Posted in Hujan-Panas, Nippon

Gugur yang Ketiga: Shiratori Park

Tidak terasa, tahun ini sudah musim gugur ketiga bagi saya di Jepang. Tahun lalu, saya, kak Icha, tante Tutik, dan oom Mamik menikmati gradasi musim gugur plus mekarnya sakura (FYI, ada sakura yang mekar di musim gugur loh) di Obara, daerah pedesaan dekat Nagoya. Tahun ini, dengan kembalinya tante Tutik ke Indonesia, plus kak Rahma sekeluarga, jadilah kami berdua (saya dan kak Icha) nggak ada yang mengajak pergi ke mana-mana *ups.

Setelah “berbahagia” dengan perjuangan menghadapi ujian biokimia, kami memutuskan untuk merelaksasikan pikiran dengan berjalan-jalan di sekitar Nagoya. Tadinya sih berniat piknik, tapi ya..agak sedikit tidak realistis piknik di hari yang mulai mendingin plus angin yang nggak bisa dibilang sepoi-sepoi lagi. Pilihan pun jatuh ke Shiratori Park. Selain letaknya masih di dalam wilayah kota Nagoya, harga tiket masuknya pun terjangkau, kami hanya perlu merogok kocek 300 yen saja.

Pemandangan dekat Shiratori bridge, jalan menuju Shiratori garden.
Pemandangan dekat Shiratori bridge, jalan menuju Shiratori garden.

Di dalam taman tersebut, kami bisa menikmati pemandangan musim gugur yang menenangkan (bisa juga untuk obat galau :P), mulai dari daun-daun yang berubah warna, bebek-bebek genit yang berenang-renang, ikan koi yang besarnya hingga sebesar paha orang dewasa, burung-burung.. Subhanallah, indah!

Dedaunan mulai berubah warna. Biasanya kuning keemasan atau merah.
Dedaunan mulai berubah warna. Biasanya kuning keemasan atau merah.
Warna favorit, merah momiji di musim gugur.
Warna favorit, merah momiji di musim gugur.

Taman ini letaknya benar-benar di tengah kota. Hal ini baru sepenuhnya kami sadari saat beberapa kali mencoba mengambil foto namun terhalang latar belakang berupa gedung-gedung apartemen lengka dengan jemurannya yang cukup mengganggu. Bahkan, ketika kami berjalan di jalan setapak bagian pinggir taman pun sampai terlihat jelas jalan pemandangan jalan layang di sampingnya. Sepanjang jalan saat menjelajahi taman, saya dan kak Icha tak henti-hentinya membicarakan tentang taman-taman serupa yang bisa ditemui di tengah kota-kota di Jepang. Hm.. Coba ya ada taman seperti itu di tengah kota-kota besar nan sibuk di Indonesia, pasti menyenangkan sekali 🙂

Sungai kecil nan jernih, dikelilingi pepohonan rimbun warna-warni dengan latar belakang bangunan apartemen.
Sungai kecil nan jernih, dikelilingi pepohonan rimbun warna-warni dengan latar belakang bangunan apartemen.
Aliran sungai yang dikelilingi pohon momiji. Dedauannya masih rimbun dan hijau.
Aliran sungai yang dikelilingi pohon momiji. Dedauannya masih rimbun dan hijau.

Oh ya, tak hanya menikmati keindahan penataan taman dan mengabadikannya dalam jepretan kamera, kami juga bisa “berkontribusi” untuk kelangsungan hidup ikan-ikan koi dengan memberi mereka makan. Makanan ikan koi ini bisa dibeli dengan harga yang cukup murah, 50 yen per cup. Pengunjung yang berminat bisa membayar dan mengambil sendiri makanan ikan tersebut di kotak khusus yang disediakan di dekat kolam. Konsepnya seperti kantin kejujuran gitu..tak ada penjaga yang mengawasi kita atau memberi kembalian. Dan karena kotak uangnya dikunci dengan gembok, tak ada pilihan lain selain membayar dengan uang pas.

FullSizeRender (4)

Pakan ikan koi seharga 50 yen. Masukkan uang ke kotak dan sila ambil. Jangan lupa kembalikan wadah seusai memberi makan ikan. Perhatian! jangan memberi makan pada burung.
Pakan ikan koi seharga 50 yen. Masukkan uang ke kotak dan sila ambil. Jangan lupa kembalikan wadah seusai memberi makan ikan. Perhatian! jangan memberi makan pada burung.

FYI, ikan-ikan koi yang ada di Shiratori park ini banyaaaak sekali! Melihat mereka yang begitu lahap diberi makan kadang jadi merasa geli juga. Seperti mereka tak pernah makan saja, rakusnya…

Saking banyaknya, perawatan ikan-ikan tersebut nampaknya jadi kurang maksimal. Jika diperhatikan baik-baik, ternyata banyak ikan yang kondisi fisiknya dari luar terlihat tidak baik loh. Saya sempat melihat beberapa ikan yang bisulan, beberapa ikan lain kulitnya terkelupas hingga terlihat dagingnya, ada juga yang bahkan daging bagian kepalanya terkelupas sedikit hingga terlihat tulangnya, berlumut pula..Kasihan sekali :”

Burung-burung favorit pengunjung dan fotografer.
Burung-burung favorit pengunjung dan fotografer.
Bisa juga menikmati makanan di kantin ini sambil memandang jernihnya air kolam.
Bisa juga menikmati makanan di kantin ini sambil memandang jernihnya air kolam.
Burung-burung (lagi).
Burung-burung (lagi).

Episode jalan-jalan ke Shiratori Park hari itu benar-benar sukses membuat pikiran kami relaks dan tenang. Selain cuacanya yang cerah setelah beberapa hari mendung (alhamdulillaah), kami juga bertemu dengan empat kakek-nenek yang sangat ramah, kami diajak mengobrol dan diberi semangat untuk terus belajar dengan giat :”

Tak hanya kakek nenek pemberi semangat, saya juga bertemu dengan nenek-nenek yang membantu kami mengambil foto. Eh ya, tambahan lagi: di Shiratori Park juga ada stan-stan yang menjual makanan dan berbagai barang khas Jepang. Kami benar-benar beruntung mengunjungi salah satu stan hiasan khas Jepang yang berada di sana. Stan tersebut menjual pajangan buatan tangan dengan harga sangat murah. Padahal jarang-jarang loh bisa menemukan barang buatan tangan made in Japan dengan harga semurah itu. Alhamdulillah, alhamdulillah.. Tanoshikatta 😀

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s