Posted in Hujan-Panas, Nippon

Idul Fitri, Opor, dan Handout (Part 1)

Selamat Idul Fitri 1435 H

Taqabbalallahu minnaa wa minkum,

shiyaamanaa wa shiyaamakum 😀

eid-card-2

 

Selamat berhari raya ^^/

Alhamdulillah, kemarin saya baru saja (hampir) menyelesaikan UAS semester 4. Rasanya lumayan lega, tidak kebat-kebit macam beberapa hari kemarin. Selepas ujian matkul Cell Bio kemarin, saya akhirnya bisa ‘main-main’; buka FB, kedatangan teman, bebersih kamar  yang sudah dua pekan tidak dipel (uh), dan… akhirnya bisa juga makan es krim bareng kak Icha, alhamdulillaah :9

Anyway, saya mau cerita (entah sedikit atau banyak) tentang lebaran saya yang kedua di Nagoya. Alhamdulillaah ya masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan, hingga akhirnya bertemu Idul Fitri lagi dan lagi-lagi di Nagoya, lagi-lagi ketika musim panas.


27 Juli 2014

Ahad malam sebelum perayaan Idul Fitri, saya sempat menguhubungi orang tua dan keluarga di rumah di Malang. Ngobrol-ngobrol dengan ibu tentang persiapan esok hari (waktu itu kami masih menunggu hasil sidang itsbat) dan rencana malam itu. Setahun yang lalu saya masih mewek-mewek karena tak bisa pulang pas lebaran. Tapi tahun ini, rasanya lebih tenang. Lagipula, saya memang masih ada tanggungan final exam yang harus diselesaikan. Ya kali mau pulang di tengah-tengah ujian ^^a. Akhirnya pembicaraan harus kami akhiri. Keputusan sidang itsbat Malaysia (yang menjadi patokan muslim di Jepang) dan Indonesia ternyata sama. Alhamdulillaah kami berlebaran esok harinya, tapi berarti Ramadhan berlalu sudah :”

idul-fitri-1435
Undangan dari kak Rahma.

Malam itu juga saya mendapat dua undangan makan nyaam dari kakak-kakak. Sempat galau, karena hari Selasa dan Rabu kami masih ada tanggungan ujian, sementara persiapan untuk itu belum selesai. Jadilah, untuk esok harinya saya siapkan juga handouts matkul Genetics dan Inorganic Chemistry sesuai instruksi kak Rahma. Lalala, balada belajar di negeri orang~

28 Juli 2014

Saya bersiap-siap sedari pagi dengan asumsi tempat yang akan kami datangi untuk sholat Ied jauh dari rumah. Tidak seperti di Indonesia, di mana sholat Ied diadakan di masjid atau tanah lapang nan terbuka, sholat Ied di sini diadakan di ruang lapang yang tertutup, yaa semacam hall begitu. Ternyata, tahun ini sholat Ied dilaksanakan di Port Messe, Nagoya, sebuah daerah yang masih masuk dalam wilayah Nagoya sih, tapi jauh dari pusat kota.  Tahun ini adalah pengalaman pertama saya ke Port Messe. Kalau kak Icha sih sudah pernah ke sana sebelumnya. Eh ternyata saya tak perlu bersiap sepagi itu hhe

Sekitar pukul 07:30 JST saya dan kak Icha berangkat dari rumah. Hari itu cuaca lumayan ‘dingin’, alhamdulillaah. Padahal beberapa hari sebelumnya suhu sempat mencapai 38 dercel yang felt like 40-an dercel wussh wussh,kipas sudah tak mempan Untuk ke Port Messe, kami harus menempuh perjalanan menggunakan subway dari dekat rumah dan kereta biasa dar Nagoya Station (cukup merogoh kocek nih hhe). Jarak tempuhnya sekitar 30 menitan dari Nagoya Station menggunakan kereta Aonami Line. Kami berangkat bersama-sama beberapa teman dan senior dari Indonesia. Sepanjang perjalanan, kami bertemu banyak muslim/ah dari berbagai negara yang mereka bisa mudah dikenali lewat gaya berbusananya.

Pemandangan di pot menuju ke lokasi sholat Ied. (sumber: dokumen pribadi)
Pemandangan di pot menuju ke lokasi sholat Ied. (sumber: dokumen pribadi)

Beberapa lama kemudian kami sampai di lokasi. Di tempat tersebut berdatangan muslim/ah dari seluruh dunia (maksudnya yang tinggal di Nagoya dan sekitarnya :p); Indonesia, Mesir, Malaysia, Nigeria, China, Jepang, Afghanistan, termasuk juga blasteran. Masyaa Allah, ruangan yang demikian besarnya masih harus membuat kami hampir berhimpit-himpitan agar semua orang dapat masuk dan ikut sholat berjamaah.Gema takbir mengalun sepanjang waktu menunggu, sibuk pula kami bercipika-cipiki dengan saudara seiman, sambil ber-“Ied Mubarak!”

Jamaah wanita (photo taken by kak Icha).
Jamaah wanita (photo taken by kak Icha).
Masih jamaah wanita.
Masih jamaah wanita.

