Posted in Hujan-Panas, Nippon

Jilbabku: dari Autumn ke Summer (Bagian 3)

Bismillah ngelanjut lagi..

What are you wearing now? Is it burqa?
Jduakbacksound hati saya terpentok sesuatu. Masya Allah..saya pakai cadar saja belum apalagi ini tunjuk kerudung dibilang burqa, hihi..
Yep itu adalah salah satu percakapan yang paling saya ingat dari pengalaman saya jadi guest speaker di sebuah kelompok diskusi kecil-kecilan di Nagoya. Sebagian besar dari tulisan ini akan menceritakan pengalaman saya ngobrolin masalah jilbab dengan para anggota grup diskusi tersebut yang rata-rata adalah kakek-nenek dengan usia anggota paling muda-perkiraan saya sih-di atas 40-an tahun.

***

Pernah suatu ketika saya dalam perjalanan di subway bersama seorang ibu muslimah, orang Indonesia yang menikah dengan lelaki Jepang. Beliau sudah lama sekali tinggal di Jepang, mungkin lebih dari 10-an tahun. Ketika itu kami sedang ngobrol tentang kehidupan muslimah di Jepang, mulai dari perempuan-perempuan mualaf asli Jepang, pernikahan muslimah non-Japanese dengan orang Jepang, kiat ibu-ibu muslimah mengajarkan nilai-nilai Islam pada anak mereka, sampai saya memberanikan diri menanyakan masalah pandangan orang Jepang tentang muslimah bercadar kepada ibu tersebut.
“Disini masih susah mbak Nisa, masih dianggap….teroris.” si ibu mengucapkan kata terakhir dengan setengah berbisik *jadi geli juga ingat tatapan mata orang-orang di subway pada kami terutama ibu tersebut yang jilbabnya jauh lebih lebar dari yang saya kenakan waktu itu*

Dari percakapan singkat-tapi yakin bakal berlanjut panjang-saat itu saya jadi punya sedikit kesimpulan: muslimah dengan segala ‘aksesori’nya dianggap orang Jepang sebagai teroris, apalagi yang mengaplikasikan sunnahinget temen yang ngamuk-ngamuk bilang,”Sunnah kok dianggep teroris!!” hihi

Dan waktu berlanjut. Nyatanya kegiatan diskusi bersama forum diskusi ACE-yang saya sebutkan di awal-satu pekan setelahnya mengubah kesimpulan saya yang sebelumnya. Bayangin aja tweeps prens, betapa kagetnya saya ditanya tentang burqa sama manajer grup diskusi ACE itu*percakapan tersebut terjadi sebelum saya bertemu dengan seluruh anggota grup. Lah, beliau tau burqa juga toh ckckck…malah akhirnya saya harus menjelaskan tentang beda jilbab biasa, cadar, dan burqa.

Jilbab, Cadar, dan Burqa
Dalam diskusi tersebut salah seorang anggota bertanya pada saya,
“Yang aku lihat di televisi itu ada orang-orang perempuan Islam yang menutup seluruh wajahnya, Tapi kamu tidak menutup wajahmu. Apa yang kamu kenakan berbeda? Jika ia, jelaskan pada kami apa bedanya.”
Jeng jeeeenggg dalam hati kebat-kebit. Walaupun saya sudah memprediksi sebelumnya, tapi tetep aja takut salah ngejelasinnya. Akhirnya, dengan apa yang saya ketahui, bismillahsaya coba jelaskan bahwa apa yang saya kenakan adalah jilbab biasa, bahwa ada yang dimaksud dengan cadar yaitu yang menutup sebagian wajah kecuali mata, dan yang menutup semuanya itu yang namanya burqaCMIIW
“Oh iya, ya, saya pernah melihat yang hanya menutup muka tapi kelihatan wajahnya di TV. Orang-orang Iraq, Arab, dan semacamnya.” tambah yang lain.
Oh iya, jadi sedih nampaknya saya ngejelasin arti jilbab dan hijabnya rancu deh, payah 😐

