Posted in Hujan-Panas, Jogja

Annisa dan Pengalaman Mendaftar Indonesia Mengajar (1)

 

image-56d0176181d92-default

Menjadi Pengajar Muda (sebutan bagi pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar) sudah jadi impian saya sejak lama. Sejak di tahun pertama kuliah, saya sudah bercita-cita kalau kelak pasca S1 ingin daftar Indonesia Mengajar. Fast forward ke tahun keempat kuliah, saya yang saat itu belum memikirkan untuk lanjut S2 akhirnya bertekad untuk benar-benar mendaftar sebagai Pengajar Muda. Bisa dikatakan, mendaftar Indonesia Mengajar jadi plan B saya waktu itu (plan A rahasia, tapi hampir sulit diwujudkan sih wk).

Seleksi Tahap I

Dan benar, sekitar bulan November tahun lalu akhirnya pendaftaran Indonesia Mengajar (IM) angkatan XVI secara online dibuka. Pendaftaran ini dibuka cukup lama kok, sekitar satu bulan lamanya kalau tidak salah. Saya pun mendapat informasi pembukaannya dari hasil kepo-kepo facebook page IM dan berteman dengan official account mereka di LINE. Setelah memantapkan niat dan berkonsultasi dengan alumni IM (kak Mo), akhirnya saya mantapkan diri untuk mendaftar sejak hari pertama pembukaan pendaftaran.

Tapi jangan salah. Saya nggak belum serajin itu kok hehe. Waktu itu hari pertama pembukaan saya gunakan untuk registrasi awal, lihat-lihat isi formulir dan persyaratan dokumen yang kira-kira dibutuhkan. Selain itu, saya juga mengecek soal isian (esai) yang harus diisi sebagai syarat lengkap pendaftaran. Begitu melihat bagian esai, saya langsung merasa….ini luar biasa! 😀 Saya nggak akan membocorkan pertanyaannya, tapi satu hal yang ingin saya infokan adalah: you really need to think about this seriously. Karena pertanyaan yang tim IM berikan tidak main-main, bro. Bisa dikatakan, ini pertama kalinya saya menemukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang pastinya dibuat dan dipikirkan teramat matang oleh pembuatnya.

Banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh IM untuk dijawab dalam bentuk esai membuat saya mesti berpikir ulang. Nggak mungkin semua isian formulir yang banyak itu bisa diselesaikan dalam satu hari. Jadilah, saya perlu menyicil mengisinya. Tentu saja bagian yang paling mudah (tapi tetap tidak boleh disepelekan) adalah mengisi informasi tentang data diri, dsb. Sisa waktu sehari itu saya gunakan untuk menyalin pertanyaan esai ke microsoft onenote dan mulai memikirkan jawabannya.

Qadarullah, waktu berlalu teramat cepat, namun saya masih menikmati masa-masa reverse culture shock (alias masa stres balik ke Indonesia), sehingga pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan malah terbengkalai hingga H-sekian penutupan 😅. Dan, saya baru benar-benar melengkapi formulir plus menyalin jawaban esai (sekaligus menjawab pertanyaan yang belum terjawab) di hari terakhir pendaftaran. Oke, jangan dicontoh ya. Bahkan, saya baru menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhir pendaftaran setelah mengecek akun sosmed IM (wow). Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikannya sekian puluh menit sebelum pendaftaran ditutup dengan jawaban yang sesungguhnya menurut saya nggak memuaskan. Fixed, di saat itu saya merasa saya nggak akan lolos seleksi tahap I.

Tips untuk seleksi tahap I:

