Posted in Nippon

Dan Mereka Bertanya (Lebih) Tentang Kita

Rasanya, rasa-rasanya saya pengen merekam semua perbincangan kami malam ini. Semua pertanyaan, semua jawaban, tanggapan, ekspresi, semua yang bikin saya makin sadar betapa pentingnya kita tahu soal ‘kita’.

Dan cerita dimulai,
Masih ingat dengan cerita saya tentang izin sholat dalam pertemuan dengan orang-orang Jepang? Jika tidak atau belum baca, bisa dilihat disini “We Gonna Take a Break for Your Prayer”. Nah, hari inilah hari pertemuan kami yang kedua, 19 Oktober 2013. Sama halnya dengan undangan yang sebelumnya, sebagai tamu saya tidak diminta untuk menyiapkan materi apapun-tidak seperti umumnya kegiatan budaya. Kami berdiskusi secara spontan, dengan berbagai macam topik yang yaa sebagian besarnya tidak bisa saya tebak sebelumnya. Seperti hari ini.

Awalnya tentang sholat
Tadi saya menjelaskan kepada Mr. Kobayashi bahwa kami tidak perlu berhenti di tengah diskusi untuk sholat karena waktu sholat telah lewat sebelum diskusi dimulai. Dari situlah mereka mulai tanya-tanya tentang ibadah dalam Islam. Dan saya sedikit banyak harus menjelaskan bahwa kita sholat wajib lima kali sehari dan -untuk gampangnya-waktu sholat ditentukan oleh terbenam dan terbitnya matahari. Maka dari itu, waktu sholat kita jadi berubah seiring dengan berubahnya musim. Kemudian pertanyaan berlanjut tentang bacaan dalam sholat, tentang apa yang kita baca, apakah setiap sholat kita membaca bagian yang berbeda dari Al-qur’an, sampai apakah kita diperbolehkan berdoa selain dengan bahasa Arab.

Lanjut ke Bahasa Arab
Dan gara-gara saya bilang bahwa kita membaca bacaan dalam bahasa Arab ketika sholat dan bahwasanya bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab, mereka langsung berasumsi: jadi kalian bisa bahasa Arab? Kalian baca Qur’an kan? berarti bisa baca tulisan Arab, bisa ngomong pake bahasa Arab dan Indonesia?
Dan jawabannya kita tahu semua. Nggak semua orang Islam bisa bahasa Arab, yang nggak bisa: banyaaak. Lalu mereka heran,
“Jadi kalian baca Qur’an tapi nggak ngerti artinya?”
to be honest, rasanya malu plus jleb-jleb banget TT

Apa kalian punya Paus?
Ini awal mulanya dari pertanyaan tentang orang yang jadi pimpinan tertinggi kita saat ini. Rupanya, mereka pikir kita punya semacam tingkatan seperti dalam agama lain. Awalnya saya jadi nyebut soal Ustad, Imam, dan Ulama. Tentu saja mereka  bukan ‘pemimpin’ yang sedang mereka tanyakan. Sehingga perlu penjelasan istilah-istilah itu, macam pemimpin sholat namanya apa, ulama itu apa..

Rupanya pertanyaan soal ulama berlanjut pada masalah isi Qur’an 
Ternyata, ada di antara mereka yang tahu bahwa salah satu fungsi adanya ulama adalah untuk mengajarkan-dalam bahasa sederhananya-mana hal baik yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dan mana yang tidak. Lalu…
“Apakah yang jadi dasar bagi ulama menetapkan itu?”
“Apa yang disampaikan tuhan kami dalam Al-Qur’an dan pada Nabi.”
“Saya pernah dengar jika ada kasus dimana scholar yang satu dengan yang lain punya interpretasi yang berbeda tentang isi Al-Qur’an, apakah mereka mengartikan Qur’an dengan pikiran mereka sendiri?” tanya yang lain, menyambung tiba-tiba.
Sembari menjawab pertanyaan, dalam pikiran saya menari-nari saya pada dimensi masa kini dimana rupanya Qur’an mulai banyak ditafsirkan dengan pikiran sendiri. Bahkan, beberapa pihak menafsirkan dengan nafsunya-begitu yang para ustad peringatkan untuk berhati-hati.

Kenapa kalian tidak boleh makan babi?
Percayalah, pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan favorit non-muslim pada kita. Dan percayalah, jawaban yang paling simpel, mengena, tanpa perlu berpanjang kata adalah:Because our God said so. Selesai. Walaupun akhirnya ada dari mereka yang bilang juga sih,
Saya dengar ini karena di jaman dahulu babi diolah tidak sampai matang hingga menyebabkan sakit bagi yang memakannya. Tapi kan ini udah zaman modern?
Yah pokoknya tuhan saya bilang nggak. Titik.

Berapa kali kalian belajar agama di sekolah?
Awalnya mereka mantuk-mantuk aja pas saya bilang kita belajar agama setidaknya dua jam seminggu di sekolah umum. Oke, sampai sini beres.
“Tapi..” lanjut saya, “Keluarga-keluarga di Indonesia biasanya ‘menyekolahkan’ lagi anak-anaknya ke sekolah Islam non-formal*aslinya mau bilang TPQ gitu* untuk belajar agama Islam dan membaca Qur’an selama dua jam dari pukul 3-5 sore setiap hari.”

Guess, gimana ekspresi mereka?

Yang jelas saya hanya bisa nahan ketawa. Mereka terbengong-bengong. Wajar sih jika mereka merasa heran, karena sekedar info: tidak ada pendidikan agama di sekolah-sekolah Jepang. Jadi ngerasa bersyukur banget nggak sih di Indonesia kita masih dapat pelajaran agama di sekolah? masih dengan gampangnya belajar Islam, nemu TPQ? Bahkan yang membuat saya perlu banyak tenaga untuk nahan tawa, ada pula yang mengatupkan tangannya, mantuk-mantuk mirip orang baca doa dan minta ampun, membayangkan ‘kita yang religius sekali’. Walaupun di sisi lain-bagi yang ngerti keadaan yang sesungguhnya-ini tak lain adalah ironi. :”

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s