Tepat pukul 10:00 JST sholat dilaksanakan. Di sini memang lumrah sholat Ied diadakan lebih siang daripada di Indonesia. Ini memudahkan jama’ah yang datang dari jauh agar bisa ikut merapat. Di Jepang sendiri ukuran ‘pagi’ itu tidak pagi loh. Jika di Indonesia semua aktivitas pubilk sudah dimulai sejak kira-kira pukul 07:00, di Jepang pukul 09:00 JST masih dianggap pagi sekali (wkwkwk). Sholat pun dapat dilaksanakan dengan khidmat, dengan background suara Imam masjid dan tak ketinggalan tangis bayi-bayi, hehe. Meskipun akhirnya masih harus diadakan sholat kloter kedua karena sebagian jamaah tak kebagian tempat sholat.

Ba’da sholat Ie kloter pertama, Imam masjid Honjin (eits jadi inget pengen nulis tentang masjid Honjin euy) memberikan ceramah singkat. Isinya tentang hikmah Ramadhan dan ajakan istiqomah dengan amalan-amalan selama Ramadhan kalau saya tak salah ingat ^^v. Intinya kira-kira begini,

Ramadhan is a school for us to face the rest eleven months 

Setelah khutbah, tanpa diduga sebelumnya, Imam meminta anak-anak yang pada malam terakhir Ramadhan mengikuti Qur’an taikai (semacam acara hafalan surat begitu) di masjid Honjin untuk maju ke depan dan menerima hadiah (berupa uang) dan bingkisan cantik. Kebayang dong, gimana hebohnya anak-anak, setelah malam itu malu-malu menghafal sekarang dapat hadiah ‘besar’ 😀 Belum lagi para orang tua yang berbunga-bunga mendengar nama anaknya dipanggil.

“Zahra Endra from Indonesia, Razzaq from Indonesia, Yasir from Egypt,…”

Duh duh, rasanya ikutan seneng, apalagi kalau ingat betapa imutnya anak-anak yang masih kecil-kecil, baru hafal surat al-fatihah dan al-ikhlas sedang menguji hafalannya di depan jamaah masjid :”) Tak ketinggalan juga, anak-anak yang hafalannya sudah seabrek, walaupun belum 30 juz *aaak

Selagi orang-orang beberes mukena, sajadah, alat-alat sholatnya (dibayar tunai *eh), tiba-tiba ada seorang mbak-mbak berwajah asli Jepang datang menyapa saya kemudian, tanpa tedeng aling-aling meminta saya mengajarinya cara sholat Ied. Saya mengenal salah seorang temannya, Zaara (bisa baca sedikit ceritanya di sini) tapi saya sendiri tidak tahu nama mbaknya. Lagi orang banyak bersliweran waktu itu, akhirnya saya membantunya belajar cara sholat Ied. Meniru apa yang pernah dilakukan kak Icha ketika mengajari Zaara sholat, saya membaca semua bacaan keras-keras, macam ketika masih TK atau SD ketika belajar sholat itu lah. Selesai praktik sholat itu, si mbak dengan fasihnya mengucapkan, “Thank you, Jazakillahu khayran.” One interesting point here, di sini ucapan terima kasih disertai doa jazakallahu/jazakillahu khayran sudah tak asing lagi. Lebih indah seperti ini, bukan? 🙂

Seusai sholat, khutbah, dan pembagian hadiah, ritual cipika-cipiki dan saling memberi ucapan berlanjut. Oh ya, dari hari sebelumnya saya dan kak Icha sudah menyiapkan hadiah untuk anak-anak. Hadiahnya sederhana banget, biskuit dan permen. Niatnya sih anak-anak yang tidak kebagian biskuit bisa dapat permen. Sayangnya, ternyata kami salah beli biskuit tengtoong. Kami yang masih single and happy ini nggak tahu kalau ternyata biskuit yang kami beli adalah biskuit khusus bayi, makanya dijual di section khusus bayi di supermarket. Dodolnya, kami kok nggak nyadar ya sampai ada anak yang terang-terangan menolak jleb gara-gara…

“Iyada, datte kore wa akachan no (Nggak mau, ini kan buat bayi).” 

Padahall yang kami tawarin pun masih bayi loh. Bayi di bawah usia ilma tahun yang sudah fasih nolak dan lari-lari ke sana kemari 😛 Anyway, pembagian okashi (sweets, makanan ringan) teteup berlanjut. Alhamdulillaah masih banyak bayi-bayi yang nriman lebih kecil, sehingga kami bisa pulang dengan tangan kosong. Yey, mission accomplished! XD

Selanjutnya, masih ada sesi salam-salaman plus foto-foto dengan kakak-kakak senior kami dari Indonesia. Dan..yang tidak diduga sebelumnya, hari itu kami akan mendatangi lebih banyak tempat dan mencicipi lebih banyak masakan dari dugaan awal.

*Oke, sampai sini dulu. Semoga bisa dilanjut. Masih ada laporan euy :”

Ganbarre, Nis! Kudu selesai sebelum mudik (   )9

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

One thought on “Idul Fitri, Opor, dan Handout (Part 1)

  1. wahhh :)) taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin ya niss :))
    alhamdulillah disana menyenangkan juga idul fitri nya 🙂
    selamat mudik anis :*

    Like

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s