  • Mantapkan niat. Kalau dari awal niat kita nggak mantap, saya yakin ke depannya dalam menjawab pertanyaan dalam esai akan sulit. Tanya lagi ke diri sendiri: apa sih tujuan daftar IM? Apa sih manfaatnya buat diri sendiri?
  • Minta izin dan doa orang tua. Ini sangat-sangat penting. Akan sangat baik jika izin sudah dikantongi sebelum melakukan pendaftaran tahap I. Tapi, bisa juga sambil jalan sambil merayu orang tua. Saya pribadi, ketika awal orang tua menolak walaupun nggak saklek, jadi saya tetep kekeuh melanjutkan pendaftaran (belajar dari pengalaman daftar-daftar yang lain sebelum ini).
  • Pelajari baik-baik syarat yang diminta, pelajari baik-baik bagian yang harus diisi. Nggak semua isi CV dituangkan ke dalam formulir. Panitia hanya meminta beberapa bagian yang kita anggap paling berarti, jadi pandai pilih-pilih saja.
  • Ingat-ingat lagi pengalaman masa lalu. Ini penting sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam esai.
  • Jujurlah dalam menjawab esai, nggak semua harus terlihat blink-blink. Bisa jadi, kamu nggak pernah kenal apa itu BEM, Himpunan, dan segala macam organisasi kemahasiswaan lain (saya banget ini mah) tapi kamu peduli pada sekitar dan punya kegiatan nyata yang kamu wujudkan. Ya sudah, pede saja menuangkan pengalaman itu. Bahkan pengalaman yang kamu anggap bukan apa-apa, asal kamu benar-benar tulus, insyaallah bisa bantu esaimu. Percayalah, nggak perlu jadi anak hits BEM kok buat daftar IM 🙂
  • Jangan overthinking dalam mengisi esai! Biarkan mengalir saja. Kalau terlalu banyak berpikir dan edit sana sini karena menurutmu esaimu kurang berkilau, malah terkesan nggak natural.
  • Berkenalanlah dengan alumni IM untuk tanya-tanya dan sharing pengalaman. Ini akan membantu sekali. Sekaligus, minta bantuan review esai jika memang yang bersangkutan berkenan.
  • Di bagian akhir formulir (atau mungkin agak tengah ya?) ada bagian orang-orang yang bisa dikontak oleh IM untuk ditanya-tanya tentang kita. Seingat saya ada dua atau tiga nama yang harus kita berikan. Selain nama, kita juga harus memberikan alamat email serta nomor telepon orang-orang tersebut. Untuk itu sebelum submit formulir seharusnya kita sudah bersiap-siap meminta izin kontak yang bersangkutan ketika memuat nama mereka dalam formulir.
  • Banyak-banyak doa dan shalat istikharah 😀

 

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya ngerasa pesimis bisa lolos seleksi tahap I. Oleh karena itulah, saya memutuskan untuk mendaftar magang pada dosen di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Sepanjang proses daftar magang dan menunggu hasil IM, saya selalu berdoa agar dipilihkan salah satu yang terbaik untuk saya (dan agama saya). Alhamdulillah, pengajuan magang saya direspon positif oleh dosen yang bersangkutan dan berangkatlah saya ke Jogja. Saya pikir oh ya sudah, mungkin memang saya nggak akan lolos IM.

Tapi kemudian..beberapa pekan setelah saya di Jogja, saya mendapatkan email dari tim rekrutmen IM yang menyatakan bahwa,..saya lolos seleksi tahap I. Saya shock, bersyukur juga sih karena ternyata formulir saya masih layak diterima 😄

Seleksi Tahap II 

Seleksi tahap II atau direct assessment (DA) ini meliputi tes potensi akademik (TPA), wawancara, tes psikologi, leaderless group discussion, dan simulasi mengajar. Dalam email pemberitahuan dari tim rekrutmen IM terdapat juga daftar nama calon peserta DA IM plus materi pelajaran yang harus disampaikan dalam simulasi mengajar.

Nah, untuk bagian ini pun saya nggak akan cerita detailnya. Tapi intinya, tes yang satu ini seru banget! Sekaligus melelahkan ya haha, karena tes dilakukan sejak pagi hingga hampir sore hari dan hanya istirahat di waktu sholat dhuhur dan makan siang. Lebih seru lagi karena di sini kita akan bertemu dengan teman-teman yang entah mengapa begitu mudah ‘klik’ dengan kita. Teman-teman yang kalau coba kenal lebih jauh mereka, kita akan merasa “Ya ampuun, gue mah apa atuh. Remah rengginag aja lewat. Hidup gue belum sebermanfaat si ituu!” Baru sampai tahap DA saja rasanya sudah dekat dan kenal lama (ehem). Pokoknya seru deh! Kita juga bisa bertemu dengan alumni-alumni IM yang membuat semakin semangat melalui segala proses menuju IM 🙂

Tips untuk seleksi tahap II:

  • Kenali diri sendiri, jadilah diri sendiri. Harus percaya diri dengan potensi yang kamu miliki, nggak perlu terlihat seperti orang yang lain yang super wow.
  • Jujur, lagi-lagi kamu harus jujur. Di sini pengujinya bukan orang sembarangan. Mereka adalah tim assessment yang sudah ahli di bidangnya.
  • Review lagi pengalaman lama yang kamu tuangkan dalam esai.
  • Review lagi dan tanya-tanya lagi ke diri sendiri kenapa dan untuk apa kamu harus daftar IM?
  • Untuk leaderless group discussion, banyak-banyak mencatat, memperhatikan teman lain saat menyampaikan pendapat, dan nggak perlu maksa buat jadi leader. Namanya juga leaderless 😀
  • Doa, doa, doa!

