereka teringat akan legenda Smong 07 yang sering diceritakan nenek moyang mereka. Itu adalah legenda tentang gempa dan tsunami yang terjadi tahun 1907, yang menyebabkan banyak warga Simeuleu dirundung kesedihan panjang akibat kehilangan orang-orang terkasihnya.

Rasa kehilangan tersebut membuat warga Simeuleu bertekad melindungi keturunan mereka dengan menceritakan kejadian tersebut dalam bentuk legenda. Legendanya berbunyi,

Bila tanah bergerak-gerak, permukaan laut turun, dan air laut surut, segeralah mengungsi ke tempat tinggi.

Dengan izin Allah, legenda yang sudah menjadi hiburan sehari-hari bahkan dongeng pengantar warga Simeuleu tersebut membantu warga Simeuleu menyelamatkan diri ke daerah tinggi dari amukan tsunami. Di tengah keadaan tanpa air dan listrik di bukit itulah Smong dilahirkan. Untuk mengingat hari kelahirannya, Smong diberi nama Smong yang artinya “tsunami”.

– – –

Rasanya lega, bahagia, dan kagum sekali dengan acara kamishibai kemarin. Melihat respon Razzaq (8 tahun) yang menjadi pendengar setia kami, mendengar dia menjawab pertanyaan tentang “Apa yang harus dilakukan ketika gempa dan tsunami terjadi” dengan lancar, serta menjawab kuesioner dengan amat baik, saya jadi pengen banget mengadakan pertunjukan kamishibai tentang Smong lagi di lain waktu. Agar anak-anak dan keluarga yang tidak sempat mengikuti kemarin bisa mendapatkan manfaatnya juga. Dan lagi, ide memberikan pengajaran pada anak-anak dengan dongeng atau cerita a la bu Yoko tuh..sangat menginspirasi! Pengen sekali suatu saat nanti di Indonesia atau di Jepang bikin yang seperti itu juga, tapi tanpa gambar makhluk bernyawa ; )

 

 

 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s