Posted in Hujan-Panas

Wisuda, Jepang, dan Dewasa

Bismillah..

Beberapa hari ini bertebaran berita lebih tepatnya coretan berisi galauan di mana-mana. Yap, tepat 2 tahun 4 hari yang lalu kami lulus dari MAN Insan Cendekia Serpong. Ber-115. Sebenarnya saya tak ingin terlalu ikut arus “kegalauan” wisuda macam ini. Saya sudah teramat sering galau untuk masalah seperti ini semenjak menginjakkan kaki di Jepang hampir dua tahun yang lalu. Tapi apalah daya, masih terbawa juga hhe ^^v

Asrama. Hampir-hampir saya patah hati sepulangnya saya dari asrama gedung H (asrama khusus putri kelas 3). Saya masih ingat sekali selama beberapa hari sebelum wisuda saya selalu menangis–oke, saya memang orang yang sangat sulit untuk move on–karena akan berpisah dengan teman-teman seatap, adik-adik yang saya sayang, keadaan kampus yang sampai sekarang masih tidak ada duanya. Saking hebohnya sampai-sampai di hari-H wisuda pun mata saya masih sembab. Nampak seperti mata panda kata orang-orang wkwk.. Asrama meninggalkan begitu banyak cerita, kenangan indah bagi saya akan sebuah keluarga. Hei, bayangkan kalian punya 60-an anggota keluarga yang tinggal seatap. Yang tidak pernah membiarkan kalian bangun terlambat untuk sholat shubuh, yang mengantarkan kalian ke dokter setiap kali tak enak badan, mengambilkan jatah makan ketika sudah tak sanggup berjalan keluar dari kamar, baik karena sakit atau hanya tak ingin saja keluar. Keluarga yang menghujani kalian dengan semangat pantang menyerah, membangunkan ketika jatuh, memeluk ketika air mata kalian tumpah, yang… ah saya bahkan tak sanggup mendeskripsikan nikmat Allah yang satu ini. Terlampau…banyak.

Asrama. Inilah satu-satunya tempat di mana saya dipanggil “baby“. Diperlakukan seperti seorang adik yang dengan kepolosannya minta banyak dimaklumi. Ketika kaki ini melangkah menjauh darinya hingga hari ini sudah bermil-mil jauhnya, akhirnya ia menemui dunia yang benar-benar berbeda. Tak bisa minta ditepuk-tepuk punggungnya ketika rasa percaya dirinya jatuh, tak bisa minta dipeluk ketika ia sudah teramat rindu dengan pelukan, tak bisa minta dibangunkan ketika semangatnya tetiba menghilang. “Baby” mau tak mau harus menjadi dewasa dalam 2-3 bulan. Dewasa hingga ia bisa berjalan sendiri dan menyadari bahwa ia sudah terlalu tua untuk jadi kanak-kanak. 

‘Ala kulli hal, saya merasa bersyukur dengan dibuangnya saya ke Jepang. Mungkin, Allah tahu bahwa saya bisa menjadi dewasa di sini. Saya akan belajar banyak hal di sini. Dan dua tahun selanjutnya ketika saya kembali semenjak kelulusan itu, saya sudah menjadi seseorang yang lebih mengerti. Yang harusnya dalam dua-empat tahun ke depan telah siap menjadi seseorang yang menimang “baby” : )

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s