Posted in Nippon

Zaara

Bismillah

Hidayah itu tak mengenal usia, tak mengenal waktu, tak mengenal siapa atau siapa.

Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati, sebagaimana Engkau membalikkan hati mereka yang kafir pada jalan-Mu, maka tetapkanlah hati kami pada jalan-Mu.

Hari ini, rumah kami kedatangan tamu (lagi). Namanya Zaara, gadis asli Jepang. Tadi, selepas asar saya janji bertemu dengannya untuk pergi ke Halal Shop bersama. Gadis Jepang ke Halal shop?

***

Siang hari itu matahari bersinar terik sekali. Saya bersama para muslimah lainnya menikmati indah mekarnya bunga Sakura (Hanami) di taman yang saya juga lupa namanya. Setelah mengambil makanan masing-masing, kami duduk berpencar, sebagian lainnya berkelompok. Akhirnya saya memilih lokasi duduk berdekatan dengan dua orang muslimah asli Jepangyang nampaknya lebih muda dari kebanyakan muslimah lain di sana.

“Annisa-san, kenalkan, mereka ini juga gakusei (mahasiswa) lho..” kata Amina-san kepada saya seraya menunjuk dua muslimah muda tersebut. Tak lama kemudian, kami berkenalan. Salah seorang dari gadis tersebut berusia satu tahun lebih muda dari saya, ia nampak kepanasan. Eh, semuda ini sudah masuk Islam?

***

Sabtu ini–seperti Sabtu-sabtu sebelumnya–saya pergi ke masjid Honjin, Nagoya. Setelah menempuh perjalanan bawah tanah selama kurang lebih 20-an menit dan beberapa menit jalan kaki, saya sampai di satu-satunya masjid (yang saya tahu) di Nagoya tersebut. Sesampainya di sana saya disambut dengan salam dan senyum oleh seorang perempuan muda yang..wajahnya familiar. Eh, tapi siapa ya? (Lagi-lagi) seperti biasa, saya lupa dengan orang yang saya kenal. Apalagi jika wajahnya sudah “bau-bau” Jepang, duh, mirip semua!

Entah, bagaimana caranya setelah ngobrol-ngobrol sebentar saya jadi ingat kembali dengan si perempuan itu. Ooh ternyata..dia perempuan yang saya temui di Hanami tempo hari! Dasar Nisa ^^a

***

Zaara, ya, namanya Zaara, seorang mahasiswi tingkat dua di sebuah perguruan tinggi swasta di Nagoya. Nama aslinya Suzuka, yah mirip-mirip dengan nama salah satu tokoh utama di film kartun favorit masa kecil saya dahulu 🙂 Baru tiga hari yang lalu saya tahu bahwa Zaara sudah masuk Islam sejak dua tahun yang lalu. Jika usianya saat ini 19 tahun, itu berarti ia masuk Islam saat masih berusia 17 tahun! Subhanallah… Bagi kami yang sering berinteraksi dengan orang non-muslim dan mualaf–yang rata-rata sudah tak lagi muda–menemui seseorang yang sudah masuk Islam di usia semuda itu..sesuatu banget 😀

Dikisahkan oleh Zaara, ia masuk Islam setelah nuraninya tergugah oleh ibadah umat muslim di New Zealand. Kala itu ia sedang menikmati masa-masa sebagai mahasiswi pertukaran pelajar. Ia melihat umat Islam melakukan sholat, dan ibadah yang lainnya (yang menurut saya frekuensinya lebih banyak di sana dibanding dengan di Jepang). Sedemikian berkesannya hingga ia mencari tahu tentang Islam dan akhirnya memutuskan untuk berpindah agama atau lebih tepatnya beragama.

Memilih menjadi pemeluk salah satu agama yang (masih) dianggap teroris oleh banyak orang awam tentunya bukan hal yang mudah. Ditolak oleh keluarga, dianggap menyeramkan, dan lain sebagainya seolah sudah menjadi makanan sehari-hari. Ditambah lagi, ia tak memiliki banyak teman yang seagama yang bisa mendukungnya dan menguatkannya.

“Aku ingin terus belajar dan belajar agama Islam. Aku ingin menunjukkan pada orang tuaku kalau Islam itu tidak menyeramkan..” katanya tempo hari.

Awalnya, ia masih kesulitan dalam menjalankan ibadah-ibadah dalam Islam. Jangankan menghadapi puasa di bulan Ramadhan–yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh manusia menurut orang Jepang, untuk sholat wajib pun ia merasa masih kesusahan. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit ia mulai banyak belajar, belajar apa itu bersuci, bagaimana untuk sholat, mengenakan jilbab, dan lain sebagainya. Kini, semangatnya sangat membara untuk terus belajar tentang Islam, ia sudah rutin melaksanakan sholat wajib termasuk ketika berada di kampusnya. Bahkan, ia berhasil mendapatkan ruang khusus untuk sholat di kampus, Subhanallah…

Akhir-akhir ini, hampir setiap akhir pekan saya bisa menemuinya sedang khusyu’ dalam muslimah benkyoukai (acara belajar muslimah) bersama ustadzah di masjid. Oh ya, muslimah benkyoukai ini adalah acara yang rutin diadakan setiap Sabtu pukul tiga sore di masjid Honjin. Agenda acara di antaranya: belajar tentang ibadah-ibadah dalam Islam, aqidah, akhlak, pendidikan Islam untuk anak, dan lain sebagainya. Pengisinya bergantian, misalnya pada pekan pertama dan kedua diisi oleh sensei dari muslimah Jepang, ketiga dan keempat dari muslimah Indonesia dan Malaysia. Acara ini dilaksanakan dalam tiga bahasa: Jepang, Inggris, dan Indonesia/Melayu, meskipun didominasi bahasa Jepang. Di akhir benkyoukai, setiap orang menyebutkan doa/impiannya secara bergantian dipimpin oleh pemateri. Hari itu, saya mendengar Zaara berdo’a,

“Semoga orang tua dan keluarga saya bisa memeluk agama Islam..”

Aamiin… 

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s