Posted in Tuna Wisma

Ramadhan?

Ini Ramadhan?

Semua restoran tetap buka, ajakan makan kakigori (es serut khas musim panas) terus berdatangan. Tidak ada bedug maghrib ataupun shubuh. Tidak ada alunan bacaan Al-Qur’an dari pengeras suara di masjid, tidak pula suara imam tarawih yang dahulu dari rumah pun masih terdengar. Tidak ada guru asrama yang menanyakan kabar pencapaian Ramadhan. Kami tetap kuliah seperti biasa, sibuk juga sana-sini. Bukan, bukan dalam rangka ini bulan ramadhan. Duh, jangan sampai kami lupa.


Baru beberapa saat yang lalu saya baca postingan Fitri di sini dan…saya nggak sanggup komentar apa-apa selain, “Same here, Fit.”

Jauh sebelum Ramadhan datang—tepatnya beberapa pekan sebelumnya—saya dan kak Icha terlibat pembicaraan mengenai Ramadhan ke-dua bagi saya dan ke-tiga baginya di Jepang ini. Ramadhan kali ini masih bertepatan dengan summer. Sungguh, saya tak khawatir dengan summer, panasnya, humidity-nya, dan kesehatan saya. Toh, tahun lalu—dengan izin Allah—saya bisa melewati Ramadhan+summer dengan lancar, alhamdulillah. Yang kami khawatirkan adalah: perkuliahan yang menyibukkan. Dengan masuknya kami ke semester empat, officially, kami akan menjalani semacam lab training selama lima hari sepekan dari pukul 13:00-maksimal 18:00 JST (walaupun pada kenyataannya banyak lab yang mengharuskan kami nge-lab hingga melewati batas itu) selama satu hingga satu setengah tahun sebelum melakukan eksperimen di lab yang sesungguhnya. Dan entah mengapa, semenjak adanya lab course ini kami jadi lebih sering “mementingkan dunia” dibanding apa yang seharusnya kami tuju. Dengan lab+reportnya kami jadi seolah “tersibukkan”. Di hari-hari biasa kami sering keteteran, jarang bisa sholat di awal waktu (permasalahan izin, dsb..duh), merasa selalu terburu-buru, menurunnya frekuensi tilawah, ah rasanya… 😦 astaghfirullah

“Padahal, harusnya pas Ramadhan kita bisa lebih fokus ibadah ya. Ini kok malah rasanya…mentingin dunia ya..” kata kak Icha waktu itu. Pada akhirnya..“Emang Ramadhan itu paling enak di rumah ya?” Ah, tidak seharusnya kami seperti ini.


Dan, hari ini hari ke-enam di bulan Ramadhan. Teringat beberapa hari yang lalu, saya curhat kepada seorang teman tentang masalah akademis di sekolah. Respon pertama yang saya dapat?

“Gimana ramadhan-nya, Nis? Sudah ada pencapaian apa aja? Sudah evaluasi diri setahun terakhir? Alhamdulillah tilawahku meningkat…(dia melanjutkan pencapaian-pencapaiannya)” Baru kemudian ia menanyakan kabar nilai akademik saya.

Hari itu, saya cuma bisa sesenggukan, teharu, sedih. Bahkan saya sempat berpikiran tak menargetkan khatam Qur’an kali ini. Setelah sekian lama, baru kali ini saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Evaluasi? bahkan tak tahu harus menanyakan apa pada diri saya. Tiga sabtu ke belakang, saya membantu anak-anak TPA dan beberapa kakak-kakak membuat tabel evaluasi ramadhan, menjelaskan pada anak-anak itu apa itu ramadhan, puasa, dan sebagainya. Tapi saya seolah tak tersentuh dengan itu semua. Saya tahu ada yang salah dengan diri saya, tapi lebih sering saya hanya termangu usai shalat. Bertanya-tanya, kenapa tadi tak khusyu’, kenapa buru-buru, kenapa tak senikmat dulu? Hafalan? mengapa tak kunjung mencapai target? Mengapa lebih banyak yang terlupa daripada yang kamu hafal? Jangan-jangan, hati ini sudah mengeras.

Fitri benar, barangkali kami harus menata hati, mengikhlaskan niat, memprioritaskan Allah. Hei Nis, hidup ini ada tujuannya. Dan tujuanmu (seharusnya) bukan dunia. Sebanyak apapun kemampuan yang kamu dapat dari lab, part-time, kuliah, jika kamu tidak memprioritaskan Dia yang Berkuasa membuatmu berada di sini, semua tak ada nilainya Nis.

It could be our last Ramadhan

Manfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Sudah saatnya kita memperbaiki diri, sering-sering bertanya kabar niat dalam qalbu. Sering-sering bicara pada-Nya, baca surat cinta-Nya. Ini nggak cuma soal puasa 16 jam Nis, tapi apakah akhirnya kita jadi orang yang bertaqwa?

Dan bahwa kita tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain dan menunggu mereka. Pasal hari itu ada yang bertanya kabar imanmu, sungguh karena itu salah satu tanda Allah masih sayang padamu Nis. Selagi Allah masih memberi kesempatan bertemu si bulan mulia, apa akan disia-siakan begitu saja? Apa dunia yang lebih rendah dari sayap nyamuk (hei, ingat-ingatlah hafalanmu) ini lebih berharga dari Allah yang cinta-Nya tak ternilai harganya?

Allahumma inni as ‘alukal-huda wat-tuqa wal-‘afafa wal-ghina

*terima kasih untuk Fitri dan yang telah bertanya. Ayo Nis, ihrish ‘alaa maa yanfa’uk, terutama untuk bekal kehidupan “masa depan”mu!

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

2 thoughts on “Ramadhan?

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s