Segitu dulu deh. Insyaallah bersambung di tulisan berikutnya. Semoga…nggak kelamaan sampai blognya jamuran ya haha.

Semoga bermanfaat!

 

Posted in Hujan-Panas

Pindah, Pindah

Kadang saya berharap bisa jadi orang yang highly adaptable. Pindah lokasi ke mana-mana okeoke saja. Tapi kayaknya nanti itu jadi bukan saya sih ya hehe. 

Jadi, tiba-tiba ketika telpon orang tua beberapa hari yang lalu saya dapat kabar cukup mengejutkan. Posisi saya sedang di Jogja dan memang belum berencana pulang dalam waktu dekat. Orang tua bilang, kami sekeluarga (sebenarnya tinggal berempat) pindahan lagi ke rumah lama, rumah orang tua saya yang sudah ditinggalkan selama 8 tahunan. Tadinya kami menempati rumah masa kecil saya, punya emak-mbah. Kontan saja saya kaget, ada apa? Kenapa mesti pindah? Kenapa ketika saya tidak ada di rumah? Mungkin sih memang ada sebab tertentu atau sangat urgent sampai akhirnya kami harus pindah, tapi ibuk mewanti-wanti agar tidak terlalu dipikirkan. Ya saya nggak mikir banget sih, tapi rasanya tetap sedih. Saya sudah tinggal di sana selama 4/5 hidup saya, setiap kali pulang saya menemui rumah yang sama. Tiba-tiba ketika nanti pulang, saya harus berhadapan dengan hal yang baru. Rasanya, hmm…

Posted in Hujan-Panas

Jangan Jauhi Kami

Bagaimana sih rasanya ketika kamu merasa nggak salah apa-apa tapi tiba-tiba dijauhi? Atau tiba-tiba jadi bahan gosipan di belakang? Atau tanpa peringatan tiba-tiba ‘disembur’ kemarahan seseorang?

Rasanya tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. 

Kadang aku menggerutu, merasa orang-orang yang dianugerahi kepekaan dan kelembutan hati yang dengan mudahnya paham kalau tingkah lakunya tidak disukai orang itu amat beruntung. Beruntunglah mereka, yang segera paham dan ‘klik’ dengan perubahan sikap lingkungan sekitar ketika ia melakukan kesalahan. Dan apa aku, kami, harus mengatakan kalau kami kurang beruntung karena tidak sepeka itu? Sering tidak sadar kalau orang-orang sudah berubah kesal. Hmm.

Sayangnya, seringkali kutemui orang-orang yang malah menjauhi alih-alih menasihati kalau-kalau kami-kami ini salah. Atau yang tiba-tiba ngejudge dan berlaku sinis, bahkan ngegosip di belakang. Ujung-ujungnya, terasa menyakitkan karena kami mendengar kebencian mereka akan kesalahan kami lewat orang kesekian. 

Duh pleaseee, jangan jauhi kalau ada sikapku yang kamu nggak suka. Bisa jadi aku ini terlampau tidak peka dengan perubahan mimik mukamu. Jangan jauhi kami kalau kami berbuat dosa, nasihati kami, empat mata, barangkali kami sedang alpa. 

Kalau kita memang benar berteman, ya.


Allahumma shayyiban nafi’an, Jogja sedang diguyur hujan 🙂

Posted in Hujan-Panas

Jangan Jauhi Kami

Bagaimana sih rasanya ketika kamu merasa nggak salah apa-apa tapi tiba-tiba dijauhi? Atau tiba-tiba jadi bahan gosipan di belakang? Atau tanpa peringatan tiba-tiba ‘disembur’ kemarahan seseorang?

Rasanya tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. 