Kenapa jilbabmu seperti itu? Kenapa ada yang tidak?
Ada pertanyaan lain yang terlontar setelah pembahasan tadi,
“Saya lihat ada orang Indonesia yang pake itu (jilbab) yang tidak seperti kamu. Maksud saya lebih pendek begitu. Kenapa ada yang begitu?”
hm…pertanyaan macam ini di dunia luar tentu tidak hanya ditanyakan oleh orang Jepang. Orang Indonesia pun banyak yang bertanya begitu mungkin? dan jawaban saya-menyitir curhatan kakak senior muslimah yang sudah sering ditanya oleh kawa Jepangnya-adalah: karena terkadang pemahaman kami terkadang berbeda satu sama lain, jadilah begitu. Huaaa berasa dibully alamak..

Kamu merasa aman, bukan? Saya tahu
“Apa memakainya adalah keharusan? Apa yang kamu rasakan kalau kamu melepasnya? Apa yang kamu rasakan selama pakai itu? Nyaman, senang, atau apa?”
Buat temans yang tahu hukum jilbab dan terbiasa make jilbab saya kira kita punya jawaban yang sama,
“Saya merasa aman..” kamu juga desyou?
Dan ada sahutan yang bikin saya kaget (lagi), “Iya, saya tahu perempuan Islam yang pakai itu mereka merasa aman. Ya saya tahu itu, saya pernah baca.” Subhanallah, mereka bisa tau loh! hei, orang-orang tua ini tau!tukang meragukan orang lain

Okeh, diluar semua kekurangan saya ngejelasin bahasan jilbab, hari itu saya ngerasa kagum tweeps dengan pengetahuannya mbah-mbah ini. Dari penyimpulan saya sih, mereka tahu dari tayangan televisi edukasi Jepang yang banyak mereka tonton, internet, dan media massa lain. Dan lagi, sepanjang diskusi kami selama dua jam plus makan bareng dua jam, mereka nggak nganggep kami teroris tuh. Intinya bagi mereka yang tahu, wawasannya luas, kayaknya gak segampang-sepandang penampilan kami langsung bilang teroris deh. Yang kurang tahu saja yang seringkali mengidentikkan penampilan muslimah dengan jilbab lebar apalagi plus cadar atau niqab yang teroris atau istri teroris. Permasalahan yang mirip dengan Indonesia desyou?

Tambahan nih, seringkali karena jilbab ini kami jadi lebih mudah dikenal. Beberapa pihak yang melalui jilbab tau kami muslim, otomatis dalam beberapa hal menawarkan pelayanan (dalam masalah makanan misalnya) yang berbeda. Atau, at least, jika mereka tidak bisa menyediakan yang halal mereka akan memberi tahu makanan mana saja yang bisa kami konsumsi atau tempat untuk mendapatkannya. Bahkan, beberapa yang sangat toleran dan peduli bisa menawarkan tempat atau ruangan khusus untuk mendirikan sholat, ckckck.. gak semuanya negatif kan?

Ya sudahlah, sekian saja pamungkasnya. Intinya, dimana aja di luar negara muslim yang namanya pro kontra berjilbab itu bakal ada aja, senada lah sama tantangannya. So far itu yang saya rasakan juga sebagai dari autumn tahun lalu hingga summer kali ini Tanggapan orang, mulai dari yang positif sampe negatif akan selalu berenang-renang di telinga. Yang perlu saya lakukan-dan kamu jika nanti berkesempatan mengalami hal yang sama-adalah tetap berada pada keyakinan kita ini, ya nggak?

Aaaaaaaa makin tertantang ngenalin Islam di Jepang~

Advertisements

Author:

Pembelajar, ingin menjadi ibu plus guru keren di masa depan. Bercita-cita punya perpustakaan sendiri di mana anak-anak bisa belajar dan mendengarkan cerita seminggu sekali.

Kindly share your thoughts here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s