Kadang aku menggerutu, merasa orang-orang yang dianugerahi kepekaan dan kelembutan hati yang dengan mudahnya paham kalau tingkah lakunya tidak disukai orang itu amat beruntung. Beruntunglah mereka, yang segera paham dan ‘klik’ dengan perubahan sikap lingkungan sekitar ketika ia melakukan kesalahan. Dan apa aku, kami, harus mengatakan kalau kami kurang beruntung karena tidak sepeka itu? Sering tidak sadar kalau orang-orang sudah berubah kesal. Hmm.

Sayangnya, seringkali kutemui orang-orang yang malah menjauhi alih-alih menasihati kalau-kalau kami-kami ini salah. Atau yang tiba-tiba ngejudge dan berlaku sinis, bahkan ngegosip di belakang. Ujung-ujungnya, terasa menyakitkan karena kami mendengar kebencian mereka akan kesalahan kami lewat orang kesekian. 

Duh pleaseee, jangan jauhi kalau ada sikapku yang kamu nggak suka. Bisa jadi aku ini terlampau tidak peka dengan perubahan mimik mukamu. Jangan jauhi kami kalau kami berbuat dosa, nasihati kami, empat mata, barangkali kami sedang alpa. 

Kalau kita memang benar berteman, ya.


Allahumma shayyiban nafi’an, Jogja sedang diguyur hujan 🙂

Posted in Hujan-Panas

Hai Jogja.

​nggak salah memang, saya bisa belajar banyak (walaupun progressnya lambat) dari merantau. ketemu sama orang-orang baru dengan karakter beda-beda, saya jadi harus rajin latihan memberikan kalimat perkenalan, latihan mikir topik obrolan yang nggak mengarah ke kepo. saya yang pemalu (iya po?) jadi harus mupuk rasa percaya diri sering sering biar nggak kesasar, nggak jajan kemahalan, atau malah mati gaya karena gak tau harus ke mana sama siapa dan ngapain.

.
di perantauan yang entah berapa lama kali ini pun saya jadi belajar banyak hal lagi, jadi bisa merasakan macam-macam rasa lagi. nano-nano. ketemu teman lama yang lama nggak ketemu, menyenangkan meskipun aslinya canggung, aneh; tinggal di tempat yang belum terbayang sebelumnya; benar-benar jadi anak kosan yang antara pasrah dan kepikiran ntar makan atau gak makan; melihat dengan mata kepala sendiri sebagian wujud penelitian sains di negara sendiri; terjebak galau antara sungkan dan butuh..banyak lah. intinya, hidup saya jadi nggak statis. jadi lebih banyak diingetin buat sabar dan syukur juga (praktiknya sih..hemmm). alhamdulillah

.
dan soal tempat tinggal..walaupun saya agak rewel soal privasi dan lebih sering pengen punya space sendiri (kadang suka bad mood kalo kudu tinggal lama di tempat minim privasi) pada kenyataannya saya malah nggak terlalu happy dengan kosan yang super sepi ini.

 
alhamdulillah masih bisa gangguin orang rumah, nelpon-nelpon, mendengar mereka mengkhawatirkan yang sebenarnya gak perlu dikhawatirkan. walaupun, kalau kelamaan jadi bingung juga mau ngomong apa.

.
alhamdulillah masih ada temen-temen yang suka ngajak main, antar-jemput, walaupun jarang banget pake planning (dan saya harus beradaptasi dengan gaya begitu).

.
alhamdulillah masih ada lepi yang bisa dipakai nyetel murottal biar nggak sunyi-sunyi ngeri, bikin adem hati lagi.

.
mungkin ya yang perlu saya cari tahu sekarang – sebagaimana ketika ada di tempat rantauan yang dulu – kenapa Allah menempatkan saya di tempat kayak gini? 

.
semoga sih yang kali ini berapapun durasinya bisa jadi bagian dari kenangan stres-stres-ngangenin.

.

.

.

.
jogja, ternyata udah akhir tahun 2016.

.

.

.

.

.

*random yang kepanjangan

*rantau mengajarkanmu banyak hal

*sabtubersamannisa

*setahun lalu daurah tokyo

*mood swing membunuhmu

Posted in Tuna Wisma

Selalu Salah, Selalu Kurang

Mungkin, mungkin aja ya kalau ayam di belakang rumah bisa ngomong, kalau hape di tangan bisa protes, kalau laptop bisa nyindir, mereka bakal kompak bilang, “Kamu tuh maunya kok nggak habis-habis sih.”

Iya, nggak habis-habis. Banyak komplain sedikit syukurnya. Dikasih kuliah sarjana eh di tengah-tengah ngeluh lelah maunya nikah. 

Dikasih merantau yang kata orang “seru bangeet ya bisa..(you know lah)..” maunya pulang aja cuma gara-gara gak ada emak dan makanannya kurang enak. 

Dikasih pulang selamat penuh sambutan suka cita akhir-akhirnya masih ngerasa kurang juga, ngerasa salah lihat teman lain sudah S2, bahkan ada yang ke luar negeri pula sementara diri sendiri malah pilih pulang kampung yang belum jelas nasibnya.

Dikasih ketemu emak dan makanan enak setiap hari masih juga salah, entah apalagi salahnya kali ini.

Selalu aja kurang, selalu aja salah. Selalu aja, syukurnya kurang. Selalu aja ngerasa perlu mengalahkan si anu atau melebihi si itu. Sampai lupa, diri sendiri sedari kemarin atau kemarin kemarin belum dikalahkan juga. Hah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kamu pasti ngerti, bahwa waktu luang itu pedang. (Nggak nyambung sama tulisan utamanya ya)

Posted in Tuna Wisma

Mata yang Jelalatan

Nyatanya – semakin nyata ketika berkurang kesibukan – menundukkan pandangan itu nggak cuma terhadap lawan jenis yang berpotensi menebar ketertarikan di dada. 

Tapi juga, pada isi kresek punya tetangga, pada busana necis milik saudara, pada…feeds bertabur suasana musim dingin negara empat musim, makanan (kelihatan) enak yang dipotret a la bird eye view, atau semacamnya. 

Ternyata, tukang quote di media sosial nggak bohong. Teman duduk terbaik adalah buku. Bukan Instagram, Path, atau Facebook. Setidaknya, untuk pemilik hati-hati yang takut membawa angan panjang, iri, dan dengki ketika mati.

Mungkin terlalu lebay kalau judulnya jelalatan. tapi ya sudahlah 😀



Ternyata, saya belum bisa jadi peserta ODOP maupun ODO-ODO yang lain. Betapa bahagianya orang-orang yang konsisten dalam kebaikan :’)

Posted in Rupa-rupa

Anak-anak Sejuta Bintang

“..Hayo, coba tiga kali lima berapa? Kalian kelas berapa sih sekarang?”

“Kelas tiga! ..Ehm..(berpikir sejenak)… dua puluh?”

“Dua puluh?! Coba dihitung lagi, tiga kali empat kan dua belas, kalau tiga kali lima berarti dua belas ditambah tiga kan..? Nah, dua belas ditambah tiga berapa?”

“Hm.. enam belas ya, Miss?”

“…..”

Perkenalkan, inilah les-lesan Sejuta Bintang milik kakak sepupu saya, dilengkapi guru-guru perempuan yang biasa dipanggil Miss. Murid-murid Sejuta Bintang berasal dari sekolah-sekolah pinggiran daerah sekitar Dadaprejo dan Dau dengan berbagai tingkat kelas dari SD hingga SMP. Jam belajar di Sejuta Bintang dimulai dari pukul 4 sore hingga maghrib. Dan inilah saya, terserah bagaimana kalian memanggil saya, freshgraduate yang baru saja dipanggil Miss oleh anak-anak.

Disclaimer: Saya tidak tahu nama les-lesannya apa, jadi saya namakan sendiri Sejuta Bintang sesuai kisah di dalamnya.

Continue reading “Anak-anak Sejuta Bintang”

Posted in Hujan-Panas, Nippon

Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ

Jika Allah sudah berkehendak, sesulit apapun jalan di depan kita pasti bisa terlewati. Lalu, apakah kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk melewatinya? #ntms

Tulisan ini masih lanjutan dari sini.

Saya nggak pernah menyangka saya lolos dalam semua tahap seleksi beasiswa ILA empat tahun lalu dengan izin Allah. Beberapa waktu setelah  dinyatakan lolos tahap wawancara dengan pemberi beasiswa, kami langsung diminta mempersiapkan seluruh dokumen untuk melakukan pendaftaran ke universitas yang telah ditentukan. Jadilah, di tengah-tengah persiapan SBMPTN saya nyambi ngurus-ngurus dokumen beserta buntutnya. Continue reading “Dari Tangsel ke Nagoya #2: Drama Interview Nagoya Univ”